alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 8 October 2022

Kisah Desa Telaga Bidadari di HSS

KANDANGAN – Penduduk Desa Telaga Bidadari sekarang berjumlah sekitar 1.800 jiwa. Nama desa ini diambil dari sebuah legenda.

Konon, pada malam-malam tertentu, kolam di desa itu menjadi tempat pemandian para bidadari.

Sekretaris desa Sri Ayu Martini familiar dengan cerita ini karena dikisahkan turun temurun oleh para orang tua.
Ayu menceritakan, dahulu kala ada seorang pemuda gagah bernama Awang Sukma.

Pergi mengembara, langkah Awang terhenti di sebuah hutan. Dia kemudian membangun sebuah rumah pohon di sana.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Sekian lama tinggal di sana dengan damai, Awang diberi gelar Datu. Artinya diangkat menjadi penguasa setempat.

Sudah menjadi kebiasaan Datu Awang untuk berjalan berkeliling. Hingga ia berhenti di depan sebuah telaga yang airnya bening dan dingin.

Telaga itu juga rindang, diteduhi oleh pepohonan. Membuatnya betah meniup seruling di sana.

Suatu hari, permainan serulingnya terhenti ketika mendengar keramaian dari arah telaga. Dari sela-sela batu, Datu Awang mengintip.

Baca Juga :  Dorrr..!! Nelayan Daha Selatan di HSS Kena Peluru Nyasar Polisi

Betapa kagetnya ia melihat tujuh gadis cantik sedang bermain air. Salah satu selendang gadis itu dicuri Datu Awang.

Tapi ketika Datu Awang berlari menjauh, ia tak sengaja menginjak sebilah ranting hingga patah. Mendengar itu, kerumunan bidadari ini menyadari ada yang mengintip.

Mereka bubar dan naik kembali ke atas Kayangan. Tapi tertinggal seorang. Tanpa selendangnya ia tak bisa terbang.

Ketakutan karena tak terbiasa sendirian, Datu Awang keluar untuk menolong. Tentu sambil berpura-pura sebagai pejalan kaki yang kebetulan lewat.

Bidadari ini ternyata seorang putri bungsu. Singkat cerita, keduanya menikah. Melahirkan seorang bayi yang diberi nama Kumalasari.

Pada suatu hari, seekor ayam hitam masuk ke lumbung padi. Si putri bungsu coba mengusirnya.

Matanya kemudian tertuju pada sebuah tabung bambu. Di sana, ia menemukan selendang ajaib miliknya yang pernah hilang.

Baca Juga :  Sosok KH Idham Chalid, Pahlawan Kalsel yang Muncul dalam Uang Kertas Baru

Rupanya, selama ini ia dibohongi oleh suaminya. “Sekarang, saatnya bagiku untuk kembali,” ujarnya membulatkan tekad.

Menyadari kesalahannya, Datu Awang meminta maaf. Tapi perpisahan tak lagi terhindarkan.

“Ketika anak kita merindukanku, ambil tujuh biji kemiri. Masukkan ke dalam keranjang dan digoyang-goyang. Saya pasti akan datang,” pesannya.

Datu Awang kemudian bersumpah, melarang anak keturunannya bertenak ayam hitam yang dicapnya sebagai pembawa bencana.

Anda tidak percaya? Sekali lagi, ini cuma legenda.

Tapi bagi sebagian pengunjung, kolam ini kerap didatangi orang yang menyimpan hajat tertentu. Mereka yang sedang mencari kerja, menanti jodoh atau ingin diberi keturunan.

Warga Desa Telaga Bidadari, Ruswandi menceritakan, kolam ini dulunya tak memiliki pagar. “Baru sekitar tahun 1997 atau 1998 diberi pagar beton besar,” tuturnya.

“Airnya tidak pernah mengering. Pada malam Jumat, kerap tercium bau harum dari sini,” imbuhnya. (shn/gr/fud)

KANDANGAN – Penduduk Desa Telaga Bidadari sekarang berjumlah sekitar 1.800 jiwa. Nama desa ini diambil dari sebuah legenda.

Konon, pada malam-malam tertentu, kolam di desa itu menjadi tempat pemandian para bidadari.

Sekretaris desa Sri Ayu Martini familiar dengan cerita ini karena dikisahkan turun temurun oleh para orang tua.
Ayu menceritakan, dahulu kala ada seorang pemuda gagah bernama Awang Sukma.

Pergi mengembara, langkah Awang terhenti di sebuah hutan. Dia kemudian membangun sebuah rumah pohon di sana.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Sekian lama tinggal di sana dengan damai, Awang diberi gelar Datu. Artinya diangkat menjadi penguasa setempat.

Sudah menjadi kebiasaan Datu Awang untuk berjalan berkeliling. Hingga ia berhenti di depan sebuah telaga yang airnya bening dan dingin.

Telaga itu juga rindang, diteduhi oleh pepohonan. Membuatnya betah meniup seruling di sana.

Suatu hari, permainan serulingnya terhenti ketika mendengar keramaian dari arah telaga. Dari sela-sela batu, Datu Awang mengintip.

Baca Juga :  Anggrek Supardi Primadona HST

Betapa kagetnya ia melihat tujuh gadis cantik sedang bermain air. Salah satu selendang gadis itu dicuri Datu Awang.

Tapi ketika Datu Awang berlari menjauh, ia tak sengaja menginjak sebilah ranting hingga patah. Mendengar itu, kerumunan bidadari ini menyadari ada yang mengintip.

Mereka bubar dan naik kembali ke atas Kayangan. Tapi tertinggal seorang. Tanpa selendangnya ia tak bisa terbang.

Ketakutan karena tak terbiasa sendirian, Datu Awang keluar untuk menolong. Tentu sambil berpura-pura sebagai pejalan kaki yang kebetulan lewat.

Bidadari ini ternyata seorang putri bungsu. Singkat cerita, keduanya menikah. Melahirkan seorang bayi yang diberi nama Kumalasari.

Pada suatu hari, seekor ayam hitam masuk ke lumbung padi. Si putri bungsu coba mengusirnya.

Matanya kemudian tertuju pada sebuah tabung bambu. Di sana, ia menemukan selendang ajaib miliknya yang pernah hilang.

Baca Juga :  Ada Kompleks Makam Belanda di Kotabaru

Rupanya, selama ini ia dibohongi oleh suaminya. “Sekarang, saatnya bagiku untuk kembali,” ujarnya membulatkan tekad.

Menyadari kesalahannya, Datu Awang meminta maaf. Tapi perpisahan tak lagi terhindarkan.

“Ketika anak kita merindukanku, ambil tujuh biji kemiri. Masukkan ke dalam keranjang dan digoyang-goyang. Saya pasti akan datang,” pesannya.

Datu Awang kemudian bersumpah, melarang anak keturunannya bertenak ayam hitam yang dicapnya sebagai pembawa bencana.

Anda tidak percaya? Sekali lagi, ini cuma legenda.

Tapi bagi sebagian pengunjung, kolam ini kerap didatangi orang yang menyimpan hajat tertentu. Mereka yang sedang mencari kerja, menanti jodoh atau ingin diberi keturunan.

Warga Desa Telaga Bidadari, Ruswandi menceritakan, kolam ini dulunya tak memiliki pagar. “Baru sekitar tahun 1997 atau 1998 diberi pagar beton besar,” tuturnya.

“Airnya tidak pernah mengering. Pada malam Jumat, kerap tercium bau harum dari sini,” imbuhnya. (shn/gr/fud)

Trending

Van Der Pijl, Perancang Kota Banjarbaru

Sejarah Kelam Hotel Tengah Kota

Bangunan Tertinggi di HSU

Berita Terbaru

/