“Janganlah melampaui niat yang kamu inginkan (jangan melampaui kepada selain Allah), maka Allah yang maha pemurah itu tidak melampaui akan Allah yang maha karim tadi oleh angan-angan”. -Hikmah Hikam ke-38 dan ke-39 Imam Ahmad bin Atha’illah As-sakandari Rahimahullah
Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa Imam Ahmad bin Atha’illah As-sakandari Rahimahullah di dalam hikmah kali ini membicarakan tentang Allah SWT itu dari sekian banyak namanya yaitu Al-Karim. Secara bahasa kita, artinya pemurah.
Padahal lebih daripada itu. “Dan Allah itu tidak peduli bagi siapa dia memberi.”
Apakah harus taat kepada Allah, Allah tidak peduli. Apakah harus orang wali yang meminta, Allah tidak peduli. Orang-orang jahatpun kalau meminta maka akan Allah beri.
Iblis adalah paling jahat makhluk Allah. Di saat dia terkutuk, iblis meminta kepada Allah: Ya Allah panjangkan umurku sampai hari kiamat”. Apa jawaban Allah?
“Kamu Ku panjangkan umurmu sampai hari kiamat”. Ini iblis yang meminta dengan Tuhan. dan dikabulkan. Allah itu tidak peduli siapa saja yang meminta. Apalagi yang meminta orang beriman, penyembahyang, penuntut ilmu. Kalau ada masalah yang dihadapi, ada hajat diperlukan, dengan Allah berurusan itu paling enak.
“Apabila kita ini melaporkan hajat kita kepada orang lain, Allah tidak rida atau tidak suka dan marah”.
Kita ini, misalnya ada masalah dan melapor kepada manusia makhluk Allah, Allah tidak suka atau rida. “Janganlah kamu mengadu kepada selain Allah akan satu hajat, sedangkan hajat itu adalah Allah yang mendatangkan atas engkau. Maka bagaimana bisa mengangkat orang selain Allah sesuatu yang Allah tetapkan”.
Karena yang membuatkan hajat itu Allah, maka untuk mengangkat hajat ini Allah juga. Kalau Allah itu meletakkan hajat itu kepada kita, orang lain tidak akan bisa mengangkat hajat itu.
“Barang siapa yang tidak mampu mengangkat hajat dirinya sendiri, bagaimana dia mampu bahwa adalah dia mengangkatkan hajat orang lain”.
Kalau kita mengadu kepada manusia, sementara manusia sendiri tidak bisa menyelesaikan hajat dirinya, apalagi menyelesaikan hajat orang lain. Kalau kita mengadu kepada makhluk Allah, makhluk Allah sendiri punya banyak masalah, bagaimana dia bisa menyelesaikan masalah orang lain.
Ini adalah kesempurnaan daripada hikmah yang sebelumnya tadi. “Apabila engkau menghadap kepada Allah yang maha pemurah itu dengan benar sungguh-sungguh berhadap, maka Allah akan mengijabah engkau, dan akan memberi apa yang kamu minta”.
Allah akan memberi apa yang kita minta, asalkan kita benar-benar menghadap kepada Allah.
Ada macam-macam cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW agar permintaan kita kepada Allah ini lebih diperhatikan Allah. Salah satunya adalah dengan cara kita mendoakan orang lain, tidak usah kita berdoa untuk diri sendiri. Cukup kita doakan orang lain saja, itu lebih segera diijabah oleh Allah daripada kita berdoa untuk diri sendiri.
Misalnya kita tahu si fulan bin fulan itu banyak mempunyai utang, dan dia capek untuk membayar utang itu. Suatu ketika kita juga banyak mempunyai utang. Kita tidak perlu berdoa, “Ya Allah lunaskanlah utangku”. Tidak perlu, berdoa untuk orang lain. “Ya Allah lunaskanlah utang si fulan tetanggaku itu”. Itu lebih cepat diterima Allah daripada kita berdoa untuk diri sendiri. Sebelum Allah melunaskan utang tetangga itu, utang kita terlebih dahulu yang akan dilunaskan utangnya oleh Allah. Jadi seperti memantul. Tidak perlu kita yang meminta, cukup kita yang memintakan doa yang sama masalahnya atau hajatnya dengan kita.
Apalagi dipintakan doa untuk orang yang memusuhi kita. Itu akan lebih cepat lagi akan dikabulkan oleh Allah. Tetangga kita banyak sekali utang dan dia memusuhi kita, mengejek, memfitnah, dan sebagainya. Pas secara kebetulan kita juga tertimpa masalah yang sama, maka doakan tetangga memusuhi dan tertimpa masalah yang sama tadi. “Semoga Ya Allah tetanggaku ini lunaskanlah utangnya”. Itu lebih cepat lagi diijabah oleh Allah SWT.
Ada kalanya Allah memberikan kepada kita itu dengan sebab yang kita ketahui. Ada kalanya dengan sebab yang kita tidak tahu, tapi masalahnya selesai.
Allah mengabulkan doa kita dan memberi apa yang kita minta itu bisa langsung tidak dengan sebab. Jatuh di langit duit segepok misalnya di sajadah kita, dan itu sah-sah saja dan bisa karena sebabnya tidak dimaklumi.
Tapi, bisa juga dengan sebab yang dapat dimaklumi. Misalnya Allah kabulkan doa kita itu ternyata ada tanah peninggalan yang tidak laku berpuluh-puluh tahun, harga lakunya sepuluh kali lipat daripada dahulu tanpa disangka-sangka. Itu bisa saja dengan sebab yang diketahui.
Jadi Allah memberikan itu bisa saja dengan sebab yang kita ketahui, atau dengan sebab tidak kita ketahui. “Apabila engkau meminta daripada makhluk sesudah berhadap kepada Allah, dan engkau mencapai tujuan daripada mereka, maka tidak boleh bahwa engkau mangiktikadkan bahwa si makhluk itu sebab dan perantara”.
Kita ada masalah, ada yang harus diselesaikan dan dibayari. Berdoa dengan Allah, “Ya Allah selesaikanlah utang-utang hambamu ini”. Setelah berdoa kepada Allah timbul ada geritik hati, “Jika kutawarkan saja barangku dengan si fulan itu barangkali fulan membeli, maka lunas utangku”. Kemudian didatanginya dan dibeli si fulan tadi, lalu kita bisa melunasi segala utang kita. Maka tidak boleh engkau mangiktikadkan bahwa si makhluk itu sebab dan perantara. “Allah jugalah yang membuat sebab ini, dan Allah juga sebenarnya yang memberi itu”. “Supaya engkau tidak terhijab daripada Allah Ta’ala, maka jadilah engkau orang yang terdinding dan tercela”.
Kalau kita tawajuh kepada Allah, kemudian kita ada isyarat untuk mendatangi fulan bin fulan dan berurusan di sana selesai, tapi kita lupa dengan Tuhan yang membuatkan sebab ini dan memberi semuanya, dan lupa bahwa ini hanya sebab saja, maka kita terhijab/terdinding dan tercela jadinya.
Itulah sebagian yang dimaksud daripada hikmah yang ke-38 dan ke-39 ini. Artinya, kalau kita ada sesuatu yang kita perlukan maka kita hubungilah Allah SWT dengan cara tawajuh, dan berhadap berdoa meminta kepada Allah SWT. Sesudah kita berdoa dan melapor kepada Allah, silakan kita melapor kepada makhluk Allah. Barangkali itu adalah sebab untuk mendatangkan pertolongan dari Allah SWT.(*)
Editor : Arief