Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kendaraan Cahaya

M. Syarifuddin • Jumat, 9 Agustus 2024 | 09:35 WIB
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

“Bermula cahaya-cahaya itu adalah kendaraan hati dan sir (hati yang paling dalam)”.
Hikmah ke-53 dari Al-Hikam Al-atha’iyyah, Imam Ahmad bin Atha’illah As-sakandari Rahimahullah

        Oleh: H. Muhammad Tambrin
        Kepala Kanwil Kemenag Kalsel

Menurut syarah Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari hikmah sebelumnya. Allah SWT mendatangkan kepada seseorang itu cahaya permulaan yang disebut nurul bidayah, Allah mendatangkan kepada hambanya lagi nurul wasathiyah, dan kemudian nurun nihayah.

Dalam hikmah ini, Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari mengumpamakan bahwa cahaya-cahaya tersebut itu, seperti kendaraan menuju satu tujuan yang diridai Allah SWT.

Nurul Bidayah, cahaya pertama yang diberikan Allah kepada kita adalah kendaraan dari maksiat kepada tobat, dari kelalaian kepada jaga, daripada membelakangi Allah kepada menghadap Allah.

Kalau kita ingin menyeberang dari maksiat menuju tobat itu kendaraannya adalah nurul bidayah itu. Selama ini kita selalu lupa kepada Allah, lalu kita ingin agar ingat dan jaga, kendaraannya itu nurul bidayah.

Nurul wasathiyyah adalah kendaraan seorang hamba dari kesibukannya dengan makhluk menuju kesibukan dengan Tuhan. Kita ini setiap hari sibuknya dengan apa? Kesibukan kita itu mengurusi apa? Dari bangun tidur sampai mau tidur kesibukan kita apa? Apa yang kita urusi sehingga sibuk? Apabila kita sibuknya itu mengurus diri sendiri, usaha, hal-hal lain misalnya mengurusi pekerjaan, sehingga kita sibuk dengan makhluk.

Ada sebagian manusia yang sibuknya dengan ibadah. Jam saat ini membaca Yasin, dilanjut Salat Duha, dilanjut menuntut ilmu, nanti Zuhur nanti ke masjid, setelah Zuhur istirahat, setelah Asar menuntut ilmu, dan seterusnya. Ini adalah orang yang sehari-harinya sibuk dengan Tuhan.

Ini adalah salah satu yang dipertanyakan di akhirat kepada kita. “Wahai fulan bin fulan kamu Ku beri umur enam puluh lima tahun, ke mana habisnya?” Satu persatu akan ditanya oleh Allah.

Apabila kita banyak sibuk dengan urusan-urusan yang tidak kita bawa mati, maka kita akan kesusahan, karena sibuk dengan yang akan kita tinggalkan. Mestinya kita ini sibuk dengan hal-hal yang berguna untuk hari esok. Bukan sibuk dengan yang kita tinggalkan.

Apabila kita ini sudah penuh waktu dan kesibukan kita ini dengan ibadah dan amal saleh maka itu dinamakan sibuk dengan benar. Itu satu tujuan mulia yang kita capai kepadanya dengan kendaraan disebut nurul wasathiyyah itu.

Selanjutnya, tidak mengandalkan amal ibadah kita tersebut, seolah-olah dengan itu kita selamat. Jangan mengandalkan amalan itu. Apa yang kita andalkan? Yang kita andalkan adalah Allah SWT. Artinya apa? Bahwa kita beramal ini dengan anugerah Allah. Anugerah-Nya itu yang mahal, bukan amal kita.

Amal kita mungkin banyak rusaknya, tidak khusyuknya, dan banyak tidak baiknya. Tapi kalau anugerah Allah yang diberikan kepada kita sehingga kita bisa beramal, anugerah itu yang mahal dan bisa kita pegang. Apabila kita sudah bisa berpegang kepada Allah, satu tujuan yang sangat bagus dan mulia yang kita capai kepadanya dengan kendaraan disebut nurul wasathiyyah.

Adapun nurul nihayah, cahaya yang akhir adalah kendaraan seorang hamba dari melihat dirinya sendiri kepada melihat Tuhannya, daripada mencintai makhluk kepada mencintai Sang Pencipta makhluk.

Apabila kita selalu merasakan bahwa kita ini diciptakan, ditolong, dan dijaga oleh Allah, itu namanya kita sudah melihat Allah, tidak melihat diri kita lagi. Dan itu sesuatu yang mulia dan dicapai dengan kendaraan yang dinamakan nurul nihayah tadi.

Imam Ahmad mencontohkan kendaraan cahaya tadi tidak bisa datang sendiri. Kendaraan ini bisa kita miliki dengan cara, pertama dengan sebab mewarisi, dengan sebab zuriat yang saleh dan hebat-hebat dahulunya. Kakek atau datuknya kah yang seorang wali, tiba-tiba kita dapat bagiannya.

Kendaraan juga bisa kita peroleh dengan diberi orang lain. Berkat doa orang saleh kepada kita. Bisa juga didapat dengan usaha, seperti menuntut ilmu, membelanjakan harta di jalan Allah (sosial).

Selanjutnya, kendaraan tadi memerlukan bahan bakar. Seperti motor, sebagus apa pun kalau tidak BBM, tidak bakal jalan. Demikian pula cahaya-cahaya itu, meski datang berserah kepada kita, tapi kalau tidak ada bahan bakarnya, maka tidak akan bisa berjalan. Seperti kuda, perlu diberi makan dan minum. Demikian pula cahaya hidayah ini memerlukan makanan dan minuman, bahan bakar agar semakin cepat mencapai tujuannya.

Apa bahan bakarnya cahaya itu? Pertama, mathiyyatul ula (kendaraan yang pertama), nurul bidayah dengan memperbanyak "Laa ilaaha illallah.”

Semakin banyak kita zikir Laa ilaaha illallah, maka semakin hilang dosa kita. Semakin dosa hilang, otomatis ringan. Kalau ringan maka akan bisa terbang. Lalu cepat sampainya.

Jadi, Laa ilaaha illallah ini adalah zikir yang paling baik untuk orang yang masih bergelimang dengan dosa. Bagi orang-orang yang ingin menuju keselamatan.

Sebaliknya orang yang banyak lupa dengan Allah, selalu sibuk dengan urusan dunia, iman mereka ini buruk, usang, tidak terawat. Barang apa saja yang tak terawat, tidak akan bagus.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Sungguh segala sesuatu itu ada pembersihnya. Dan pembersih hati itu adalah dengan berzikir kepada Allah.
Hari kita yang penuh dengan dunia ini akan buram, dan mesti dikilapkan sebelum lengket. Apa untuk mengilapkan, yaitu dengan zikir. Zikirnya apa? Sepaling afdal zikir adalah "Laa ilaaha illallah.”

Kendaraan kedua adalah bagi yang sudah bagus tobatnya, sudah ingat dengan Tuhannya, kesibukan dunia sudah tidak ada lagi, maka zikir yang paling baik untuk diperbanyaknya adalah "Allah, Allah, Allah".

Ketiga, ini adalah orang sudah top, menuju kepada yang paling tinggi. Orang yang sudah bagus dan mulia. Dia ingin kepada ketinggian dan puncaknya itu adalah zikirnya “Hu, Hu, Hu.” Artinya apa “Hu” itu? Dia (Allah) Hu itu. Kenapa orang ini perlu zikir “Hu (Dia)” ini, karena orang ini hanya kenal dengan Allah. Selain dengan Allah, dia tidak kenal lagi.

Jadi, kira-kira yang paling tepat untuk kita yang perlu diperbanyak yaitu zikir Laa ilaaha illallah itu. Karena kita masih di dalam keadaan banyak lupanya dengan Tuhan. Kesibukan kita masih duniawi, mau tidak mau kita mengakui itu. Hitung saja, seminggu berapa hari, berapa jam, ukur saja dunia dan akhirat kita sampai tidur.

Sehingga yang paling pantas zikir kita adalah Laa ilaaha illallah, maka itu akan membersihkan hati dari segala kotoran-kotoran.

Apabila Allah menghendaki dan menyampaikan hambanya kepada kedekatan-Nya dan kecintaan-Nya, maka Allah berikan taufik hamba itu. Allah permudah jalannya, dan Allah sediakan ada orang yang membimbingnya.

Selanjutnya, apabila Allah menghendaki kita ini menjadi orang yang mulia, sampai kepada kecintaan-Nya dan kedekatan-Nya, maka Allah akan memberikan kita taufik, dan sediakan guru pembimbing bagi kita. Wallahu 'alam.(*)

Editor : Arief
#Tarbiyah