Oleh: M Ramli Arisno
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin
PEMBANGUNAN stadion bertaraf internasional di Banjarbaru sering dilihat sekadar sebagai proyek olahraga. Padahal, makna strategisnya jauh melampaui lapangan sepak bola.
Stadion adalah infrastruktur ekonomi yang menciptakan pusat keramaian baru, tempat manusia berkumpul, bertransaksi, dan memproduksi nilai ekonomi.
Dalam logika pembangunan modern, ruang yang mampu mengumpulkan puluhan ribu orang secara periodik bukan sekadar fasilitas publik, melainkan mesin perputaran ekonomi.
Jika kemudian sempat ada kritik yang muncul, saya rasa itu biasanya berangkat dari asumsi klasik, bahwa stadion adalah proyek mahal yang hanya menguntungkan segelintir elite olahraga.
Asumsi ini lahir dari cara pandang lama yang memisahkan olahraga dari ekonomi. Padahal dalam ekonomi perkotaan modern, stadion justru berfungsi sebagai pemicu aktivitas ekonomi yang menjalar ke sektor lain, seperti UMKM, transportasi, perhotelan, hingga industri kreatif. Artinya, nilai stadion tidak berhenti pada bangunan, tetapi pada ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
Jika stadion hanya dilihat dari angka anggaran Rp1 triliun, maka kesimpulan bahwa proyek ini “mahal” terasa logis. Tetapi logika itu menjadi rapuh ketika tidak menghitung efek ekonominya. Infrastruktur publik memang selalu bekerja dengan logika jangka panjang.
Jalan tol, bandara, bahkan pelabuhan juga mahal pada awalnya. Namun setelah beroperasi, fasilitas tersebut justru menciptakan arus ekonomi yang nilainya jauh melampaui biaya pembangunan awal.
Namun tetap harus ada pertanyaan rasional yang perlu diajukan. Misalnya, apakah stadion otomatis menciptakan kesejahteraan? Jawabannya tidak selalu. Banyak stadion di berbagai daerah yang justru menjadi bangunan megah tanpa aktivitas.
Artinya, keberhasilan stadion tidak hanya ditentukan oleh konstruksinya, tetapi oleh manajemen ekosistemnya. Tanpa kalender event yang hidup, integrasi dengan UMKM, serta konektivitas kawasan, stadion hanya akan menjadi monumen beton.
Di sinilah prinsip pembangunan modern bekerja. Infrastruktur bukan sekadar fisik, tetapi sistem. Stadion Banjarbaru berpotensi menjadi pusat gravitasi ekonomi baru karena posisinya dekat bandara, berada di kawasan berkembang, dan dirancang sebagai kompleks sport center.
Jika dikelola dengan visi ekonomi kawasan, stadion dapat menjadi katalis yang mempercepat pertumbuhan UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan.
Karena itu, pertanyaan sebenarnya bukan lagi pada “perlukah stadion dibangun”, tetapi “bagaimana stadion dijadikan mesin ekonomi rakyat”. Infrastruktur yang mampu mengumpulkan puluhan ribu orang secara rutin selalu menciptakan pasar baru.
Jika dikelola dengan benar, stadion Banjarbaru bukan sekadar tempat pertandingan sepak bola, melainkan pusat perputaran ekonomi Banua. Dan dalam ekonomi modern, tempat orang berkumpul selalu berubah menjadi tempat uang berputar.
Karenanya, bangunan stadion mungkin berdiri dari beton, tetapi nilainya sesungguhnya lahir dari keramaian manusia yang menghidupkannya. (*)
Editor : Arief