Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Haul Jama Sultan Suriansyah, Khatib Dayan dan Patih Masih di Kuin Utara

Muhammad Helmi • Sabtu, 15 Oktober 2022 | 13:21 WIB
TRADISI: Aneka kue disajikan di Haul Sultan Suriansyah di kompleks  pemakanan di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara.
TRADISI: Aneka kue disajikan di Haul Sultan Suriansyah di kompleks pemakanan di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara.
BANJARMASIN – Ratusan warga memenuhi Kompleks Makam Sultan Suriansyah  di Kelurahan Kuin Utara, Sabtu (8/10) malam. Mereka menggelar Haul Jama Sultan Suriansyah, Khatib Dayan dan Patih Masih. Acara dikemas dalam Aruh Kuin dan Maaturi Dahar.

Tidak seperti acara haul para tokoh agama lainnya yang bisa dihadiri ribuan, bahkan hingga jutaan orang, dari dalam maupun luar negeri, haul Raja Banjar yang digelar Yayasan Restu Sultan Suriansyah, hanya mengundang warga sekitar.

“Kami hanya mengundang masyarakat sekitar kompleks makam saja. Sekitar 600 orang. Kalau diumumkan pasti lebih banyak lagi,” ungkap ketua yayasan, Syarifudin Nur, Kamis (14/10) pagi.

Maaturi Dahar, jelas dia, merupakan acara syukuran atau selamatan atas karunia iman sejak zaman Raja Banjar pertama, Sultan Suriansyah, memerintah pada 1500-1540. Biasanya diselenggarakan setiap bulan Maulid.

“Aruh Kuin Maaturi Dahar merupakan tradisi keluarga anak tutus zuriat Sultan Suriansyah, Khatib Dayan dan Patih Masih, yang dilaksanakan setiap bulan Maulid,” ujarnya.

Meski begitu, Syarifudin tak mengetahui pasti, haul ke berapa yang diperingati pada tahun ini. Sebab tidak ada data resmi dan otentik yang dapat membuktikan kapan sang sultan mangkat. Yang diketahui umum, sesuai dengan usia Kota Banjarmasin, yaitu ke 496.

“Yang jelas, haul ini dilakukan para Juriat sebagai bentuk penghargaan atas apa yang sudah beliau perjuangkan pada masa itu,” ujarnya.

Menurutnya, Aruh Kuin Maaturi Dahar, hanya ada di Kampung Kuin, khususnya di lingkungan wilayah bekas Keraton Kesultanan Banjar.

“Dulu Aruh Kuin Maaturi Dahar dilaksanakan di rumah-rumah penduduk secara bergantian. Namun, sekarang dipusatkan di kompleks makam Sultan Suriansyah,” sebutnya.

Menurutnya, Maaturi Dahar juga memiliki arti lain, yaitu memberi makan leluhur. Jauh sebelum Islam menyebar di tanah Banjar, ritual ini dulunya juga sarana tolak bala, agar hidup masyarakat tenteram. Dahulu panganan ini disebut sesaji. Biasanya dilarung ke sungai atau laut.

Ritual itu kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam, diisi zikir, selawat dan doa. Panganan yang disajikan yang sebelumnya dilarung ke sungai atau ke laut, sekarang dinikmati bersama.

Tidak banyak orang yang mengetahui, dalam haul ini selalu disajikan dua jenis makanan khas raja Banjar. Namanya Nasi Kebuli dan Cacapan Asam Batanak. Dua jenis makanan ini merupakan favorit Sultan Suriansyah.

Nasi Kebuli yang satu ini berbeda dengan yang biasa dijual orang. Karena bahannya terbuat dari ketan. Begitu pula dengan Cacapan Asam Batanak yang diolah dengan bumbu, kemudian dimakan dengan ikan sepat kering.

Sebelumnya, sambung Syarifudin, juga digelar Baayun Maulid. Tapi karena banyak masukan dari masyarakat, kurang bagus membawa anak balita ke kawasan makam, kemudian acara perlahan ditiadakan.

Baayun Maulid digelar di Masjid Sultan Suriansyah yang letaknya tidak jauh dari Kompleks Pemakaman.

“Acara haul dan Baayun Maulid digabung. Itu ada filosofinya. Pada zaman dulu, ibu-ibu mengayun anaknya pelan sesuai dengan tempo syair yang dilantunkan,” ceritanya. (gmp) Editor : Muhammad Helmi
#Sejarah Kalsel #banjarmasin