Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

TARBIYAH: Al-Jamal dan Al-Jalal

Arief • Jumat, 15 Desember 2023 | 08:56 WIB



Kepala Kanwil Kemenag Kalsel, HM Tambrin.
Kepala Kanwil Kemenag Kalsel, HM Tambrin.

"Tidak ada napas yang kamu keluarkan, melainkan napas itu telah Allah takdirkan bagimu." (Hikmah ke-22 Al-Hikam karya Imam Ahmad Ibnu Atha'ilah As-Sakandari)

     Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
     Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

MENGENAI hikmah ini, KH Muhammad Bakhiet menjelaskan, Allah telah mengetahui seluruh tarikan napas kita. Sejak dahulu kala, napas manusia telah ditentukan-Nya.

"Padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (As Saffat: 96)
Maka wajib bagi kita untuk rida dengan keputusan dan takdir-Nya. Yakni dengan tidak meng'itirad atau membahas, menentang, apalagi marah kepada Allah.

Bagaimana bisa seorang hamba marah kepada penciptanya? Dalam sebuah riwayat dijelaskan, di akhirat kelak Allah akan bertanya kepada kita, "Wahai fulan bin fulan, engkau pada hari ini jam ini kenapa marah kepada-Ku? Wahai fulan bin fulan kenapa engkau mencela mencaci Aku?"

Si hamba menjawab, "Wahai Tuhanku aku tidak pernah marah dan mencaci maki-Mu!"

Allah membalas, "Tidak, engkau pernah marah kepada-Ku. Kapan kamu marah kepada-Ku? Ketika kamu marah kepada hamba-hamba-Ku. Kapan kamu mencaci-maki Aku? Ketika kamu mencaci-maki hamba-hamba-Ku."

Ketika kita belajar tauhid, sifat 20, kita mengenal tauhid af'al. Artinya beritikad di dalam hati bahwa tidak ada perbuatan di alam semesta ini melainkan perbuatan Allah. Seluruh perbuatan yang kita lihat dan dengar adalah perbuatan Allah. Seluruh perbuatan ini adalah bekas dari sifat-sifat Allah.

Dan sifat Allah itu banyak, tetapi secara garis besar dapat dibagi dua, yakni Al-Jamal dan Al-Jalal.
Al-Jamal artinya keindahan, seperti sifat Maha Pengasih, Penyayang, Pemelihara, Pemaaf dan Pengampun. Yang kedua dinamakan sifat Al-Jalal artinya sifat-sifat kebesaran. Seperti Maha Menyiksa, Memudharatkan, Gagah dan Perkasa.

Jadi, seluruh perbuatan yang kita lihat takkan terlepas dari dua Al-Jamal maupun Al-Jalal, keindahan maupun kebesaran.

Kalau melihat manusia yang orangnya pemaaf, tutur kata lembut, ramah bergaul, dan tidak bisa berdebat. Maka itu adalah bekas daripada keindahan-keindahan Allah. Kita pun mudah merasa rida kepada orang itu.

Tetapi kita terkadang berhadapan dengan perbuatan-perbuatan makhluk yang kasar, mudah tersinggung, pelit, bahkan memukul. Apakah ada orang seperti itu? Ada.

Dan kita dituntut rida juga kepada orang semacam ini. Jangan hanya rida kepada yang jamal, tapi juga ridalah kepada yang jalal.

Di sini, tauhid Af'al kita diuji. Apakah hanya sebatas kajian dan bacaan, atau meresap ke hati.
Contoh lagi. Ada anak yang penurut dan sayang kepada orang tuanya. Kita mudah rida padanya.

Tapi ada pula anak yang sulit diurus. Menuruti maunya saja. Anak ini sebenarnya percikan dari jalal. Apakah kita akan membenci anak ini? Kalau marah, berarti marah kepada Allah.
Pertanyaannya, bagaimana jika kita berhadapan pada kemaksiatan dan kemungkaran?

Allah menyuruh kita membenci yang mungkar, tapi di sisi lain memerintahkan agar kita rida atas apa yang terjadi.

Di sini, ulama mengistilahkan dengan pedang bermata dua: sisi pedang syariat dan sisi pedang bermata hakikat.

Pada zahirnya, kita benci pada yang mungkar. Kita mengkritik untuk mengubah kemungkaran. Tetapi hakikatnya, di dalam hati kita memaklumi dan meridai. Jangan marah, apalagi kelewatan sampai mendendam.

Jangan sampai pula tertukar. Di dalam batin dikeluarkan, syariat malah dibatinkan. Misal tersenyum setuju ketika melihat yang mungkar. Itu sungguh keliru.

Maka, mari diingat-ingat, setiap tarikan napas akan dihisab. Padahal, dalam sehari saja kita bisa bernapas 17-30 ribu kali tarikan.

"Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana diinfakkan. Dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan." (HR Tirmidzi)

Agar ringan hisab kita, maka Umar bin Khattab pernah berpesan, "Hisablah dirimu sendiri sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak)."

Menghisab diri artinya bertobat dari segala maksiat. Taubatan nasuha, tobat yang sesungguhnya.
Bayar utang kepada Allah (salat, puasa, nazar), mengembalikan hak kepada empunya, minta maaf kepada yang pernah disakiti.

Inilah amalan untuk masuk surga tanpa hisab yang sebenarnya.

Editor : Arief
#Tarbiyah