Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Muhammad Ridho Akbar, menyatakan pihaknya menyikapi kondisi tersebut dengan serius. Menurutnya, penurunan kinerja BRC akibat kerusakan mesin menjadi alarm penting bagi pengelolaan aset di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin.
“Ini bukan sekadar persoalan teknis. Ketika mesin pengolah sampah terganggu, dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Karena itu, pengelolaannya harus benar-benar diperhatikan,” ujar Ridho.
Ia menilai, rusaknya tiga mesin dalam waktu hampir bersamaan patut menjadi bahan evaluasi. DPRD ingin memastikan bahwa sistem pemeliharaan rutin benar-benar berjalan dan mampu mendeteksi potensi kerusakan sejak dini.
“Kami tidak ingin hanya mendengar alasan mesin sudah tua. Yang lebih penting, bagaimana sistem perawatannya. Seharusnya ada deteksi dini sebelum kinerja mesin menurun tajam,” tekannya.
Sebagai langkah tindak lanjut, Komisi III DPRD mendorong DLH untuk segera melakukan audit teknis guna mengetahui secara pasti komponen mesin yang bermasalah beserta kebutuhan anggaran perbaikannya. Proses perbaikan juga diminta dilakukan secepat mungkin dengan memanfaatkan anggaran pemeliharaan yang tersedia secara transparan.
DPRD juga meminta DLH menyampaikan laporan tertulis terkait kronologi kerusakan, langkah penanganan jangka pendek, serta rencana pencegahan ke depan. Hal ini dinilai penting agar persoalan serupa tidak kembali terulang.
“BRC memiliki peran strategis dalam sistem pengelolaan sampah kota. Jika kinerjanya menurun, dampaknya bisa berantai. Kami ingin pelayanan publik tetap berjalan baik dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.
Sementara itu, DLH memastikan proses penanganan sudah berjalan. Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Banjarmasin, Marzuki, mengakui gangguan mesin terjadi sejak akhir 2025.
Ia menjelaskan, secara teknis mesin utama masih dalam kondisi baik. Namun, sejumlah peralatan pendukung memang perlu penggantian.
“Mesinnya secara teknis baik. Tapi peralatan pendukung perlu pergantian. Kami kebut sarana pendukung ini dalam beberapa hari ke depan, sambil menunggu proses pengadaan yang tentu perlu waktu,” jelasnya.
Ia memastikan, meski belum optimal, proses pengolahan sampah tetap berjalan. Saat ini sekitar lima ton sampah per hari masih bisa diproses sambil menunggu perbaikan rampung.
Sejak status darurat sampah diberlakukan, BRC menjadi tulang punggung pengurangan volume sampah kota. Fasilitas ini mampu mengolah sekitar 30 hingga 40 persen total sampah tertinggi dibandingkan unit pengolahan lainnya.
Editor : M Oscar Fraby