30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 5 February 2023

TAHULAH PIAN

Menebus Bayi dari Tangan Bidan

ORANG Martapura mengenal tradisi Bapalas Bidan. Ritual ini dilaksanakan setelah kelahiran seorang anak. Niatnya, keluarga membalas jasa seorang bidan yang telah menolong persalinan.

“Upacara syukurannya digelar sekitar tujuh hari setelah sang ibu melahirkan anaknya. Setelah tali pusat si anak telah terputus,” kata Muhammad Noval.

Sebagai Wakil IV Nanang Kabupaten Banjar, ia meneliti dan mendalami budaya di sekitar masyarakat Martapura. “Sewaktu saya lahir, orang tua saya juga melakukannya,” ungkapnya.

Tentu tak hanya ditujukan kepada si bidan. Bapalas Bidan juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah.

Sebab si ibu telah melahirkan anaknya dengan selamat, sehat dan tanpa cacat. Namun, Noval melihat ada perbedaan antar daerah.

Baca Juga :  Menilik Pembuatan Gelang Khas Kalimantan: Ternyata Sepupu Kupiah Jangang

Di suatu daerah, seorang bidan akan dilimpahi hadiah berupa beras, ayam, sebiji kelapa, rempah, dan bahan menginang atau menyirih.

“Tapi kalau saya dulu memberi bidannya dengan pakaian, tapih (sarung), dan uang. Hadiah kepada bidan ini dikenal juga dengan sebutan piduduk,” jelasnya.

Menurut kepercayaan masyarakat yang ia kutip, sebelum Bapalas Bidan, anak yang dilahirkan masih menjadi milik bidan.

“Dengan Bapalas Bidan, artinya mereka telah ‘menebus’ bayi dari tangan bidan,” ujarnya.

“Memang tradisi ini tak hanya dikenal di tanah Banjar,” ujarnya. Sebab prosesi serupa juga dikenal oleh masyarakat Dayak Meratus.

Diakuinya, ritual ini memang berasal dari tradisi sebelum kedatangan Islam. Namun, sewaktu terjadi Islamisasi, tradisi ini tidak lantas dilarang.

Baca Juga :  Darimana Asal Mamanda?

Namun, kebiasaan yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam, sedikit demi sedikit ditinggalkan.

“Perbedaannya dahulu menggunakan mantra-mantra. Setelah Islam datang, disisipkan dengan bacaan Al-Quran dan selawat nabi,” pungkasnya. (dza/gr/fud)

ORANG Martapura mengenal tradisi Bapalas Bidan. Ritual ini dilaksanakan setelah kelahiran seorang anak. Niatnya, keluarga membalas jasa seorang bidan yang telah menolong persalinan.

“Upacara syukurannya digelar sekitar tujuh hari setelah sang ibu melahirkan anaknya. Setelah tali pusat si anak telah terputus,” kata Muhammad Noval.

Sebagai Wakil IV Nanang Kabupaten Banjar, ia meneliti dan mendalami budaya di sekitar masyarakat Martapura. “Sewaktu saya lahir, orang tua saya juga melakukannya,” ungkapnya.

Tentu tak hanya ditujukan kepada si bidan. Bapalas Bidan juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah.

Sebab si ibu telah melahirkan anaknya dengan selamat, sehat dan tanpa cacat. Namun, Noval melihat ada perbedaan antar daerah.

Baca Juga :  Kisah di Balik Tradisi Baarak Naga

Di suatu daerah, seorang bidan akan dilimpahi hadiah berupa beras, ayam, sebiji kelapa, rempah, dan bahan menginang atau menyirih.

“Tapi kalau saya dulu memberi bidannya dengan pakaian, tapih (sarung), dan uang. Hadiah kepada bidan ini dikenal juga dengan sebutan piduduk,” jelasnya.

Menurut kepercayaan masyarakat yang ia kutip, sebelum Bapalas Bidan, anak yang dilahirkan masih menjadi milik bidan.

“Dengan Bapalas Bidan, artinya mereka telah ‘menebus’ bayi dari tangan bidan,” ujarnya.

“Memang tradisi ini tak hanya dikenal di tanah Banjar,” ujarnya. Sebab prosesi serupa juga dikenal oleh masyarakat Dayak Meratus.

Diakuinya, ritual ini memang berasal dari tradisi sebelum kedatangan Islam. Namun, sewaktu terjadi Islamisasi, tradisi ini tidak lantas dilarang.

Baca Juga :  Kesaktian Masukkiri Bugis Pagatan

Namun, kebiasaan yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam, sedikit demi sedikit ditinggalkan.

“Perbedaannya dahulu menggunakan mantra-mantra. Setelah Islam datang, disisipkan dengan bacaan Al-Quran dan selawat nabi,” pungkasnya. (dza/gr/fud)

Trending

Haul Guru Sekumpul

Dapatkan update terkini berita tentang Haul ke-18 Guru Sekumpul tahun 2023

Sejarah Kelam Hotel Tengah Kota

Bagaimana Kota Lama Menjadi Ramai?

Asal Usul Pulau Datu

Kisah Datu Taniran

Berita Terbaru

Tata Cara dan Filosofi Bapalas Bidan

Sejarah Sarang Halang

Riwayat Sengketa Tanah Kelayan