28.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 6 June 2023

Detik-Detik Mencekam di Mitra Plaza

Di Banjarmasin pernah terjadi kerusuhan politik besar, yang kemudian dikenang sebagai Jumat Kelabu. Tragedi ini terjadi pada 23 Mei 1997 silam. Momen dimana putaran terakhir kampanye Golkar diadakan.

Sejumlah bangunan-bangunan ikonik di Banjarmasin menjadi sasaran amukan kerusuhan. Tak terkecuali Mitra Plaza, mal pertama di Banjarmasin.

03-Wedding-Package-favehotel-Banjarbaru-2023

Mitra Plaza adalah pusat perbelanjaan pertama di Kota Seribu Sungai. Didirikan pada tahun 1990, terdiri dari empat lantai dengan penyewa-penyewa dari brand terkenal, baik nasional dan internasional.

Pada lantai dasar terdapat perkantoran, salah satunya kantor Bank Bumi Daya (BBD), lantai 1 digunakan untuk tempat penjualan pakaian. Sementara lantai 2 terdapat swalayan Hero, toko buku Gramedia, restoran cepat saji CFC dan bioskop. Di lantai 3 terdapat diskotek, kedai kopi, tempat hiburan, biliar dan sebagainya.

Mal di Jalan Pangeran Antasari ini pernah dibakar habis dalam kerusuhan Banjarmasin 1997. Tepatnya setelah magrib, massa melancarkan aksi dengan membakar genset dan mobil di Mitra Plaza.

“Dalam sekejab api berkobar dan melalap bangunan yang saat itu terisi oleh para penjarah,” tutur Syafrudin, anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) Banjarmasin. Syafrudin kala itu bertugas sebagai tim komunikasi kampanye.

Menurut lelaki 63 tahun itu, hawa panas dan tanda-tanda kerusuhan sudah terasa sejak sebelum tengah hari. Aktivitas kampanye sudah berjalan sejak pagi. Di saat yang sama tampak sejumlah massa yang disinyalir memiliki sensitivitas terhadap parpol ini berkumpul di sejumlah titik.

“Massa telah berkumpul di simpang 4 Pangeran Antasari, petugas aparat sampai menembakkan gas air mata untuk membubarkan,” tuturnya, yang saat itu sedang berpatroli.

Situasi yang kian menegangkan, membuat pengelola Mitra Plaza mengambil keputusan untuk tutup lebih awal. Pukul 11.30 Wita, Mitra dalam keadaan kosong. “Tidak ada aktivitas perbelanjaan lagi di sana,” ujar Udin.

Di sisi lain, atas persetujuan dari manajemen di Jakarta, pimpinan TB Gramedia memutuskan untuk menutup toko. Karyawan diminta segera meninggalkan lokasi kerja. Semua pulang, dengan catatan tidak memakai atribut PPP mana pun.

Baca Juga :  Jangan Panggil Dayak Meratus dengan Sebutan Dayak Bukit

Kerusuhan besar pun dimulai selepas salat Jumat. Mulanya, massa dari berbagai arah berkumpul pada satu titik di depan kantor DPD Golkar Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat. “Beruntung saya dan kawan-kawan dari Orari yang bertugas memang tidak memakai atribut Golkar sejak awal, jadi terhindar dari amukan massa,” bebernya.

Kerusuhan itu juga menyasar sejumlah tempat di jalan tersebut. Hingga suasana semakin kalut. Massa merusak dan membakar mobil-mobil pribadi yang ditemui di jalan raya mana saja dan menjarah isinya.

Di depan Mitra Plaza, petugas mulai menutup jalanan dan membuat pagar betis untuk melindungi kompleks pertokoan itu. Namun ribuan massa tidak terbendung.

Mereka merangsek ke depan, merusak pagar betis petugas, memecahkan kaca-kaca etalase, masuk ke dalam gedung, dan menjarah apa saja yang bisa diambil. Gas air mata yang disemprotkan petugas, namun tidak mampu menahan mereka.

Massa terus mengamuk dan mengobrak-abrik isi gedung. Pada saat itu tersiar kabar bahwa pasukan keamanan diperbolehkan untuk menangkap dan menembak di tempat, tetapi pasukan keamanan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, massa yang lengkap dengan berbagai senjata tajam itu terus mengamuk.

“Pas magrib, dibakarlah genset mitra yang membuat gedung ini dilalap api,” tutur Udin. Di sisi lain bangunan, sebuah sedan putih didorong dan ditabrakkan ke kaca etalase Toys Kids di lantai dasar, sebelum akhirnya mobil itu dibakar. Api segera menyebar ke seluruh gedung.

“Jadi ratusan penjarah yang membabi buta pada saat itu mati karena terjebak di dalam gedung,” ujarnya. Sebab, terdengar jelas bunyi letupan-letupan mesin-mesin elekronik yang terbakar dari dalam gedung. Asap pun mengepul tebal, api membara, sehingga tak memungkinkan bagi orang yang berada di dalamnya untuk keluar.

Pukul 22.00 WITA, 1.000 orang pasukan bantuan datang dengan tiga pesawat Hercules. Menurut laporan LBHN Banjarmasin itu, tidak diketahui dari mana mereka didatangkan.

Baca Juga :  Ini Bahan Alami Pewarna Kain Sasirangan

Pasukan kemudian bergerak mendekati Gedung Mitra Plaza. Mereka menghalau massa yang masih ada di gedung itu. Senjata menyala, tetapi pihak LBHN Banjarmasin tidak memperoleh informasi berapa korban yang jatuh di sana. “Memang tidak detil jumlah korban yang jatuh di sana, tetapi setahu saya ada lumayan banyak,” ujarnya.

Hingga keesokan harinya, Sabtu pagi, api masih menyala di kompleks Plaza Mitra. Seluruh lantai gedung tersebut masih belum bisa dimasuki. Namun bau sangit dan busuk menyengat hingga ke luar ruangan. Regu penyelamat belum bisa bertindak apa-apa, karena gedung masih diselimuti api dan asap. Evakuasi baru bisa dilakukan sore hari ketika sebagian api sudah padam.

Mitra Plaza yang tadinya tampak megah dan eksklusif, sekejap menjadi mencekam. Kaca-kaca berbahmburan, sebagian sisi hancur, dan menyisakan arang bekas kobaran api.

Mayat yang dievakuasi dari Mitra Plaza dan dari sejumlah tempat kemudian dikumpulkan. Angka laporan jumlah korban ini bervariasi dan tidak sama. Namun, berdasarkan data tim pencari fakta Komnas HAM pada 31 Mei 1997, menyebutkan bahwa perkiraan jumlah korban antara 302 hingga 320 orang.

120 orang diantaranya dikuburkan secara massal dengan tata cara Islam, di Kompleks Pemakaman Landasan Ulin Tengah, Banjarbaru.

Ketidakpastian jumlah korban membuat orang bertanya-tanya. Udin sendiri yakin, jumlah korban bisa jadi lebih banyak dari apa yang tersiar. Bahkan ada rekannya yang keluar untuk melihat situasi saat itu, tak kembali hingga saat ini.

Lantas kemana hilangnya para korban yang “hilang” ? Menurut Udin, ini akan terus jadi misteri.

Jika tak tergabung dalam daftar mayat yang tak teridentifikasi identitasnya, bisa jadi mereka dibuang entah kemana, dan entah oleh siapa. Karena kisah pembuangan mayat santer terdengar kala itu. “Kisah ini cukup pilu untuk dikenang kembali,” tuntasnya. (tia/by/ran)

Jembatan dan Tarif Tol Sungai di Banjarmasin

PEMBANGUNAN infrastruktur sungai di Kota Banjarmasin sudah dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Tepatnya sejak tahun 1898. Ketika CA Kroesen ditunjuk Residen Banjarmasin.

Temui Kami di Medsos:

Terpopuler

Sejarah Kelam Hotel Tengah Kota

Amparan Tatak: Favorit Para Orang Tua

Kisah Datu Taniran

Berita Terbaru