Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Musik Underground di Banjarmasin Seperti 'Mati Suri'

Arief • Kamis, 28 Juni 2018 | 19:13 WIB
musik-underground-di-banjarmasin-seperti-mati-suri
musik-underground-di-banjarmasin-seperti-mati-suri

Pentas musik di Kota Banjarmasin mengalami 'mati suri'. Susahnya mengantongi izin konser, harga sewa tempat yang selangit, hingga menguapnya penghargaan masyarakat terhadap musisi lokal menjadi pangkal masalah. Komunitas ini sedang sedang di ujung tanjuk.


Sepuluh tahun lalu menjadi masa paling dikenang Ayub Simanjuntak. Penggerak event-event musik independen dari FnR Project ini merasakan langsung. Membeludaknya penonton konser pentas musik underground di kota ini.


Headbang dan berjingkrak-jingkrak kala konser menjadi perkara lumrah. "Tepatnya tahun 2008, tiap pekan pasti ada event-event. Massanya bisa mencapai 600 orang lebih," kenangnya.


Underground adalah istilah umum. Yang merujuk kepada beragam aktivitas kesenian yang tak terikat sponsor dan menjauhi orientasi uang. "Bahasa simpelnya, kalau nggak ada uang bikin acara musik, kami bisa patungan atau kolektifan bikin event," terang Ayub. Biasanya, acara musik ini diisi oleh grup musik lokal beraliran keras. Layaknya punk, hardcore, dan metal.


Mencari wadah manggung bukanlah urusan ruwet. Sederet kafe, lapangan terbuka, hingga ruang publik seperti taman kota bisa digunakan. Uangnya dari hasil patungan band-band yang bakal naik ke atas panggung. Biasanya, para event organizer (EO) menggunakan Taman Budaya Kalsel dan Lapangan RRI Ahmad Yani.


Dijelaskan Ayub, masa-masa keemasan pentas musik underground berjalan lama dan tanpa hambatan. Bahkan saking ramainya, tidak jarang event-event saling bentrok tanggal.


Selain itu, Bbnyak band-band produktif lahir dengan karya masing-masing. Studio-studio musik pun turut menjamur. "Ada band-band besar seperti New Day Is Over, Born Alive In Chaos, The Rindjink yang digandrungi tahun saat 2008," ingatnya. Banjarmasin benar-benar menjadi kota yang tepat untuk bermusik.


Namun, dua tahun ke belakang: penggerak event musik dan para musisi mulai keteteran. Sejak tahun 2016 sampai sekarang, pentas musik underground mulai dipersulit. Izin dipersulit biaya sewa tempat mahal. Ujung-ujungnya banyak band yang memilih bubar. Namun, tak sedikit yang memilih bertahan "Padahal, tahu saja kami memakai dana patungan," keluhnya.


Sempat beralih manggung di kafe-kafe, tapi kurang berjalan mulus. Penyedianya hanya menyediakan fasilitas akustik. Bisa dihitung jari wadah nongkrong yang menyediakan sound system yang layak. "Itu pun sudah tutup. 2018 benar-benar krisis event musik," tutur Ayub.


Masalah lain muncul. Jika tempat manggung sudah tersedia, para penggerak dan musisi menghadapi persoalan penghargaan masyarakat terhadap musisi lokal yang sedang mengalami krisis. "Para penonton cuma datang saat band-band besar manggung. Kalau band-band lokal, beli tiket pun jarang," kata dia.


Ayub tentu mencoba memahami. Dipersulitnya izin dan mahalnya sewa tempat bisa jadi karena oknum-oknum penonton yang serampangan saat band-band keras tampil. "Perlu dukungan juga dari penonton untuk diedukasi," ujar Ayub.



Cari Siasat Agar Musik Underground Bertahan


Ayub lantas memilih sikap diam saja. Dengan kondisi ini, bersama rekan-rekannya yang lain ia mencoba memaksimalkan media sosial. Untuk melakukan promosi karya dan membuktikan pergerakan musik underground Banjarmasin masih ada. "Daripada tak ada kegiatan karena manggung susah, lebih baik promosi lewat medsos," tukasnya.


Belakangan, pergerakannya sedang menggarap album kompilasi. Memfasilitasi agar band-band lokal tetap berkarya dan bertahan. Album yang diberi nama Maksimultan ini mencoba merangkul band-band dengan aliran bervariatif. Tak cuma dari grup musik beraliran bising. Simultan dalam bahasa simpel artinya serentak. Mereka ingin merangkul seluruh genre tanpa batasan-batasan tertentu.


"Rencana dibuat album fisik. Disebar di Kalimantan Selatan dan luar pulau. Ada sepuluh band yang akan bergabung," ungkapnya. Peluncuran album sendiri bakal dilakukan dalam kurun waktu tahun 2018.


Selain itu, memanfaatkan aplikasi pemutar musik seperti Spotify, Soundcloud, atau iTunes juga oke. Misinya supaya karya-karya tak terkepung dalam daerah saja. "Sudah ada beberapa band yang memanfaatkan fasilitas ini," tandasnya.


Sementara itu, susahnya manggung di kota ini dikeluhkan oleh para musisi lokal. Bassist Born Alive in Chaos, Dani mengeluhkan hal yang sama. "Intinya, nyari tempat untuk acara terutama underground sekarang memang agak terkendala. Paling neraka, para penikmatnya juga sudah berkurang. Yang nonton itu-itu saja," tutur Dani.


Band beraliran metalcore dari Banjarmasin ini sebenarnya sudah menelurkan satu buah album. Diberi judul In The Name of Holy Cube. "Rencana mau merilis album kedua. Isinya lebih mengkritik perkembangan skena musik lokal di Banjarmasin," tuturnya.


Lantas, ditanya apakah band nya bakal bubar kalau kondisinya begini saja? Dani tidak mengiyakan. Sebagai seniman, menurutnya harus tetap berkarya. "Meski sulit. Masih ada teman-teman komunitas yang mendukung untuk tetap bertahan. Intinya kami ngeband buat untuk hobi saja. Persoalannya tempat dan apresiasi saja yang makin minim," tandas Dani. (dom/ma/nur)

Editor : Arief