Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ketika Anak-Anak Senang Bersama

admin • Sabtu, 7 Februari 2026 | 13:24 WIB
Teguh Pamungkas
Teguh Pamungkas

            Oleh: Teguh Pamungkas
            Penyuluh Keluarga Berencana
            Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan

Kesukaan anak-anak itu bermain. Bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-harinya. Selain sekolah, di saat membuka pintu rumah sebenarnya anak mau mengenal dunia luar di mana ingin bermain dengan sesamanya. Dari sanalah, saat bermain bersama teman-teman, mereka belajar bersosial. Memahami kehadiran teman sebaya, tetangga dan lingkungan. Pada saat itu pula, ia seraya mengasah empati terhadap hadirnya orang lain.

Bagi kita yang menjalani masa anak-anak dahulu, bermain dengan teman sebaya adalah suatu kebiasaan. Bahkan sering terjadi di mana teman sebaya dari kakak atau adik juga menjadi teman bermain kita pula.

Dan ketika itu, anak-anak dengan kreatif membuat mainan-mainan yang bermodalkan dari bahan alam. Atau barang-barang di sekitar dari barang yang tak terpakai atau bekas. Dengan menggunakan alat-alat yang sederhana terciptalah mainan yang sangat menarik yang dibuat bersama-sama.

Dari kerikil atau biji asam jawa, mainan dakon atau congklak dimulai. Dengan sentuhan tangan yang lincah, biji dimasukkan mengelilingi lubang-lubang bundar sebanyak 14 lubang kecil dan dua lubang besar. Ada pula anak yang mengukir batang pohon diolah menjadi gasing. Selain itu, botol air mineral dan kulit jeruk bali yang disulap menjadi mainan mobil-mobilan. Kaleng bekas dan pelepah pisang sebagai media bermain masak-masakan ala koki.

Ketika libur atau pulang sekolah tanda kebebasan bermain datang. Merasa sesuka hati bisa bermain bersama teman-teman. Sesekali pulang ke rumah di sela-sela bermain ketika perut lapar atau kehausan, selepas itu kembali ke arena bermain. Bersama teman-teman bermain di tempat lapang dan sawah, di tempat bermain itu juga muncul berbagai permainan-permainan.

Di tempat yang luas permainan gobak sodor, engklek dan bentengan sering diadakan. Suara riuh ramai canda tawa mengiringi permainan, sungguh menyenangkan bermain bersama teman-teman.

Seiring waktu lambat laun permainan-permainan rakyat (baca; tradisional) mulai tergeser berganti permainan -yang katanya- modern. Pun saat memasuki libur sekolah tak nampak anak-anak yang bermain. Seandainya ada pun dimainkan oleh segelintir anak-anak yang ada di desa, mereka yang tinggal di perkotaan kurang begitu mengenal permainan itu. Bagaimana dengan permainan petak umpet, lompat tali karet dan egrang? Bernasib sama, kini menjadi sebuah permainan yang langka.

Saling melengkapi

Ibarat dua sisi mata uang, kehidupan anak tak bisa lepas antara belajar dan bermain. Sekolah sebagai wadah mengembangkan daya nalar untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan memperkaya wawasan.

Sementara, bermain sebagai miniatur kehidupan anak. Bermain bukan hanya untuk mengisi waktu kosong saja, tetapi bermain sebagai sarana mengasah kepekaan sosial. Di dalamnya berisikan kepuasan lahir dan batin, karena bermain bersama merupakan wahana untuk mengenal sesama dan melatih kebersamaan diri dalam suatu kelompok. Hal yang terpenting dari bermain bersama adalah semakin mengasah budi untuk bisa menghargai orang atau pihak lain.

Aktivitas bermain mempunyai peran penting untuk anak-anak. Bermain juga mengantarkan pada psikologis yang sehat, karena di dalamnya terdapat aspek rekreasi, refreshing serta dapat menyalurkan energi dan kreativitas anak. Ketika anak tengah menikmati bermain, maka akan timbul perasaan senang, bahagia, rileks, semangat dan rasa keterikatan emosional serta persaudaraan pada teman bermainnya.

Namun apa yang terjadi jika aktivitas bermain tak lagi bersama teman atau kelompok? Di mana alat permainan seperti gasing dan gathik jarang lagi dipegang anak-anak. Kini yang ditangan anak-anak berganti gawai, playstation dan remot kontrol. Padahal jenis mainan tersebut lebih pada permainan individu yang tidak melibatkan teman untuk bermain.

Memang seiring memasuki era teknologi, mulai bermunculan permainan anak yang berbasis teknologi pula. Mungkin bagi beberapa orangtua mengganti mainan tradisional dengan mainan terkini adalah hal yang lumrah, orangtua menganggap wajar terjadi karena bagian dari tuntutan zaman.

Sebenarnya esensi bermain adalah sejauh mana kehidupan anak terlibat dalam keluarga dan lingkungan sosial. Yang perlu dicermati misalnya bagaimana perilaku anak sebelum berkenalan dengan gawai ia senang bermain mobil-mobilan dan petak umpet bersama adik dan teman-temannya di pelataran rumah. Ada pula anak yang biasanya bermain sepeda keliling di jalan perumahan, kini ia memilih di rumah dan bermain game dari handphone.

Alangkah baiknya selagi libur atau pulang sekolah, anak-anak dipersilakan bermain bersama teman-temannya. Biarkan ia belajar kehidupan bermasyarakat, karena manusia selalu membutuhkan interaksi sosial dengan siapa pun dan di mana pun. Tak terkecuali, termasuk anak-anak yang memerlukan keseimbangan antara belajar dan bermain.

Peran orangtua dan warga sebagai pengontrol saat anak bermain di rumah dan di lingkungan masyarakat. Karena di balik aktivitas bermain dengan sesama, bahwasanya anak sedang banyak belajar sekaligus mengajarkan tentang kebersamaan dan berbagi dengan orang lain.

Pun dalam bermain sarat adanya nilai-nilai kebaikan untuk perkembangan pribadi anak. Melalui bermain ia mengetahui etika dalam pergaulan, mengemban sikap jujur dan bisa lebih menghargai kehadiran orang lain. (*)

Editor : Arief
#Anak #keluarga #Opini #BKKBN