Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Coaching Model TIRTa

Muhammad Helmi • Selasa, 27 April 2021 - 09:19 WIB
coaching-model-tirta
coaching-model-tirta

Pendekatan kepada murid sangat perlu dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Pendekatan dalam metode pembelajaran sudah kerap kali kita gunakan dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Akan tetapi, bagaimana bila siswa tidak mempunyai motivasi dari dalam dirinya sendiri?


===================================
Oleh: Dewi Nur Utami Fithria, S.Pd
Guru di UPTD SD Negeri Muara Asam-Asam
===================================


Bagaimana siswa menemukan potensi yang dimilikinya untuk bisa bangkit dan melaju dengan hasil yang memuaskan? Bagaimana cara agar siswa dan guru sama-sama saling memahami apa yang sebenarnya diperlukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru sehinggamendapatkan pembelajaran yang tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan siswa, sehingga terwujudlah merdeka belajar yang diidam-idamkan?


Di modul program guru penggerak dijabarkan pendekatan yang dianjurkan digunakan guru dengan siswa, atau guru dengan guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Program guru penggerak menargetkan adanya agen-agen transformasi pendidikan untuk mewujudkan siswa merdeka, guru merdeka, dan merdeka belajar.


Siswa merdeka belajar bukan siswa yang diberi kebebasan semaunya sendiri dalam belajar, tetapi siswa merdeka belajar adalah siswa yang termotivasi secara instrinsik dan kinerja akademis. Siswa merdeka belajar merupakan siswa yang memiliki pengharapan tinggi, mereka memasang target belajar dan standar kinerja yang sedikit lebih tinggi dari apa yang dapat mereka capai, karena mereka bisa menyelarasakan diri mereka dengan tujuan yang ingin mereka capai.


Merdeka belajar adalah cara belajar dan lingkungan yang didesain guru untuk memungkinkan tumbuhnya murid merdeka yang memiliki kemandirian dan motivasi instrinsik. Untuk memenuhi merdeka belajar maka dianjurkan pembelajaran diferensiasi dan pembelajaran sosial emosional. Untuk menerapkan kedua pembelajaran tersebut dengan hasil yang sesuai target, maka perlu dilakukan pendekatan untuk menggali dan mengenali potensi dari masing-masing murid.

Coaching Model TIRTa
Di dalam dunia kerja, istilah coaching bukanlah hal baru. Tetapi pada dunia pendidikan istilah coaching masing sangat terdengar baru. Coaching adalah proses kolaborasi antara coach dengan coachee, dimana kedudukan keduanya adalah setara. Sebelum memasuki lebih jauh mengenai coaching, kita harus membedakan antara coaching, mentoring, dan konseling. Apa perbedaan coaching dengan mentoring dan konseling?


Mentoring adalah proses memberikan tips atau cara-cara berdasarkan pengalaman untuk mengatasi kesulitan dari mentor kepada mentee. Contohnya guru adalah mentor bagi muridnya, karena guru memiliki pengalaman dan keahlian yang lebih banyak dibanding muridnya. Kegiatan ini melibatkan peristiwa masa lalu.


Konseling adalah proses membantu menyelesaikan masalah oleh konselor terhadap klien, sehingga klien bisa mendapatkan solusi dari permasalahannya. Kegiatan ini melibatkan peristiwa masa lalu. Misal ada siswa yang sering terlambat datang ke sekolah, maka biasanya akan datang kepada guru bimbingan konseling.


Coaching adalah proses seorang coach mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada coachee sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian atas permasalahnnya sendiri, konteks yang dibicarakan adalah masa sekarang dan masa yang akan datang.


Contoh seorang guru yang melakukan coaching kepada siswa yang nilainya menurun karena ada kesulitan dalam memahami pelajaran, disini guru sebagai coach hanya bertugas mendengarkan semua cerita siswa dan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk memancing potensi siswa tersebut untuk menemukan solusi atas permasalahannya.


Coaching model TIRTa adalah proses coaching yang menerapkan langkah-langkah sebagai berikut, (T) tujuan, (I) identifikasi masalah, (R) rencana Aksi, dan (Ta) Tanggung jawab. Tirta sendiri memiliki arti ‘Air”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya.


Coaching dalam konteks sekolah, sesuai dengan pemikiran KI hajar Dewantara “Tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat sehingga dapat memperbaiki perilaku”. Peran seorang coach adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan anggota masyarakat. Coaching merupakan langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya dalam kemerdekaan belajar. Coaching diharapkan akan meningkatkan hasil pembelajaran yang berpusat pada siswa yaitu pembelajaran diferensiasi dan pembelajaran sosial emosional agar lebih optimal pelaksanaannya.


Saat seorang guru menjadi coach maka harus memiliki empat kompetensi dasar yaitu : (1) keterampilan membangun dasar proses coaching, (2) keterampilan membangun hubungan baik, (3) keterampilan komunikasi, (3) keterampilan berkomunikasi, dan (4) keterampilan memfasilitasi pembelajaran.


Untuk memulai proses coaching kita tentu harus mengenal siswa dengan baik, memahami permasalahan siswa, serta apa saja kemungkinan yang membuat masalah itu ada. Setelah mengenal siswa dengan baik, maka kita harus bisa membangun hubungan yang baik dengan siswa tersebut, sehingga siswa tersebut merasa nyaman saat bersama kita. Setelah itu kita bisa melakukan coaching dengan menerapkan kemampuan berkomunikasi yang memberdaya.


Ada empat unsur yang mendasari prinsip komunikasi yang memberdaya, yaitu: (1) hubungan saling mempercayai, (2) menggunakan data yang benar, (3) bertujuan menuntun para pihak untuk optimalisasi potensi, (4) rencana tindak lanjut atau aksi.


Selain prinsip utama tersebut, sebagai coach kita juga memiliki empat aspek berkomunikasi yang wajib kita pahami dan kita latih. Petama, komunikasi asertif, yaitu komunikasi yang didalamnya ada rasa jujur dan terhormat, akan berpendapat dan mendengarkan pendapat yang lain. Ada tindakan proaktif sehingga pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik.


Kedua, pendengar aktif, seorang coach yang baik lebih banyak mendengaarkan dan kurang berbicara. Coach harus fokus pada komunikasi bukan sibuk dengan pikiran senidri. Ketiga, keterampilan bertanya, ada enam jenis pertanyaan yaitu pertanyaan terbuka, pertanyaan berfokus pada tujuan, pertanyaan reflektif, pertanyaan eksplorasi, pertanyaan yang mengukur pemahaman, dan pertanyaan aksi.


Sedangkan keempat, mendengaarkan aktif, yaitu memberikan perhatian pada lawan bicara, memberikan respon kecil, menanggapi perasaan dengan tepat, menenagskan kembali makna kesan, dan memberikan pertanyaan. Dalam bertanyan hindari pertanyaan tertutup, yaitu pertanyaan yang jawabannya hanya “ya” atau “tidak”.


Saat coaching kita harus mengenali pemahaman yang dimiliki seorang coachee karena potensi yang akan coachee keluarkan sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. pada proses pembelajaran guru bisa menentukan mana siswa yang bisa mendapatkan coaching, mana siswa yang mendapat mentoring, dan mana siswa yang mendapatkan konseling.


Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan hasil dari proses pembelajaran di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Mewujudkan merdeka belajar memerlukan guru merdeka dan murid merdeka. Dengan coaching kita buat jalan untuk membentuk guru merdeka dan murid merdeka sehingga terwujudlah merdeka belajar. (*)


 

Editor : Muhammad Helmi