Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dramaturgi CEO yang Sedang Menyamar

admin • Senin, 2 Maret 2026 | 21:00 WIB

Nasrullah
Nasrullah

          Oleh: Nasrullah
          Antropolog dan Dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi

Kata-kata “Jangan-jangan dia adalah CEO yang sedang menyamar” yang sedang populer saat ini. Berawal dari drama vertikal, drama pendek atau mikrodrama yang sebagian besar merupakan produksi dari China (Kompas.id, 2/11/2025) hingga drama Barat yang ditonton melalui gawai.

Daya tarik drama pada sang CEO (Chief Executive Officer) sebagai pemimpin tertinggi perusahaan yang menyembunyikan identitasnya (hidden identity) demi tujuan personal. Namun, seorang CEO tidak mengasingkan diri di tempat terpencil di tengah hutan, di tepi pantai, atau di pulau kecil di tengah samudera. CEO hidup di tengah keramaian dengan menyamar sebagai masyarakat kelas bawah yang didera kemiskinan.

Drama ini menarik ditelaah terutama isu identitas yang sangat fundamental dalam antropologi. Menggunakan dramaturgi untuk menelaah isi cerita ketika individu mengelola kesannya di panggung depan (front stage) dengan menyembunyikan jati dirinya di panggung belakang (backstage).

Identitas Semu di Panggung Depan

Alasan utama CEO menyamar adalah ia merasa mudah mendapatkan apresiasi dari orang lain. Padahal baginya hanyalah karena ketertarikan materialistis belaka jika menunjukkan jati dirinya. Menggunakan pengelolaan kesan sebagaimana pendekatan dramaturgi Goffman, CEO melakukan pertunjukan identitas semu di panggung depan (front stage) dengan cara menyamar sebagai orang biasa.

Sebenarnya, identitas semu tokoh utama bukanlah hal baru di berbagai film. Misalnya, dalam film Cinderella, sang Putra Mahkota menyamar sebagai pemburu. Sebaliknya, Cinderella yang orang biasa menyamar sebagai putri yang menggunakan kuda kencana mendatangi pesta kerajaan. Akhirnya keduanya bersatu sebagai pasangan suami istri karena memiliki karakter yang sama.

Film Hannah Montana: The Movie yang diperankan Miley Cyrus sebagai Hanah Montana tokoh utama, berkamuflase sebagai seorang penyanyi pop terkenal di kota besar, menyamar sebagai gadis remaja di kawasan peternakan, kampung kelahiran orang tuanya.

Demikian pula dalam film  Nada-Nada Rindu, Rhoma Irama sebagai aktor utama melakukan menyembunyikan identitas aslinya sebagai Raja Dangdut. Zulfikar menjadi alternatif ego sang tokoh sebagai penyanyi dangdut dari kampung. Akhirnya, Rhoma Irama membongkar kedok kejahatan, pengkhianatan, serta mendapatkan kembali cintanya. Tiga film ini sekalipun menjadi pusat perhatian penonton, tetapi tidak bertahan lama karena digantikan oleh film lain dengan topik berbeda.

Kembali kepada CEO yang menyamar sebagai orang biasa cenderung berada pada kondisi ekstrem dalam pandangan publik atau lingkungan domestik. Ada CEO yang berperan sebagai suami yang tak berguna dan disia-siakan istrinya; sebaliknya, ada pula istri yang dianggap tidak terpelajar sehingga diabaikan suaminya.

Ada juga sebagai pekerja kasar, tenaga konstruksi, tukang kebun, tukang bersih kamar belakang (janitor). Inilah risiko bagi CEO yang sedang menyamar karena menempatkan dirinya pada jurang pemisah yang begitu lebar. Ada si kaya raya bergelimang harta dan kekuasaan dengan si miskin yang serba kekurangan sehingga mengundang cercaan, makian, dan berbagai perundungan.

CEO mengalami mobilitas vertikal dari tinggi ke rendah, yakni status sosial kelas atas turun drastis ke kelas bawah. Status kamuflatif inilah yang diinginkan sang CEO. Melalui kamuflase, ia berjuang mendapatkan apresiasi orang lain atas dirinya yang tidak berorientasi pada kepentingan ekonomi yang disebut “gold digger” atau semata-mata berorientasi kekayaan.

Pribadi Berkualitas  dari Panggung Belakang

Keberhasilan penyamaran didapatkan apabila ada orang yang memberikan apresiasi tulus kepada sang CEO yang terlihat kumal, compang-camping, tidak berguna, bahkan pemalas. Mungkin tujuan penyamaran ini memberikan kesan seperti pepatah jangan menilai buku dari sampul atau berlian tidak akan kehilangan nilainya meskipun terkubur dalam lumpur.

Klimaks drama yang selalu ditunggu adalah ketika sang tokoh memperlihatkan identitas aslinya di panggung belakang (backstage). Namun, untuk sampai ke situ, ada transisi dari penyamaran sebagai orang biasa ke identitas asli sebagai CEO. Mula-mula ada tirai waktu dan jarak yang memisahkan identitas sebagai CEO dan sebagai orang biasa.

Sang CEO menampakkan identitas asli ketika terpisah jarak, misalnya ketika di luar rumah, ketika aktor pura-pura pergi ke tempat kerja yang sebenarnya pergi ke kantor perusahaan, dan lain sebagainya. Situasi ini menempatkan aktor utama dalam identitas ganda (multiple identity) yang berubah-ubah sebagai CEO dan identitas semu sebagai orang biasa.

Permainan ketegangan muncul ketika identitas asli hampir diketahui. Guna menjaga kedok identitas semu, sang aktor berupaya melakukan akting untuk menutupinya. Ia bisa saja mengatakan bahwa ia adalah sopir, dan yang menjadi bos adalah anak buahnya sendiri.

Momentum kejujuran muncul ketika CEO menampilkan identitas aslinya di panggung belakang dengan menyibak tirai pemisah. Sang CEO berusaha meyakinkan orang yang dianggap dekat, seperti istri atau suami, orang tua atau anak, hingga kekasih, untuk kembali ke kehidupan yang berkecukupan.

 Ada tiga hal sebagai penutup artikel ini. Pertama, tayangan drama vertikal CEO yang sedang menyamar menjadi orang biasa dapat membuat penonton terbuai dalam imaji realitas. Padahal hanyalah sebuah drama belaka dan bukan pula reality show. Kedua, daya tarik drama CEO yang sedang menyamar pada keberpihakan terhadap masyarakat biasanya melalui representasi kehidupan pekerja keras, pekerja kasar, mereka miskin dan terjerat rentenir.

Ketiga, CEO berupaya mendapatkan kualitas seseorang melalui penyamarannya. Secara metodologis dalam antropologi disebut observasi partisipan. Jadi, meskipun hanya sebuah drama vertikal, siapa tahu di sekeliling kita terdapat CEO yang sedang menyamar dan mungkin dia adalah Anda yang sedang membaca artikel ini.  (*)

 

Editor : Arief
#Opini #drama