TANJUNG – Tepatnya tahun 2001, Kitab Ad Durun Nafis atau Mutiara yang Indah, karangan Syekh Muhammad Nafis Al Banjari mulai dicetak dalam versi berbeda dengan aslinya.
Pemerintah Kabupaten Tabalong menurunkan tim Forum Komunikasi Silaturahmi Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Foksika PMII) Kabupaten Tabalong untuk melaksanakannya. Masa itu, Bupatinya Noor Aidi.
Salah satu ustaz yang ditugaskan menulis kitab versi berbeda, Ahmad Surkati menerangkan, versi tersebut tidak menghilangkan makna isinya, hanya alih bahasa. “Dari Bahasa Arab Melayu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia,” terangnya.
Tim kitab yang ditulis dalam bahasa Indonesia itu beranggotakan 13 orang ulama, dengan buku 106 halaman. Tidak diartikan kata per kata, namun per kalimat. Dengan semua yang dilakukan, kitab tersebut menjadi mudah dipelajari.
Ustaz yang kini tengah menyelesaikan gelar doktor di Universitas Islam Negeri Antasari itu menegaskan, kita tersebut tidaklah boleh belajar tanpa guru pembimbing.
Guru dimaksudnya ialah, harus memiliki keilmuan berjenjang hingga ke sang pengarangnya. Yaitu Syekh Muhammad Nafis Al Banjari. “Ilmu dalam kitab ini sudah masuk ke dalam ilmu hakekat, tasyawuf kelas tinggi,” tegasnya.
Jika telah mendapatkannya, Surkati memperkenankan belajar menggunakan kitab lainnya, untuk dijadikan pembanding. Agar ilmu yang didapat lebih mendalam. Memahami Kitab Ad Durun Nafis akan membuat manusia bebas merdeka. Tidak lagi terikat dengan apa dan siapa. Hanya bergantung pada Allah SWT. Tidak yang lain.
Makanya, kitab syekh keturunan Kesultanan Banjar itu dicekal penjajah Belanda untuk diajarkan ke masyarakat, karena membangkitkan perlawanan dengan jihad fisabillah. “Itu siasat Belanda, karena mereka takut,” terangnya.
Dari semua isi kitab, Surkati mengaku ada satu kalimat yang membuatnya antusias untuk ikut mengalihbahasakannya. Yaitu, Syuhudul kasro ti filwahdati atau memandang yang banyak di dalam yang satu.
Artinya, beribadah seakan melihat Allah. Pandangan itu bisa dilihat dari semua ciptaannya yang benar-benar luar biasa, sehingga membawa kita untuk mengembalikan semua itu kepada Allah. “Jadi manusia akan merdeka. Merasakan betul kehadiran Allah,” imbuhnya.
Kini, kitab alih bahasa dan tafsir kitab Ad Durun Nafis telah banyak diperjualbelikan di tengah masyarakat. Meski penerbitnya tidak hanya dari Pemkab Tabalong, melainkan ulama lainnya. Bahkan hingga ke luar negeri.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief