“Al Waridatul Ilahiyah sering datang secara tiba-tiba. Agar tidak merasa oleh hamba, ia mendapatnya karena adanya persiapan atau usahanya." -Hikmah ke-67 dari Al-Hikam Al-atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.
Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
Al Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet menjelaskan hikmah ke-67 ini membahas tentang Al Waridat Ilahiyah. Artinya pemberian khusus dari Allah ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Dengan waridat tersebut, maka sadarlah hamba tadi sesudah lalainya, lembut lah hatinya sesudah kerasnya, dan menghadaplah dia kepada Allah sesudah membelakangi Allah SWT.
Kemudian agar merasa orang yang mendapatkan waridat tersebut semata-mata karena pemberian Allah, bukan karena sebab taat atau ibadah, maka waridat datang kepada hamba secara tiba-tiba, mendadak. Kalaupun ada sebab-sebab sebelumnya, maka hal itu jarang terjadi.
Kadang-kadang waridat diberikan Allah secara sempurna, sehingga seorang hamba yang mendapatkan anugerah itu 100 persen berbalik total. Ada juga yang mendapatkan sebagian, sehingga dia menghadap Allah pun sebagian dari waktunya. Ada pula yang sedikit saja.
Tergantung kepada Allah SWT memberikan kepada hamba yang Dia ketahui dan Dia kehendaki.
Contoh waridat ini di antaranya adalah kisah Al Fudail bin Iyadh. Dahulu ia adalah seorang perampok. Manakala hendak mendatangi kekasihnya, yang sudah lama ia rindukan, tiba-tiba ia mendengar orang membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca artinya: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah … (Al Hadid: 16).
Begitu mendengar ayat ini, berkata Fudail, Wahai Tuhan sekaranglah waktunya. Maka ia pulang dan bertobat kepada Allah. Kemudian pergi ke Mekkah untuk belajar ilmu di sana, sampai menjadi seorang alim, zuhud dan takwa. Hingga akhirnya belajar dari Imam Fudail di antaranya Imam Sufyan ats-Tsauri, Sufyan ibnu Uyainah, dan Yahya bin Said Al-Qaththan.
Contoh berikutnya adalah Ibrahim bin Adham, seorang anak kaya yang hidup dengan kemewahan. Suatu hari ia pergi berburu ke hutan. Di waktu itu ia mendengar suara, wahai Ibrahim apakah untuk ini engkau diciptakan? Apakah dengan ini engkau diperintahkan? Kemudian terdengar lagi suara, Demi Allah tidak untuk ini Hai Ibrahim engkau diciptakan Allah, tidak dengan ini Hai Ibrahim engkau diperintahkan Allah.
Begitu sampai waridat itu ke dalam hati Ibrahim bin Adham, beliau turun dari kuda tunggangan. Bertemu penggembala di hutan itu, diberikannya kuda kepada pengembala tadi, beserta bekalnya. Kemudian ia pun pergi berjalan kaki sampai Mekkah al Mukarramah.
Sampai di Mekkah, ia belajar agama. Di antaranya kepada Sufyan Ats Tsauri, Fudail bin Iyadh, dan akhirnya Ibrahim pun menjadi seorang yang alim, zuhud dan bertakwa kepada Allah SWT. Ia kemudian berpindah ke negeri Syam hingga meninggal dunia di sana.
Kemudian ada pula kisah Utbatul Ghulam, seorang yang mendapat waridat. Mulanya, di Basrah ia dikenal sebagai seorang yang fasik, peminum khamar dan suka berbuat kerusakan. Suatu hari ia mendengar pengajian Imam Hasan Basri. Begitu mendengar tausiah tersebut, Utbatul Gulam sampai pingsan. Begitu sadar, ia bertobat di hadapan Imam Hasan Bashri.
Sesudah bertobat, dia mengangkat kepala dan berdoa dengan tiga macam permintaan kepada Allah SWT.
Pertama, Ya Allah Tuhanku, jika engkau menerima tobatku, engkau mengampuni dosaku, maka muliakan aku dengan paham yang baik dan hafal. Maksudnya hafal ilmu, hafal Al-Qur'an dan hadis.
Kedua, Ya Tuhan, Engkau muliakan aku dengan baik suara, sehingga setiap orang yang mendengar bacaanku, bertambahlah kelembutan di hatinya walaupun dia orang yang keras hati.
Ketiga, Ya Tuhanku, muliakan aku dengan rezeki yang halal, dan berikan aku rejeki dari jalan yang tidak terduga-duga.
Doa yang disampaikan seorang yang bertobat adalah doa seorang kekasih Allah. Maka Allah kabulkan doanya, sehingga Uthbatul Ghulam menjadi seorang alim, banyak hafal ilmu, dan jika ia membaca Al-Qur’an, orang yang mendengarnya akan bertobat kepada Allah. Kemudian di rumahnya, setiap hari ada sepiring kuah dan dua potong roti, tidak diketahui siapa yang mengantarkan tiap hari ke rumahnya, sampai ia meninggal dunia.
Contoh lain yang lebih jelas adalah Sayyidina Umar bin Khatab RA. Beliau adalah orang yang begitu keras dengan Rasulullah, begitu menentang Islam. Tetapi karena datang waridat dari Allah, maka berbalik Umar bin Khattab menjadi pendukung Setia Rasulullah SAW.
Jadi waridat itu datang ke dalam hati kita mendadak, dan orang yang mendapat waridat ini tidak bisa membendungnya. Waridat ini juga masih berlaku sampai hari kiamat. Sehingga Allah akan selalu memberikan waridat kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Meski dikatakan waridat ini datang secara tiba-tiba tanpa sebab dan usaha seorang hamba, tetapi ada sebagian kecil orang-orang yang dapat waridat melalui sebab. Sebab apa? sebab ia berkawan dengan orang saleh. Meski awalnya ia pelaku riba, judi, pemabuk. Tapi ia mendukung, membela orang saleh, maka orang seperti ini ada harapan mendapat waridat dari Allah, berkat doa orang saleh dan kecintaannya pada orang saleh tadi.(*)
Editor : Arief