Oleh: Dr. H. Hasbullah, S.Ag., M.H.I
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin
Dalam tradisi Islam, alam bukan sekadar tempat manusia hidup. Alam adalah kitab terbuka, ayat-ayat yang terlihat (al-ayat al-kawniyyah). Ia bicara tanpa suara, mengingatkan manusia dengan caranya sendiri. Dalam Al-Qur’an, banyak kaum terdahulu dihancurkan bukan melalui perang atau wabah, tetapi oleh bencana alam banjir, badai, tanah longsor, petir, panas ekstrem, hingga burung-burung kecil yang membawa batu.
Cerita-cerita ini bukan dongeng, melainkan ibrah pelajaran bagi manusia lintas zaman. Setiap kehancuran dalam kisah Al-Qur’an selalu berkaitan dengan perilaku manusia: kesombongan, ketidakadilan, kerusakan moral, serta pengabaian terhadap keseimbangan alam. Karena itu, isu bencana tidak semata persoalan geografi dan ekologi, tetapi juga memiliki dimensi teologis dan etis. Alam tidak hanya “rusak”, tetapi juga “menegur”.
Dalam konteks masa kini, ketika dunia diguncang banjir bandang, badai ekstrem, gelombang panas, gempa bumi, dan krisis iklim, kisah-kisah Qur’ani tersebut terasa semakin relevan. Bukan karena setiap bencana modern harus dipahami sebagai hukuman Tuhan, melainkan karena manusia modern kerap mengulangi pola kesalahan yang sama dengan umat-umat terdahulu: eksploitasi alam tanpa kendali, keserakahan ekonomi, dan kesombongan peradaban. Al-Qur’an menghadirkan narasi kehancuran sebagai cermin agar manusia membaca sebab, bukan sekadar meratapi akibat.
Kisah pertama adalah banjir besar pada umat Nabi Nuh. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun, namun mayoritas tetap menolak kebenaran. “Maka mereka ditimpa banjir besar, karena mereka orang-orang zalim” (QS. al-‘Ankabut: 14). Banjir dalam ayat ini bukan sekadar peristiwa alam, tetapi puncak dari kezhaliman kolektif: pembangkangan moral, penindasan sosial, dan pengingkaran terhadap peringatan.
Pesan ekologis dari kisah ini sangat kuat. Kehancuran kolektif tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui akumulasi kerusakan yang dibiarkan. Dalam realitas kontemporer, banjir besar di berbagai wilayah termasuk Indonesia sering kali berkaitan langsung dengan degradasi lingkungan: rusaknya daerah aliran sungai, deforestasi, dan tata ruang yang abai pada keberlanjutan. Dengan demikian, banjir tidak selalu dapat dipahami sebagai “takdir alam”, melainkan sebagai konsekuensi logis dari tindakan manusia.
Kisah kedua adalah kehancuran kaum ‘Ad, yang dibinasakan oleh angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari (QS. al-Ḥaqqah: 6–7). Kaum ‘Ad dikenal sebagai peradaban maju, kuat, dan membanggakan kemampuan teknologi bangunannya. Namun kemajuan itu melahirkan kesombongan kolektif. Mereka merasa tidak membutuhkan Tuhan dan meremehkan batas-batas alam.
Angin topan yang menghancurkan kaum ‘Ad menjadi simbol rapuhnya peradaban yang dibangun di atas kesombongan. Dalam konteks modern, meningkatnya badai ekstrem dan cuaca tidak menentu memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tanpa etika ekologis justru memperbesar risiko kehancuran. Kesombongan ekologis merasa mampu menaklukkan alam sering kali berakhir pada ketidakberdayaan manusia di hadapan kekuatan alam itu sendiri.
Kisah ketiga adalah kehancuran kaum Nabi Luth, yang ditimpa suara keras dan guncangan dahsyat hingga negeri mereka dibalikkan (QS. al-Ḥijr: 73–76). Al-Qur’an menggambarkan kehancuran ini sebagai akibat dari penyimpangan moral dan penolakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kerusakan sosial yang dibiarkan mengakar menjadikan peradaban rapuh dari dalam, sehingga ketika guncangan datang, kehancuran tidak terelakkan.
Dalam konteks masa kini, bencana gempa bumi dan tanah longsor sering kali diperparah oleh kelalaian manusia sendiri. Tata ruang yang serampangan, bangunan yang mengabaikan standar keselamatan, serta lemahnya pengawasan memperbesar korban dan kerusakan. Para pemikir klasik seperti Ibnu Khaldun telah lama menegaskan bahwa peradaban runtuh bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga akibat dekadensi moral, ketimpangan sosial, dan melemahnya solidaritas kolektif. Dengan kata lain, keruntuhan ekologis kerap berjalan seiring dengan keruntuhan sosial.
Kisah keempat adalah kehancuran kaum Madyan, umat Nabi Syu‘aib, yang dikenal curang dalam takaran dan membangun sistem ekonomi yang menindas (QS. al-Ḥajj: 44). Ketidakadilan ekonomi dalam kisah ini berujung pada bencana yang menghancurkan tatanan hidup mereka. Al-Qur’an menegaskan bahwa kezhaliman sosial korupsi, eksploitasi, dan penipuan memiliki dampak ekologis yang nyata.
Relevansi kisah ini tampak jelas dalam realitas kontemporer Indonesia. Konflik agraria, pembakaran hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam sering kali berakar pada ketimpangan ekonomi dan lemahnya penegakan hukum. Kebakaran hutan dan banjir yang berulang bukan semata akibat faktor alam, melainkan hasil dari keputusan politik dan ekonomi yang mengabaikan keadilan sosial serta keberlanjutan lingkungan.
Refleksi kisah-kisah Qur’ani tersebut menemukan konteksnya dalam bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatra. Curah hujan ekstrem memang tidak dapat dihindari, tetapi bencana terjadi karena hutan hulu rusak, daerah resapan hilang, dan tata ruang diabaikan. Al-Qur’an menegaskan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia” (QS. ar-Rum: 41). Ayat ini menempatkan manusia sebagai bagian dari sebab, bukan sekadar korban.
Islam juga mengajarkan bahwa tidak setiap musibah adalah azab. Sebagian musibah merupakan ujian untuk menguatkan iman, sebagian menjadi rahmat penghapus dosa, dan sebagian berfungsi sebagai peringatan agar manusia kembali kepada jalan yang benar. Karena itu, menyederhanakan bencana sebagai hukuman Tuhan semata justru mengaburkan pesan etik yang lebih penting: kewajiban manusia untuk berbenah dan memperbaiki relasi dengan alam.
Dalam perspektif Islam, kerusakan lingkungan adalah dosa ekologis. Manusia diciptakan sebagai khalifah—penjaga bumi, bukan penguasa mutlak. Merusak hutan, mencemari air, dan mengeksploitasi alam tanpa batas berarti mengkhianati amanah Ilahi serta mengorbankan hak generasi mendatang.
Pada akhirnya, alam selalu berbicara. Ia menyampaikan pesan melalui banjir, angin, panas, dan gempa. Kisah-kisah Al-Qur’an mengajarkan bahwa kehancuran peradaban sering kali merupakan cermin dari perilaku manusia sendiri. Jika manusia menjaga bumi, bumi akan menjaga manusia. Namun jika manusia terus merusaknya, alam akan mengembalikan kerusakan itu dengan caranya sendiri. Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendasar, apakah kita mau mendengar sebelum terlambat? (*)
Editor : Arief