Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana
Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan
Sosok perempuan tangguh tanpa lelah senantiasa mendampingi kita. Di mana hasil perjuangannya bisa dirasakan hingga saat ini, dari menikmati, menjalani dan mengisi kehidupan. Dengan peran yang berbeda, mereka masing-masing berkonsentrasi sesuai bakat, minat dan kemampuannya. Perannya ada yang melalui jalur penentu kebijakan, jalur politik, serta ada yang peduli lingkungan dan kesehatan. Selain itu, ada pula yang menggeluti di bidang sosial dan pendidikan.
Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini. Hari tersebut merupakan momentum dalam merefleksikan kembali peran perempuan, baik bagi bangsa maupun manusia. Dengan gigih berani, bukan hanya konsep pemikiran dan tindakan, namun aktualisasi kecintaan yang tercurah pada jiwa dan raga di setiap saat.
Dalam menjalani hidup, keberadaan kaum hawa di memiliki kedudukan yang sama derajatnya dengan kaum adam. Pada sisi aktivitas ritual, manusia dituntut mengisi hidupnya dengan peningkatan kualitas mental dan kedekatan diri (ibadah). Dan pada aktivitas sosial, manusia mengedepankan perbuatan-perbuatan baiknya dalam tindakan dan perilaku pada sesama manusia serta lingkungan.
Perempuan sebagai seorang manusia mempunyai hak asasi, kepentingan dan aktivitas. Sejatinya manusia merupakan makhluk yang ingin menjalani hidup dengan bermartabat sekaligus bersahabat, termasuk juga perempuan. Sebuah stereotip yang keliru apabila aktivitas perempuan diidentikan dengan urusan dapur semata atau juru masak. Perempuan juga bukan semata-mata sebagai pemuas nafsu, yang kehadirannya untuk memuaskan kaum laki-laki.
Pernahkah merasa kalau ada perempuan-perempuan yang handal di sekitar kita? Banyak eksistensi perempuan-perempuan yang mewarnai kehidupan manusia.
Jika kita mau menelusuri perjalanan hidup, kehidupan kita yang sekarang diperoleh tidak bisa lepas dari peran perempuan. Perempuan itu bernama ibu. Tak jarang seseorang merasa sukses dan berhasil namun ternyata ia mengabaikan kehadiran orangtuanya. Padahal karena jasa seorang ibu, telah mengantarkan anaknya menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas.
Melalui pendidikan di keluarga, sosok perempuan bernama ibu dengan sabar mengajarkan perilaku. Seorang ibu menguatkan mental anak-anaknya. Dari perjuangan ibulah, kita menjadi manusia-manusia yang siap dalam menjalani kehidupan. Jangan sekali-kali kita melupakan doa, motivasi dan restu yang diberikannya.
Perempuan yang handal selanjutnya adalah pasangan hidup atau istri. Di belakang laki-laki sukses ada perempuan motivator, yakni istri. Ia yang telah memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada keluarga. Cintanya dalam keluarga tidak sebatas perasaan, tetapi berimplementasi pada pemeliharaan, perhatian, saling menghargai dan tanggung jawab.
Dengan loyalitas mengantarkan suami pada prestasi dan kemandirian, mendukung kemajuan pasangannya. Berkat keselarasan yang dibangun antara suami dan istri, arah perjalanan keluarga semakin jelas dan terencana.
Berbangga hatilah kita memiliki perempuan-perempuan yang handal. Orangtua yang telah rela memperjuangkan hidupnya demi nasib kita, ikhlas dalam mengasuh dan mendidik. Pasangan hidup yang tidak bosan-bosannya memotivasi untuk perjalanan keluarga. Pahlawan perempuan, meskipun kaum hawa tak ada rasa gentar membela bangsa, memperjuangkan kemerdekaan. Begitu pula mereka para kaum hawa yang telah berkiprah pada “dunianya”, baik di Indonesia maupun di dunia.
Dari kelembutan hati dan keanggunan laku di dalamnya terkandung berjuta-juta potensi. Betapa besarnya kontribusi perempuan dalam membangun sebuah peradaban. Kaum perempuan dengan eksistensi membuktikan diri bahwa kehadirannya penting bagi kehidupan umat manusia.
Di kehidupan rumah tangga atau keluarga lain, tak jarang sosok ibu menjalani peran ganda sekaligus, yakni sebagai kepala keluarga dan pengayom atau pendidik keluarga. Status single parent -bercerai hidup atau bercerai meninggal- tidak melemahkan fisik dan mental, meskipun tanpa ada sosok suami. Tetap berjuang demi keluarga tanpa mengeluh dan rasa lelah menjalani kehidupan hanya bersama anak-anaknya.
Ia tetaplah ibu bagi anak-anaknya. Meski dirasa sulit, namun tetap berpijak mengarungi bahtera rumah tangga dengan keoptimisan. Tak kenal kata menyerah demi anak, segala diperjuangkan demi mengantarkan masa depan anak. Kalimat yang mudah diucap, namun tak mudah untuk dijalani oleh seseorang.
Di belakang laki-laki sukses ada peran sang motivator, yakni istri atau ibu dari anak-anaknya. Ia yang telah memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada keluarga. Cintanya dalam keluarga tidak sebatas perasaan, tetapi berimplementasi pada pemeliharaan, perhatian, saling menghargai dan tanggung jawab.
Dengan loyalitas mengantarkan ayah dari anak-anaknya pada prestasi dan kemandirian, tiada henti mendukung kemajuan bagi pasangannya. Berkat keselarasan yang dibangun antara suami dan istri, arah perjalanan keluarga semakin jelas dan terencana. Tanpa lelah menumbuhkan nuansa harmonisasi antara pasangan hidup beserta anak-anak di rumah tangga.
Berbangga hatilah kita memiliki perempuan-perempuan hebat. Orangtua yang telah rela memperjuangkan hidupnya demi nasib kita, ikhlas dalam mengasuh dan mendidik. Pasangan hidup yang tidak bosan-bosannya memotivasi untuk perjalanan keluarga. Mereka perempuan pahlawan bagi keluarga, berjuang dengan sepenuh hati demi kondusivitas dalam keluarga.
Dari kelembutan hati dan keanggunan laku, semua itu bermuara. Di dalamnya terkandung berjuta-juta potensi menerangi keluarga. Betapa besarnya kontribusi perempuan dalam membangun sebuah peradaban. Bahwa taburan kasih dari seorang perempuan dengan eksistensinya membuktikan diri bahwa kehadirannya begitu penting bagi kehidupan dan peradaban umat manusia.
Editor : Arief