Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kitab Ma’rifatut Tasawwuf, Jejak Karya Kiai Haji Hasan Efendi

Zulqarnain RB • Sabtu, 7 Maret 2026 | 20:53 WIB

Photo
Photo

BATULICIN - Ahmad Fuady memperlihatkan Kitab Ma’rifatut Tasawwuf karya ayahnya, Kiai Haji Hasan Effendi, pada Ahad (15/2). Kertasnya sudah menguning. Huruf-huruf hasil ketikan mesin tik masih terbaca jelas, meski tintanya mulai memudar. 

Beberapa teks berbahasa Arab tampak ditulis dengan tangan. Ayat, hadis, dan kutipan ulama dicantumkan langsung oleh Kiai Hasan di sela-sela teks yang sudah diketik. Di halaman pengantar, tertulis tanggal 26 Mei 1991.

Itulah waktu ketika kitab tersebut dirampungkan. Kitab yang berarti Mengenal Ilmu Tasawuf itu menjadi bahan ajar di Majelis Taklim Nurul Islam, Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir. Majelis taklim itu didirikan Kiai Hasan sejak 1990.

Kegiatannya rutin dihadiri jemaah, baik laki-laki maupun perempuan dari berbagai pelosok desa. Anak bungsu Kiai Hasan itu menyebut Kitab Ma’rifatut Tasawwuf disusun sebagai pegangan bahan ajar dalam majelis, agar materi yang diajarkan terarah dan tak melompat-lompat.

Isi kitabnya mengikuti kerangka yang lazim dalam disiplin ilmu tasawuf. Dimulai dari pengertian, tujuan, hingga hakikat tasawuf. Kitab itu ditulis dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami masyarakat awam. Kiai Hasan terlebih dahulu meletakkan dasar-dasar pemahaman sebelum membawa pembaca memasuki tahapan pembinaan batin.

Pada bagian berikutnya, pembahasan bergerak lebih praktis. Ia menjelaskan latihan-latihan batin dan fase-fase yang harus dilalui seorang salik. Tahap awal dimulai dari hal-hal yang paling mendasar, seperti menjaga kebersihan diri dari najis dan hadas, menjauhi dosa, serta memelihara anggota tubuh seperti mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki agar tidak terjerumus pada maksiat.

Setelah itu, pembinaan berlanjut ke wilayah yang lebih dalam, yakni pembersihan penyakit hati. Sifat-sifat seperti hasad, riya, ujub, takabur, dan cinta dunia berlebihan disebut sebagai penghalang perjalanan spiritual. Pada tingkat terakhir, tasawuf dipahami sebagai proses mensucikan hati secara menyeluruh hingga orientasi hidup sepenuhnya tertuju kepada Allah.

Tradisi menulis Kiai Hasan tumbuh dari pengalaman hidupnya yang akrab dengan dunia pendidikan dan dakwah. Ia lahir pada 27 Juli 1954 di Banua Hanyar Sungai Pandan, Alabio, dari keluarga guru mengaji. Sejak kecil ia belajar membaca Alquran kepada kedua orang tuanya. 

Keterbatasan ekonomi sempat membuat pendidikannya terhenti, tetapi ia melanjutkan belajar dengan cara mengaji duduk kepada para tuan guru. Ia menempuh pendidikan PGA (Pendidikan Guru Agama) Nahdlatul Ulama Banjarmasin dan sempat melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah IAIN Antasari.

Kariernya sebagai guru dimulai pada 1977, ketika diangkat sebagai pegawai negeri dan ditempatkan di Pagatan. Sejak itu, namanya dikenal bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga mubalig yang aktif berdakwah di Tanah Bumbu dan sekitarnya.

Karier birokrasi yang dijalaninya juga terus menanjak. Pada awal 2000-an, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Pendidikan Nasional Kecamatan Batulicin. Namun jabatan struktural itu tak membuatnya menjauh dari dunia dakwah. 

Pada 2006, ia memilih meninggalkan jabatan tersebut karena ingin fokus mengabdi di Pondok Pesantren Al-Kautsar di Kecamatan Satui. Pesantren itu didirikan oleh Habib Sholeh Al-Iderus, sahabat sekaligus guru Kiai Hasan. Tanpa banyak pertimbangan, Kiai Hasan menyatakan kesediaannya selepas diminta Habib Sholeh. “Abah sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat, red),” ujar Fuady. 

Keputusan itu sempat mengejutkan Bupati Tanah Bumbu saat itu, Zairullah Azhar. Pada masa-masa awal berdirinya Kabupaten Tanah Bumbu, Zairullah disebut ingin mendorong Kiai Hasan menduduki jabatan Kepala Dinas Pendidikan. 

Menurut Fuady, Zairullah bahkan sampai melobi Habib Sholeh agar mengizinkan Kiai Hasan menerima jabatan tersebut. Namun upaya itu tak membuahkan hasil. Kiai Hasan juga tetap pada pendiriannya. 

Ia mengatakan, Kiai Hasan juga pernah ditawari menjabat sebagai Camat Satui oleh Zairullah. Namun tawaran itu kembali tak diambil setelah Habib Sholeh tidak mengizinkannya. Ia kemudian sepenuhnya memimpin Pondok Pesantren Al-Kautsar. “Kalau jadi camat, nanti sibuk mengurus tambang ilegal di Satui aja. Pondok pesantren bisa tidak terurus,” kata Fuady menirukan nasihat Habib Sholeh kepada sang ayah.

Kedekatan Kiai Hasan dengan Habib Sholeh sendiri bukan sekadar hubungan organisatoris, melainkan ikatan guru dan murid yang telah terjalin lama. Kiai Hasan memandang Habib Sholeh sebagai rujukan spiritual sekaligus tempat bermusyawarah dalam banyak urusan dakwah. 

Karena itu, setiap keputusan penting, termasuk soal jabatan dan pengabdian, selalu ia timbang dengan adab kepada gurunya. Hubungan itulah yang membuat ajakan Habib Sholeh untuk memimpin pesantren merupakan panggilan yang sulit ia abaikan.

Pandangan itu berakar pada didikan orang tua dan pendidikan yang membentuk sikap Kiai Hasan terhadap ahlulbait Nabi Muhammad. Dalam sejumlah pengajian, Kiai Hasan juga kerap menekankan pentingnya menjaga adab kepada Rasulullah dan keluarganya.

Sikap tersebut pun tertuang dalam Ma’rifatut Tasawwuf. Di sana, ia menjelaskan bahwa mencintai ahlulbait berarti merawat sanad keilmuan, menjaga adab, serta menempatkan diri sebagai penuntut ilmu yang sadar akan asal-usul ajaran yang diterimanya.

Selama memimpin Al-Kautsar, selain mengajar, Kiai Hasan juga menetapkan kurikulum dan memperkuat fondasi kelembagaan pondok. Ia juga memasukkan pendidikan formal ke dalam lingkungan pesantren.

Dalam beberapa kesempatan, Kiai Hasan menyampaikan bahwa ilmu agama dan ilmu umum tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan dalam satu lingkungan pendidikan.

Pada 18 Juli 2018, Kiai Hasan wafat, menyusul gurunya Habib Sholeh, yang telah berpulang setahun sebelumnya. Selain Ma’rifatut Tasawwuf, Kiai Hasan juga meninggalkan sejumlah karya lain, antara lain Ikhtisar Ilmu Tauhid, Fiqhul Ibadah, Bimbingan Manasik Haji Praktis, dan Kumpulan Doa Belajar. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari warisan keilmuan yang Kiai Hasan ajarkan selama puluhan tahun.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Tanah Bumbu #Ulama Kalsel #Literasi Kalsel