Oleh: Muhammad Itsbatun Najih*
Aneka persiapan penyelenggaraan ibadah haji oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah dimulai. Dari seragam baru jemaah, perekrutan petugas haji, hingga jadwal pelunasan ONH. Namun, ada satu hal yang kiranya masih kurang dan mengganjal. Yakni, tema haji. Pada tahun-tahun sebelumnya, tema haji yang paling membekas ingatan adalah Haji Ramah Lansia --mengingat jumlah jemaah lansia tergolong besar. Lantas, apa tema haji yang kiranya relevan hari ini?
Saban 28 November, kita selalu memperingatinya sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Peringatan yang dicanangkan sejak tahun 2008 tersebut merupakan tindak lanjut peringatan Hari Pohon Sedunia tiap 21 November. Diwartakan, dalam rentang seminggu ini, pelbagai komunitas masyarakat, instansi pemerintah, dan korporasi beramai-ramai melakukan penanaman batang pohon. Gerakan hijau macam ini terbilang urgen sebagai tanggung jawab moral dan langkah konkret atas pelbagai kerusakan lingkungan yang kian parah.
Tak terkecuali dan lebih-lebih disorongkan adalah para haji. Pak Haji dan Bu Haji; baik yang sudah berhaji, masih dalam daftar masa tunggu, dan yang akan berangkat tahun depan, semestinya turut pula mengambil salah satu bentuk pelestarian alam ini. Pak Haji-Bu Haji bisa menanam sekadar minimal satu pohon. Bila kuota haji tahun 2026 sebesar 221 ribu jemaah, maka ada jutaan penanaman batang pohon yang bisa terlaksana. Kalkulasi jutaan adalah akumulasi dari mereka yang telah berhaji dan calon haji yang berangkatnya masih lama --sebanyak lima juta lebih calon jemaah.
Apalagi, dalam tradisi di Indonesia, mereka yang telah berhaji biasanya membuat pertemuan rutin dan pengajian bulanan. Hal ini praktis akan membentuk jejaring kuat dan langkah bersama para haji di seluruh Indonesia. Tak hanya para haji, mereka yang akan pergi umrah pun --yang kian semarak akhir-akhir ini-- perlu juga mengambil bagian: satu jemaah umrah menanam satu pohon.
Menelisik sejarah, ada keterkaitan erat antara menanam pohon dan pelaksanaan haji. Pada tahun 1955, Presiden Sukarno menunaikan haji dengan membawa bibit pohon Mimba. Pohon itu diperkenalkan kepada Raja Saud dan masyarakat Arab Saudi sebagai simbol diplomasi hijau. Pohon Mimba lantas ditanam di sekitar padang Arafah. Naungan pohon Mimba pada akhirnya bermanfaat mengurangi suhu panas dan cuaca terik saat jemaah haji berwukuf hingga sekarang.
Pohon Mimba lebih familiar tersebut Pohon Sukarno. Mengapa Sukarno memilih pohon Mimba yang banyak tumbuh di wilayah Madura ini? Lantaran pohon ini dinilai cocok ditanam di daerah kering dan tandus bertipikal unik: tumbuh banyak daun ketika musim panas dan rontok di musim hujan. Pohon Sukarno yang juga ditanam di Madinah dan Jeddah selain merekatkan relasi Indonesia-Arab Saudi, juga menibakan legasi besar pentingnya mempunyai kesadaran merawat alam dalam diri setiap para haji.
Padahal ditilik mendalam, langkah progresif nan brilian Presiden Sukarno tersebut dilakukan ketika kondisi Bumi dan kelestarian lingkungan terkata masih hijau dan terjaga. Namun tidak pada hari ini. Pelbagai peristiwa alam seperti banjir, tanah longsor, dan perubahan iklim yang menelan banyak korban harta dan jiwa sudah cukup menjadi alasan sahih para haji hari ini untuk kian peduli kondisi Bumi. Karena itu, tema Haji Hijau dengan melakukan penanaman pohon terkata mendesak dan kontekstual.
Gerakan para haji menanam pohon seyogianya berkelanjutan sebagai rutinitas; tidak hanya sekali dijalankan sekadar pemenuhan atributif. Belajar dari legasi Presiden Sukarno, selain pemilihan bibit pohon mengapa harus pohon Mimba, juga mengajak para ahli tanaman guna mengembangkan tanaman lain di Arab Saudi. Dengan kata lain, ke depannya, perlu dipilah-pilah perihal jenis pohon yang cocok ditanam di masing-masing wilayah. Selain sebagai gerakan penghijauan, penanaman pohon juga berkelindan dengan mitigasi bencana, ekowisata, dan ketahanan pangan. Kolaborasi Kemenhaj dengan lintas instansi yang terkait menjadi kunci sukses gerakan hijau ini.
Lantaran berhaji merupakan muktamar kaum muslim sejagat, gerakan satu haji-satu pohon bisa diadopsi oleh para haji dari negara lain. Pasalnya, problem pemanasan global dan kerusakan lingkungan tidak hanya menerpa satu-dua negara. Penanaman pohon bisa jadikan sebagai bentuk “tobat ekologi” karena pergi haji hari ini menggunakan pesawat terbang dan kendaraan bermesin dengan meninggalkan jejak emisi karbon dan polusi. Walhasil, gerakan satu haji-satu pohon bisa dijadikan sebuah gerakan global.
Bappenas menyebut luas lahan kritis saat ini telah mencapai 12,3 juta hektare. Sementara BNPB mengurai dalam satu tahun, Indonesia mengalami tiga ribu bencana di mana 93%-nya adalah bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor. Karena itu, menanam pohon merupakan bagian utama merestorasi ekosistem hulu sebagai pijakan mitigasi bencana nasional.
Simaklah petuah Baginda Nabi Muhammad SAW perihal keutamaan menanam pohon yang bisa dijadikan landasan teologis gerakan hijau ini: Tidaklah seorang muslim menanam pohon lalu buahnya dimakan manusia, hewan ternak, atau burung kecuali itu bernilai sedekah untuknya sampai hari kiamat (HR: Muslim).
Namun, bukankah manfaat menanam pohon toh baru kita bisa rasakan setelah menunggu belasan hingga “26 tahun” --sebagaimana lama antre pergi haji? Baginda Nabi seakan punya jawaban atas kemusykilan ini: Bilamana terjadi kiamat; sementara di tangan kalian tergenggam sebuah tunas, maka jika mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah (HR: Bukhari-Muslim). Wallahu a’lam. (*)
Penulis merupakan Alumnus Madrasah Ibtidaul Falah, Kudus