30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 5 February 2023

FEMALE

Melukis Sebagai Terapi

Bagi perupa muda asal Banjarmasin, Innasya Pritama Tania Dewi, melukis adalah bercerita. Sekalian mengistirahatkan diri dari segala lelah.

****

SUARA di seberang telepon terdengar merdu. Tania bilang, dia baru saja kelar kuliah, kemarin (20/1) petang.

Tania sedang tidak berada di Banjarmasin. Dia kembali ke kampusnya di Malang, Jawa Timur.

Saat ini perempuan 19 tahun itu tercatat sebagai mahasiswi Universitas Negeri Malang. Duduk di semester IV, jurusan Desain Komunikasi Visual.

Belum genap 20 tahun, Tania dia sudah tiga kali berpameran.

Dua pameran kolaborasi bersama perupa lain di Kalsel dan satu pameran tunggal. Pameran tunggal itu baru saja digelar pada 9 Januari tadi.

Persisnya di Dharma Coffe, sebuah kedai kopi di kawasan Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur.

Baca Juga :  39 Tahun Aktif Dukung Program KB

Pameran bertajuk ‘Senandika Perempuan’ itu menampilkan sebanyak 17 lukisan.

Mayoritas lukisan yang dipamerkan merangkum kisah yang berkaitan dengan kaum hawa. Mulai dari pergolakan batin, konflik, kasih sayang hingga harapan.

Tania bilang, dia sudah senang menggambar sejak duduk di bangku SD. Menginjak SMA, baru dia berkarya di atas kanvas.

“Sekitar tahun 2017. Kalau menggambar, memang sudah suka sekali sedari kecil,” ungkapnya.

Baginya, melukis adalah tempatnya menuangkan segala hal. Unek-unek, ide, cerita, hingga upayanya melawan rasa lelah.

“Dalam sepekan, saya biasa meluangkan waktu selama dua hari untuk melukis,” ungkapnya.

Maka, seni rupa seolah-olah menjadi bagian dari terapi. “Saya merasa ada ketenangan tersendiri dalam setiap goresan kuas. Saya menikmati prosesnya,” ujarnya.

“Mencampuradukkan cat, membubuhkannnya ke atas kertas atau kanvas,” tambahnya.

Baca Juga :  Putri Tak Takut Sendiri

Tentu terjun ke dunia seni rupa tak semulus yang dibayangkan. Apalagi sejak kecil, Tania selalu didorong untuk pintar akademis.

Beruntung, banyak yang mendukungnya untuk terus berkecimpung di dunia seni rupa.

“Sampai akhirnya keluarga saya juga memberikan dukungan,” kata Wakil V Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2021 itu.

Dalam hal berkarya, Tania punya pesan bagi Anda yang ingin terjun ke dunia seni rupa. Dia bilang, jangan pernah ragu. Berupayalah semaksimal mungkin.

“Jangan takut unjuk gigi, jangan takut dianggap jelek. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi,” pesannya.

Target jangka pendek, Tania ingin menuntaskan kuliahnya. Target jangka panjang, berpameran hingga ke luar negeri.

Sukses selalu, Tania! Ditunggu pameran berikutnya. (war/gr/fud)

Bagi perupa muda asal Banjarmasin, Innasya Pritama Tania Dewi, melukis adalah bercerita. Sekalian mengistirahatkan diri dari segala lelah.

****

SUARA di seberang telepon terdengar merdu. Tania bilang, dia baru saja kelar kuliah, kemarin (20/1) petang.

Tania sedang tidak berada di Banjarmasin. Dia kembali ke kampusnya di Malang, Jawa Timur.

Saat ini perempuan 19 tahun itu tercatat sebagai mahasiswi Universitas Negeri Malang. Duduk di semester IV, jurusan Desain Komunikasi Visual.

Belum genap 20 tahun, Tania dia sudah tiga kali berpameran.

Dua pameran kolaborasi bersama perupa lain di Kalsel dan satu pameran tunggal. Pameran tunggal itu baru saja digelar pada 9 Januari tadi.

Persisnya di Dharma Coffe, sebuah kedai kopi di kawasan Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur.

Baca Juga :  Bahasa Inggris Bagi Anak Tak Mampu

Pameran bertajuk ‘Senandika Perempuan’ itu menampilkan sebanyak 17 lukisan.

Mayoritas lukisan yang dipamerkan merangkum kisah yang berkaitan dengan kaum hawa. Mulai dari pergolakan batin, konflik, kasih sayang hingga harapan.

Tania bilang, dia sudah senang menggambar sejak duduk di bangku SD. Menginjak SMA, baru dia berkarya di atas kanvas.

“Sekitar tahun 2017. Kalau menggambar, memang sudah suka sekali sedari kecil,” ungkapnya.

Baginya, melukis adalah tempatnya menuangkan segala hal. Unek-unek, ide, cerita, hingga upayanya melawan rasa lelah.

“Dalam sepekan, saya biasa meluangkan waktu selama dua hari untuk melukis,” ungkapnya.

Maka, seni rupa seolah-olah menjadi bagian dari terapi. “Saya merasa ada ketenangan tersendiri dalam setiap goresan kuas. Saya menikmati prosesnya,” ujarnya.

“Mencampuradukkan cat, membubuhkannnya ke atas kertas atau kanvas,” tambahnya.

Baca Juga :  39 Tahun Aktif Dukung Program KB

Tentu terjun ke dunia seni rupa tak semulus yang dibayangkan. Apalagi sejak kecil, Tania selalu didorong untuk pintar akademis.

Beruntung, banyak yang mendukungnya untuk terus berkecimpung di dunia seni rupa.

“Sampai akhirnya keluarga saya juga memberikan dukungan,” kata Wakil V Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2021 itu.

Dalam hal berkarya, Tania punya pesan bagi Anda yang ingin terjun ke dunia seni rupa. Dia bilang, jangan pernah ragu. Berupayalah semaksimal mungkin.

“Jangan takut unjuk gigi, jangan takut dianggap jelek. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi,” pesannya.

Target jangka pendek, Tania ingin menuntaskan kuliahnya. Target jangka panjang, berpameran hingga ke luar negeri.

Sukses selalu, Tania! Ditunggu pameran berikutnya. (war/gr/fud)

Memar-Memar, tapi Tidak Kapok

Berawal dari Film Bollywood

Sepekan 3 Kali Keluar Keringat

Trending

Haul Guru Sekumpul

Dapatkan update terkini berita tentang Haul ke-18 Guru Sekumpul tahun 2023

Sepekan 3 Kali Keluar Keringat

Pernah Alami Kapidaraan

Tidak Lekas Berpuas Diri, Terus Gali Potensi

Berita Terbaru

Berawal dari Film Bollywood

Sepekan 3 Kali Keluar Keringat

Sorry, Cinta Nanti Dulu

Konsistensi dan Konsentrasi

LISTEN TO HER!