Kartini hari ini, di tahun 2025, masih berjuang melawan kekerasan seksual dan budaya patriarki di dunia kerja.
****
BANJARMASIN – Puluhan mata tertuju ke layar lebar yang terpasang di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, Rabu (23/4) malam.
Tampak seorang perempuan Jawa berkebaya sederhana berjalan anggun di tengah pekarangan. Dialah Raden Ajeng Kartini, yang pergi seabad silam.
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dalam keluarga bangsawan. Tetapi, kemewahan itu justru membelenggunya.
Ketika beranjak remaja, ia dipingit, seperti tradisi yang berlaku bagi perempuan ningrat kala itu. Namun, ia memutuskan melawan dengan pena dan kertas.
Lewat surat-suratnya kepada sahabat pena dari Belanda, Kartini menumpahkan kegelisahannya terhadap budaya patriarki yang mengekang perempuan Indonesia.
Kartini memimpikan dunia di mana perempuan bisa belajar, bekerja, dan menentukan masa depannya sendiri. Cita-cita itu menjadi warisan yang abadi, sampai hari ini.
Setelah layar mini menutup cerita tentang Kartini, suasana berubah menjadi diskusi yang hangat.
Dua perempuan duduk di depan: anggota Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hafizah dan jurnalis perempuan, Soraya Al-Hadi yang peduli terhadap isu kesetaraan gender.
Mereka berbicara tentang makna Hari Kartini di era modern. "Hari Kartini di masa kini adalah tentang keberanian perempuan untuk bersuara dan menuntut ruang yang aman. Dalam konteks melawan kekerasan seksual, semangat Kartini hadir ketika korban tak lagi diam, dan ketika institusi negara mulai menciptakan lingkungan bebas kekerasan," kata Hafizah.
Perempuan modern mesti mewarisi nyala perjuangan Kartini, meski medan perjuangannya kini lebih luas.
"Dulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan. Sekarang kita melawan diskriminasi, kekerasan berbasis gender, dan stereotip yang mengakar. Semangatnya tetap sama: perempuan berhak bermimpi dan berdaya atas hidupnya."
Tantangan utama yang dinilainya dihadapi perempuan saat ini, yaitu budaya diam dan stigma terhadap korban.
"Banyak korban takut melapor karena khawatir disalahkan atau tidak dipercaya. Edukasi yang minim dan mekanisme penanganan yang belum sensitif gender juga menjadi kendala besar," ujarnya.
Satgas PPKS ULM, lanjut Hafizah, kini aktif menyosialisasikan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2021, membuka kanal pengaduan yang aman, serta menggandeng organisasi mahasiswa untuk meningkatkan edukasi.
"Kami berharap pemerintah memperkuat regulasi yang berpihak pada korban dan memastikan pelaksanaan UU TPKS (tindak pidana kekerasan seksual) berjalan optimal," imbuhnya.
Kepada peserta diskusi, Hafizah memberi pesan agar tidak takut memperjuangkan nilai yang diyakini.
"Jangan pernah merasa perjuangan kita terlalu kecil. Suaramu penting. Belajarlah setinggi mungkin, bersuara selantang mungkin, dan tetap lembut tanpa kehilangan ketegasan."
Sementara Soraya melihat Hari Kartini sebagai simbol kebebasan berpikir dan berpendapat. "Hari Kartini mengingatkan saya untuk terus mencari tahu dan menebarkan pengetahuan lewat tulisan," ujarnya.
Ia melihat bahwa perjuangan kesetaraan di dunia jurnalisme masih panjang. "Jumlah jurnalis perempuan memang meningkat, tetapi kesetaraan tidak hanya soal angka. Akses yang sama dengan jurnalis laki-laki adalah kebutuhan utama," kata anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Banjarmasin itu.
Soraya menambahkan, AJI terus mendorong kesetaraan hak bagi jurnalis perempuan. Namun ada sejumlah tantangan. "Keselamatan dan keamanan saat bertugas juga menjadi isu penting. Banyak jurnalis perempuan menghadapi risiko ini," katanya.
Soraya berharap media dapat membuka perspektif masyarakat tentang pentingnya ruang inklusif. "Media harus terus menyuarakan isu-isu yang dihadapi perempuan, termasuk kekerasan seksual. Fungsi media adalah untuk edukasi dan kontrol sosial," tutupnya.
Diskusi ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (Himapem) FISIP ULM. Pesertanya mahasiswa ULM, mahasiswa Politeknik Banjarmasin, anggota Ikatan Mahasiswa Banjarmasin, dan warga.
Ketua pelaksana acara Septian Yudi Pratama mengatakan diskusi digelar untuk merefleksikan perjuangan Kartini.
Sebab, semangat Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk memiliki lebih banyak ruang dalam berekspresi dan berkarya.
"Sekarang kita mesti berterima kasih kepada Kartini. Berkat perjuangan beliau, perempuan kini mempunyai lebih banyak ruang untuk berekspresi. Harapannya, semangat ini terus dijaga, sehingga dapat melahirkan Kartini-Kartini baru di masa mendatang," kata Septian.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief