Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Makna Sumpah Pemuda di "Zaman Now"

Muhammad Helmi • Selasa, 1 November 2022 | 11:37 WIB
Kepala SDN Penyolongan, Kabupaten Tanah Bumbu
Kepala SDN Penyolongan, Kabupaten Tanah Bumbu
Oleh Indra Kusuma,

MIRIS melihat pemuda zaman sekarang. Banyak remaja bahkan mahasiswa jika ditanya apa isi dan makna Sumpah Pemuda, mengaku tidak tahu.

Mengingat sewaktu zaman penulis dulu bersekolah, setiap tanggal 28 Oktober ada upacara bendera. Pesertanya mengenakan pakaian daerah dari seluruh Indonesia.

Dalam apel itu dibacakan ikrar Sumpah Pemuda yang terus membekas sampai sekarang. Kelar upacara, baru karnaval dengan berjalan kaki. Menampilkan pakaian adat yang dikenakan, bangga luar biasa ketika bertemu orang-orang yang menonton di sepanjang jalan.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Sumpah Pemuda? Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari muda-mudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia, Sumpah Pemuda juga suatu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan hasil rumusan dari Kongres Pemuda II di Batavia.

Dengan Sumpah Pemuda, diharapkan pemuda Indonesia pada masa itu bersatu untuk mengusir penjajah. Syukurlah tujuan itu berhasil tercapai saat Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Kelahiran

Kongres Pemuda II dilangsungkan selama dua hari pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Hari pertama, kongres menempati Gedung Katholikee Jongelingen Bond atau Gedung Pemuda Katolik, sedangkan kongres di hari kedua diadakan di Gedung Oost Java (sekarang di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat).

Tujuan kongres adalah (1) melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda Indonesia, (2) membicarakan beberapa masalah pergerakan, serta (3) memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan.

Kongres ini diikuti oleh lebih banyak peserta dari kongres pertama, termasuk Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya.

Gedung yang nantinya menjadi tempat dibacakannya Sumpah Pemuda merupakan rumah pondokan atau asrama pelajar/mahasiswa milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 ini kemudian diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Hadir pula Wage Rudolf Supratman yang memainkan lagu Indonesia Raya di Kongres Pemuda II dengan alunan biolanya. Lagu Indonesia Raya juga dinyanyikan untuk pertama kalinya dalam kongres ini oleh Dolly Salim yang tidak lain adalah putri dari Haji Agus Salim.

Berikut isi Sumpah Pemuda, "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

" Ada nilai-nilai luhur di sana. Seperti nasionalisme. Adanya rasa kebersamaan, perasaan senasib, kedekatan fisik maupun nonfisik, dan persamaan tujuan.

Cinta tanah air, artinya kita bangga dan setia terhadap bangsa dan negara ini. Lalu menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, dan bangga menggunakan produk buatan Indonesia.

Persatuan Sumpah Pemuda membuktikan bahwa perbedaan yang ada di Indonesia tidaklah menjadi pemecah, melainkan pemersatu, sebagai bentuk perwujudan dari Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.

Kebersamaan serta persaudaraan adanya kesamaan nasib dapat menimbulkan dan mempererat rasa kebersamaan serta persaudaraan.

Hal ini tentunya dapat membuka kesadaran bahwa kepentingan bersama itu jauh lebih utama dan penting daripada kepentingan individu atau golongan tertentu saja. Selain empat nilai di atas, berikut beberapa nilai luhur lainnya yang terkandung dalam Sumpah Pemuda: 1) sikap rela berkorban, 2) mengutamakan kepentingan bangsa, 3) bisa menerima dan menghargai perbedaan, dan 4) meningkatkan semangat gotong royong.

Semangat Juang Generasi Muda

Dalam rumusan Sumpah Pemuda akan kita temukan betapa gelora para pemuda berkobar untuk menciptakan kesatuan dan persatuan. Semangat juang dalam isi Sumpah Pemuda bisa menjadi contoh nyata bagi generasi muda saat ini untuk mengambil langkah dalam mengisi kemerdekaan.

Pemberian makna yang dalam terhadap Sumpah Pemuda akan menumbuhkan semangat juang mendapatkan suatu pencapaian tertentu. Makna Sumpah Pemuda yang bisa diambil adalah semangat terus berkobar sekalipun banyak rintangan seperti yang dilakukan para pemuda generasi terdahulu.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa. Masyarakat Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai komunikasi universal dalam negara. Inilah makna Sumpah Pemuda yang perlu dipahami.

Namun yang lebih penting lagi, kebermaknaan Sumpah Pemuda zaman sekarang harus bisa diterapkan oleh para pemuda zaman sekarang. Berikut beberapa cara mudah menerapkan Sumpah Pemuda di zaman sekarang.

Pertama, setop menyebar hoax yang bisa membuat orang lain terpecah belah, artinya sebagai anak muda yang lebih memahami teknologi, kita harus menjadi garda terdepan dalam memerangi kabar bohong.

Kedua, di era demokrasi seperti saat ini, pemuda harus belajar lebih bijak dalam menghadapinya. Harus memahami batasan dan hak-hak dalam menegakkan demokrasi.

Ketiga, bersikap kritis dalam segala hal juga penting. Lebih-lebih dalam hal demokrasi.

Kawal terus jalan pemerintahan, berikan saran dan kritik yang membangun. Jangan sampai menghina apalagi menjatuhkan.

Keempat, umumnya saat ini kita selalu berkomunikasi di media sosial. Nah, anak muda sering kali menggunakan bahasa/istilah bahasa asing yang gaul, tapi jangan lupakan bahasa Indonesia.

Kelima, serbuan produk luar negeri semakin tak terbendung. Impor barang-barang yang menyesuaikan tren semakin banyak, tidak ada salahnya, tapi kita juga harus peduli dengan produk dalam negeri
Terakhir, Indonesia terdiri dari banyak suku, ras dan agama. Menjaga toleransi adalah kewajiban.

Apapun latar belakang kita, perbedaan dan keragaman adalah kekayaan Indonesia yang wajib dijaga. Setiap perbedaan jangan dijadikan alasan untuk memecah belah warisan para leluhur terdahulu. (*/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Opini