Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perlu Waspada Aksi Bullying Terhadap Anak di Sekolah

Muhammad Helmi • Senin, 14 November 2022 | 11:53 WIB
Photo
Photo
Oleh: AGUS KRISWANTO *)

Dalam bersosialisasi dengan temannya di sekolah, tidak jarang anak kita ada masalah. Biasanya anak kita suka curhat pada ibunya. Sebagai orang tua yang bijak, solusi atau saran tentu akan disampaikan sebagai prioritas untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak. Namun, orang tua juga jangan lengah terhadap masalah tersebut. Orang tua perlu waspada.

Terkadang di sekolah, anak kita tidak hanya sekadar tidak ditemani. Sering anak kita diejek temannya. Bahkan pernah dicubit, dan dipukul. Hal semacam ini bisa dikategorikan aksi bullying.

Bullying dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penindasan atau risak. Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan secara sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain. Tujuannya untuk menyakiti, dan dilakukan secara terus menerus.

Menurut American Psychatric Association (APA), bullying adalah perilaku agresif yang dikarakteristikkan dengan tiga kondisi. Pertama, perilaku negatif yang bertujuan untuk merusak atau membahayakan. Kedua, perilaku yang diulang selama jangka waktu tertentu. Ketiga, adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan dari pihak-pihak yang terlibat. Beberapa kondisi tersebut menjadikan korban trauma, cemas, dan sikap-sikap yang membuat tidak nyaman.

Mengapa ada beberapa anak yang melakukan aksi bullying terhadap temannya di sekolah? Karena ada beberapa faktor. Pertama, faktor orang tua. Orang tua merupakan figur model untuk anak-anaknya, sehingga perilaku mereka mudah untuk ditiru. Keluarga merupakan faktor yang penting dalam membentuk pribadi seorang anak dan memengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa kecenderungan orang tua mendidik dengan kasar dapat memberi dampak kepada anak sikap agresifnya.

Kedua, faktor media sosial. Media sosial merupakan bagian dari kehidupan yang memengaruhi pola hidup bagi anak, terutama media elektronika. Dampak yang ditimbulkan dapat memberi manfaat, atau bahkan merugikan. Media juga memengaruhi pada anak, sehingga ia menjadi malas dan memberi dampak bahwa memonton media yang tidak baik dapat membuat anak memiliki sifat agresif.
Ketiga, faktor teman sebaya. Faktor teman sebaya dapat menimbulkan pengaruh yang negatif karena adanya penyebaran ide bahwa bullying bukan suatu masalah besar. Bahkan menganggap wajar untuk dilakukan. Hal ini adalah ide yang sangat keliru. Maka dari itu, anak kita perlu memilih teman yang baik.

Keempat, faktor lingkungan. Lingkungan bagi anak terbagi menjadi dua yaitu lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya. Namun, seorang anak cenderung meniru gaya-gaya atau temannya yang agresif.

Orang tua sangat perlu mendampingi anak belajar. Apalagi anak masih jenjang Sekolah Dasar. Harapan yang pasti dari orang tua adalah anaknya supaya dapat berprestasi. Jika ada kesulitan dalam mengerjakan tugas, orang tua bisa membantu. Namun yang lebih penting dari itu adalah untuk mengetahui perkembangan psikis anak. Kedekatan orang tua dengan anak tentu jika anak ada masalah dapat menceritakan pada orang tuanya.

Permasalahan yang lazim bagi anak kita yang masih sekolah di jenjang SD adalah sering menangis, tidak mau belajar. Bahkan tidak mau masuk sekolah. Seolah anak kita takut yang amat sangat atau trauma. Hal mengejutkan yang kita dengar dari anak kita adalah sering diganggu temannya; tidak ditemani. Bahkan anak lain pun tidak dibolehkan berteman dengan anak kita, diejek, diminta paksa uang jajannya, dipanggil dengan sebutan yang tidak menyenangkan, dicubit, dipukul, bahkan ditendang.

Aksi bullying (perundungan) sering terjadi antara satu siswa dengan siswa yang lainnya. Bisa berawal dari bermain bersama. Akhirnya saling olok, saling cubit, saling pukul dan seterusnya. Bahkan aksi tersebut konon berlanjut untuk keesokan hari. Hingga aksi bullying tersebut berakhir dengan mengenaskan. Salah satu siswa dikabarkan meninggal, dengan luka memar di bagian kepalanya. Sungguh tragis memang kejadian seperti ini. Anak usia SD sudah berani berbuat demikian hingga menyebabkan kematian.

Sebaiknya sebagai orang tua, kalau anak kita curhat atau menceritakan suatu kejadian alangkah bijaknya jika kita crosscek terlebih dahulu kebenaran hal tersebut di sekolah. Bahkan mencari solusi atau jalan keluarnya. Sebagai orang tua, kita biasanya langsung emosi dan geregetan jika anak kita menceritakan kejadian di sekolah dijahili temannya seperti itu. Kadang terlintas di benak kita, kok bisa terjadi ya? Terus gurunya ke mana. Terus gurunya apa diam saja melihat muridnya ada yang dijahati temannya.

Intinya untuk mendidik anak sepenuhnya kita malah menyerahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah. Guru adalah orang tua kedua yang memberikan ilmunya atau mengajari anak kita. Jika terjadi hal-hal seperti contoh di atas, orang tua mana yang tidak khawatir terhadap anaknya. Kejadian seperti contoh di atas, menurut penulis terjadi ketika jam istirahat berlangsung saat guru istirahat di kantor. Atau sebelum jam belajar dimulai; sebelum jam pertama. Atau pada saat anak pulang sekolah. Atau pada saat guru izin tidak bisa hadir ke sekolah; sebelum kelas tersebut diajar/diisi guru piket, atau guru yang ditugasi/ditunjuk oleh Kepala Sekolah.

Pada saat tersebut adalah waktu yang rawan digunakan oleh seorang siswa atau beberapa siswa untuk melakukan aksi bullying (perundungan) terhadap siswa yang menjadi incarannya. Tentu guru juga harus tetap waspada terhadap masalah ini, sekalipun pada jam istirahat.

Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Guru adalah memiliki tanggung jawab penuh terhadap kesehatan dan keselamatan anak waktu di sekolahan.

Alangkah indahnya jika di lingkungan sekolah tidak ada aksi bullying atau perundungan. Anak-anak bermain yang baik-baik saja; tidak menyebabkan ketersinggungan satu sama lain. Tidak ada perkelahian. Guru senantiasa waspada dan memperhatikan terhadap siswa di kelasnya. Demikian pula untuk orang tua, jika anaknya mengalami kejadian perundungan atau bullying untuk segera melaporkan ke wali kelasnya. Supaya permasalahan yang muncul bisa diantisipasi sedini mungkin.

*) Kepala Sekolah SDN Purwodadi Kec. Angsana Editor : Muhammad Helmi
#Opini