Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sengaja Bertarung di Dapil Lain untuk Hindari Kampung Sendiri

Arief • Senin, 26 Juni 2023 | 07:31 WIB
BERPULANG: Desmond Junaidi Mahesa (kiri) bersama Erwin D. Nugroho dalam sebuah perjalanan. | Foto: DOK PRIBADI
BERPULANG: Desmond Junaidi Mahesa (kiri) bersama Erwin D. Nugroho dalam sebuah perjalanan. | Foto: DOK PRIBADI
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Desmond Junaidi Mahesa wafat pada Sabtu, (24/6). Bagi banyak orang, politikus yang lahir dan besar di sebuah kampung kecil di Kalimantan Selatan ini adalah panutan: bagaimana membangun karier politik dari bawah, hingga sukses menjadi tokoh nasional yang memberi warna demokrasi Indonesia.

Catatan Erwin D. Nugroho
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin pada 2001-2007


MEMULAI karier politiknya sebagai anggota DPR RI, Desmond Junaidi Mahesa memilih Kalimantan Timur sebagai dapil (daerah pemilihan). Padahal Desmond sendiri lahir dan besar di Kalimantan Selatan. "Maju jadi calon legislatif di kampung sendiri itu bebannya lebih berat. Orang kampung tau kelakuan asli kita gimana. Kalau kalah juga 'kan malu. Hahaha..." kelakar Desmond kepada saya dalam suatu kesempatan.

Desmond melenggang ke Senayan setelah mengantongi 13.439 suara pada pileg 2009. Pada pemilu 2014, Desmond kembali maju sebagai caleg DPR RI, namun pindah ke dapil Banten II dan lolos. Dia mengulang suksesnya di dapil tersebut untuk periode ketiga pada pemilu 2019.

Saya sendiri sudah mengenal Desmond sebelum dia terjun ke politik praktis. Sejak namanya ramai dibicarakan publik ketika menjadi kuasa hukum pengusaha Tommy Winata yang menggugat Majalah Tempo pada 2003.

Jauh sebelum itu, Desmond lebih dikenal sebagai aktivis pergerakan. Dia masuk dalam daftar tokoh pemuda pro-demokrasi yang diculik rezim Orde Baru pada 1998 bersama sejumlah aktivis lain seperti Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam dan Andi Arief.

Sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Desmond aktif di senat mahasiswa dan berbagai organisasi lain seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kelompok Studi Islam (KSI). Setelah lulus, dia aktif dalam program pelestarian hutan dan lingkungan kerjasama Indonesia-Jerman (GTZ) yang berbasis di Kaltim. Desmond kemudian hijrah ke Pulau Jawa, bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nusantara di Bandung (1996) dan LBH Jakarta (1998).

Desmond juga tercatat aktif di Presidium Nasional Walhi (1995-1996) dan Forum Demokrasi (Fordem). Dia kemudian mendirikan Yayasan Dalas Hangit (Yadah) di Banjarmasin pada Mei 1998, beberapa waktu setelah dibebaskan oleh penculiknya (sejumlah aktivis lain, salah satunya penyair Wiji Thukul, tetap dinyatakan hilang).

Usai peristiwa penculikan tersebut, nama Desmond semakin berkibar di Jakarta sebagai pengacara cum aktivis. Selain kasus gugatan ke Tempo, Desmond juga menangani berbagai perkara hukum, di antaranya kasus Planet Bali, kasus Kartini di Uni Emirat Arab dan sengketa Bank CIC dengan Bank Kesawan.

Tahun 2004, ketika pilkada langsung untuk pertama kalinya digelar, Desmond "pulang kampung" ke Banjarmasin. Dia menggelar jumpa pers dan menyatakan diri siap maju dalam pemilihan gubernur. Secara khusus dia menjumpai saya yang saat itu bekerja di Radar Banjarmasin sebagai pemimpin redaksi. "Kau bantu aku ya, Win. Serius ini," ujar Desmond.

Umurnya baru 39 tahun. Tidak punya perahu politik untuk maju sebagai calon gubernur. Modal utamanya adalah nama harum sebagai aktivis dan "jaringan modal" yang menurutnya cukup besar dari para bohir, yang kebanyakan adalah klien dari kantor pengacara TREAD'S & Associate yang didirikannya di Jakarta.

"Kita buktikan, bisa jadi gubernur dari jalur non partai politik," katanya. Semangatnya tinggi. Bicaranya berapi-api.



Keinginan maju dalam pilkada Gubernur Kalsel itu kandas di tengah jalan. Alasan resminya karena tak dapat perahu. Namun dalam suatu pertemuan informal dengan sejumlah kawan di kediamannya di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Desmond terang-terangan bilang bahwa dia memilih mundur dari kontestasi pilkada karena ada "tawaran yang lebih menarik" dari lawan politiknya.

Setelah proses belajar berpolitik di pilkada 2004, pemilu 2009 menjadi awal mula Desmond terjun sepenuhnya ke dunia politik. Dia bergabung dalam Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang didirikan pada 2008 oleh Prabowo Subianto, purnawirawan jenderal TNI, komandan Kopassus pada masa orde baru yang disebut sebagai tokoh paling bertanggung jawab dalam peristiwa penculikan aktivis 1998, di mana Desmond merupakan salah seorang korbannya.

"Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Kita yang harus memilih mau menjadi apa dan dengan cara seperti apa. Begitu juga dalam politik," kata Desmond saat saya tanya alasannya memilih Gerindra. Di partai tersebut Desmond diberi peran mengurus kaderisasi anggota. Bidang yang sangat cocok dengan pengalamannya selama bertahun-tahun membina para aktivis.

Di Gerindra, Desmond juga mendapat semacam privilege untuk memilih maju dari dapil mana. "Aku pilih maju di Kaltim. Jaringan sudah ada, banyak kawan bisa dimintai bantuan. Kalaupun ternyata kalah, kada supan (tidak malu) karena bukan kalah di kampung sendiri," katanya saat itu.

Hasilnya, Gerindra yang merupakan pendatang baru mendapat satu kursi di Senayan dari dapil Kaltim. Sementara di Kalsel, tak ada kader Gerindra yang lolos pada pemilu 2009 itu.

Setelah selesai menjabat satu periode (2009-2014) di DPR RI, Desmond pindah dapil ke Banten II. Saya bertanya, kenapa kok tidak maju dari Kaltim lagi? Atau, kenapa tidak pindah ke dapil Kalsel, bertarung di kampung sendiri?

"Bahaya, bisa-bisa tidak ada yang mau memilih aku lagi, karena selama mewakili dapil Kaltim rasanya tidak maksimal membela Kalimantan," jawabnya, santai.

Sebenarnya bukan tanpa alasan mengapa Desmond merasa seperti itu. Tak banyak yang tahu bahwa pada periode pertama inilah Desmond mengalami sakit parah sampai gagal ginjal.

Tahun 2011-2012 dia harus istirahat total dan keluar masuk rumah sakit, setelah menjalani operasi transplantasi ginjal di Tiongkok. Ini membuatnya jarang bertemu konstituen.

"Alhamdulillah dikasih bonus umur oleh Allah, tidak boleh disia-siakan. Harus terus berbuat baik," katanya suatu ketika.

Desmond toh tetap dikenal sebagai wakil rakyat yang kritis dan vokal dalam bersuara, terutama untuk isu-isu hukum sesuai tugasnya di Komisi III. Dia bahkan kerap teguh dengan pendiriannya, meski harus berseberangan dengan sikap politik fraksi atau partai.

Sebagai wakil ketua komisi, aksi Desmond sering viral di media sosial. Yang terbaru ketika Desmond memimpin rapat dengar pendapat dengan Polda Metro Jaya, terkait dualisme kepengurusan apartemen Graha Cempaka Mas Jakarta.



Desmond tak segan menegur para pejabat Polri dan mengingatkan agar polisi tidak berpihak atau terlibat terlalu jauh dalam mengurus kasus hukum yang sebenarnya bukan perkara pidana.

Menjadi tokoh berpengaruh di Senayan dan sering memimpin rapat-rapat penting membahas isu hukum, HAM dan keamanan di DPR, tak membuat Desmond berubah. Dia tetap anak kampung dari Kalimantan yang tampil bersahaja. Kawan diskusi dan lawan debat yang sangat menyenangkan.

Secara rutin Desmond mengumpulkan sahabat-sahabatnya, baik di kediamannya di Sungai Tabuk maupun di Jakarta untuk berdiskusi.

Karena kantor saya di Kebayoran Lama berdekatan dengan kantor Desmond di Senayan, kami paling sering berjumpa di kawasan Senayan untuk sekadar ngopi dan berdiskusi. Desmond juga kerap mengundang kawan lain dari Kalimantan yang kebetulan sedang berada di Jakarta untuk bergabung.

Bukan sekadar memberi pencerahan dan motivasi, dengan jaringan dan pertemanannya yang luas di kancah nasional, Desmond memfasilitasi banyak sahabatnya untuk mendapat solusi atas berbagai masalah. Bagi orang-orang yang mengenalnya, boleh jadi dia adalah nama yang selalu muncul di urutan teratas yang akan diminta bantuan untuk banyak urusan di Jakarta. Desmond selalu dengan ringan hati memberikan dukungan.

Di antara banyak sekali pertemuan, kami tak jarang membincangkan juga tema keluarga. Dari pola pengasuhan hingga pendidikan untuk anak. Desmond sering dengan bangga menceritakan perkembangan kedua anaknya, Annisa Maharani dan Hijaz Putra, dari pilihan sekolah hingga kuliah. "Hijaz itu tingginya sudah seperti kamu, Win. Bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus," katanya.

Sahabat datang dan pergi. Sabtu (24/6), Desmond Junaidi Mahesa, terlahir 57 tahun lalu dengan nama Junaidi bin Muchtar, dimakamkan di Al Azhar Memorial Garden, Karawang, Jawa Barat.

Ratusan papan bunga dikirim rekan dan kolega, memenuhi sepanjang jalan menuju rumah duka di Jakarta Selatan. Berbagai ucapan belasungkawa disampaikan orang-orang melalui media sosial, dengan kesaksian bahwa yang baru saja pergi ini adalah orang baik. Anak dari kampung kecil di Kalimantan yang akan terus dikenang sejarah atas perannya mewarnai demokrasi Indonesia. (gr/fud) Editor : Arief
#Tokoh #Gerindra #meninggal dunia