MARTAPURA - Penggunaan mekanisme rice transplanter mulai diujicobakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Banjar.
Pengujian dilakukan pada kegiatan tanam padi varietas unggul Inpari 32, di lahan percontohan seluas sekitar 2.000 meter persegi.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi tanam sekaligus mendorong produktivitas padi. Lahan percontohan tersebut dimanfaatkan sebagai sarana penerapan teknologi budidaya padi modern yang dapat dilihat langsung oleh petani.
Penanaman dilakukan dengan pola tanam terukur untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih seragam.
Kepala Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Jumiadi, menyebut kombinasi varietas unggul dan alat mesin pertanian menjadi fokus utama pada musim tanam ini.
Menurutnya, pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan metode tanam manual. “Inpari 32 memiliki potensi hasil tinggi dan adaptif di berbagai kondisi lahan. Sementara penggunaan rice transplanter kami dorong agar proses tanam lebih cepat, seragam, dan efisien,” ujar Jumiadi.
Ia menjelaskan, penerapan rice transplanter juga menjadi solusi atas keterbatasan tenaga kerja pertanian di lapangan. “Selain mempercepat waktu tanam, alat ini membantu menekan biaya produksi karena kebutuhan tenaga kerja dapat dikurangi,” ujarnya.
Sedangkan benih Inpari 32, merupakan salah satu varietas padi unggul dengan umur panen relatif genjah dan kualitas gabah yang baik. “Varietas ini dinilai sesuai untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan hasil panen di tingkat petani,” jelasnya.
Melalui lahan percontohan tersebut, pihaknya berharap petani dapat melihat langsung penerapan varietas unggul dan mekanisasi tanam padi. Sehingga teknologi yang diterapkan tidak berhenti di tingkat uji coba, tetapi dapat diadopsi di lahan pertanian masyarakat.
“Upaya ini jadi bagian dari langkah berkelanjutan dalam mendorong pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berdaya saing,” katanya.
Editor : M Oscar Fraby