alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 8 October 2022

Garis Kemiskinan

ADA tiga macam ngibul: bohong, bohong banget, dan statistik. Bukan saya lho yang bilang. Itu ujar Benjamin Disraeli. Ketemu di buku Darrell Huff, judulnya How to Lie with Statistics. Terbit tahun 1954, buku itu ternyata masih relevan untuk dibaca pada 2022.

Menyangkut jenis yang disebut terakhir, ambil contoh terdekat. Juli lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan warga miskin Kalimantan Selatan berkurang 12,4 ribu jiwa.

Disebutkan pada Maret 2022, penduduk miskin di provinsi ini berjumlah 195,7 ribu jiwa. Bandingkan dengan Maret 2021, sebanyak 208,1 ribu jiwa dari populasi 4,3 juta jiwa.

Data itu kemudian berulang-ulang dikutip dalam pidato bapak kepala daerah. Guna mengukuhkan klaim keberhasilan pembangunan dan efeknya pada taraf kesejahteraan masyarakat.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Ajaib. Harga barang dan ongkos hidup semakin mahal, kok bisa kemiskinan menurun?

Baca Juga :  Pengabdi Setan

Bukan karena penduduk miskin di Banua meninggal dunia secara serempak. Jawabannya terletak pada garis kemiskinan. Patokan yang dipakai.

Garis kemiskinan Kalsel adalah pengeluaran Rp553.073 per bulan untuk kebutuhan dasar makanan dan non makanan.

Artinya kalau penghasilan dalam sebulan kurang dari setengah juta rupiah, mohon maaf, Anda memang melarat.

Tapi bila pendapatan sudah satu juta rupiah, mari ucapkan selamat, Anda resmi masuk golongan mapan.

Astaga… siapa coba yang sanggup bertahan hidup di republik ini hanya dengan duit 500 ribu sebulan? Bahkan upah minimum di Banjarmasin saja sudah Rp3 juta.
Mungkin cukup dengan gopek. Tetapi setelah membiasakan puasa Senin Kamis ditambah puasa Sabtu Minggu.

Baca Juga :  DIGIPAY-MARKETPLACE: MAKIN AMAN DAN MUDAH BELANJA BARANG/JASA PEMERINTAH

Selain statistik, ada satu lagi, yakni “permainan” kriteria. Dinas Sosial kerap menggolongkan masyarakat dengan istilah keluarga miskin, sangat miskin, hampir miskin dan rentan miskin. Walaupun batasan antar golongan itu membingungkan.

Jadi lewat manipulasi standar hidup, menarik garisnya ke atas atau ke bawah, pemerintah bisa dengan mudah mengubah status seseorang di tepi jurang kemiskinan. Tergantung kebutuhan.

Seperti untuk keperluan propaganda yang menyatakan subsidi tidak tepat sasaran. Bahwa solar dan pertalite diminum orang mampu–kalian yang penghasilannya di atas 500 ribu.

Mulai sekarang, ada baiknya berhati-hati terhadap statistik. Umpamanya ada yang mengatakan perekonomian daerah sudah pulih, simak dengan kritis.
Jangan-jangan yang menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar tiga koma sekian persen itu cuma segelintir cukong. (gr/fud)

ADA tiga macam ngibul: bohong, bohong banget, dan statistik. Bukan saya lho yang bilang. Itu ujar Benjamin Disraeli. Ketemu di buku Darrell Huff, judulnya How to Lie with Statistics. Terbit tahun 1954, buku itu ternyata masih relevan untuk dibaca pada 2022.

Menyangkut jenis yang disebut terakhir, ambil contoh terdekat. Juli lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan warga miskin Kalimantan Selatan berkurang 12,4 ribu jiwa.

Disebutkan pada Maret 2022, penduduk miskin di provinsi ini berjumlah 195,7 ribu jiwa. Bandingkan dengan Maret 2021, sebanyak 208,1 ribu jiwa dari populasi 4,3 juta jiwa.

Data itu kemudian berulang-ulang dikutip dalam pidato bapak kepala daerah. Guna mengukuhkan klaim keberhasilan pembangunan dan efeknya pada taraf kesejahteraan masyarakat.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Ajaib. Harga barang dan ongkos hidup semakin mahal, kok bisa kemiskinan menurun?

Baca Juga :  Blunder Politik Tukang Bakso

Bukan karena penduduk miskin di Banua meninggal dunia secara serempak. Jawabannya terletak pada garis kemiskinan. Patokan yang dipakai.

Garis kemiskinan Kalsel adalah pengeluaran Rp553.073 per bulan untuk kebutuhan dasar makanan dan non makanan.

Artinya kalau penghasilan dalam sebulan kurang dari setengah juta rupiah, mohon maaf, Anda memang melarat.

Tapi bila pendapatan sudah satu juta rupiah, mari ucapkan selamat, Anda resmi masuk golongan mapan.

Astaga… siapa coba yang sanggup bertahan hidup di republik ini hanya dengan duit 500 ribu sebulan? Bahkan upah minimum di Banjarmasin saja sudah Rp3 juta.
Mungkin cukup dengan gopek. Tetapi setelah membiasakan puasa Senin Kamis ditambah puasa Sabtu Minggu.

Baca Juga :  Majas, Bukan Poster Seksis

Selain statistik, ada satu lagi, yakni “permainan” kriteria. Dinas Sosial kerap menggolongkan masyarakat dengan istilah keluarga miskin, sangat miskin, hampir miskin dan rentan miskin. Walaupun batasan antar golongan itu membingungkan.

Jadi lewat manipulasi standar hidup, menarik garisnya ke atas atau ke bawah, pemerintah bisa dengan mudah mengubah status seseorang di tepi jurang kemiskinan. Tergantung kebutuhan.

Seperti untuk keperluan propaganda yang menyatakan subsidi tidak tepat sasaran. Bahwa solar dan pertalite diminum orang mampu–kalian yang penghasilannya di atas 500 ribu.

Mulai sekarang, ada baiknya berhati-hati terhadap statistik. Umpamanya ada yang mengatakan perekonomian daerah sudah pulih, simak dengan kritis.
Jangan-jangan yang menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar tiga koma sekian persen itu cuma segelintir cukong. (gr/fud)

Trending

Berita Terbaru

Guru Teladan Dambaan Peserta Didik

Republik Minus Kepercayaan

PDAM Versus PTAM

Ulil Albab

/