30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 5 February 2023

Esensi Haul

AWAL tahun 2000-an, remaja sekuler ini berangkat ke Sekumpul, Martapura.

Oleh: Sjarafoeddin
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

Dari Banjarmasin naik sedan, ikut rombongan bapak-bapak berpakaian serba putih.
Ia diajak marbot dari masjid di madrasah tsanawiyah tempatnya bersekolah.

Dengan sarung yang kedodoran, lipatannya kurang rapi, ia membayangkan bakal duduk di saf paling belakang.

Kenyataannya, ia hanya duduk di teras rumah warga. Menonton pengajian dari televisi yang direlai dari Musala Ar-Raudhah.

Si kaum menjelaskan, kalau datang bakda zuhur, memang mustahil kebagian tempat duduk di dalam kompleks langgar.

Ahad berikutnya, ia dibujuk lagi ke Sekumpul. Tapi ia menolak, lebih memilih bermain bola.
Pembaca, remaja itu adalah saya.

Walaupun cuma sekali, saya masih ingat isi tausiahnya. Guru Sekumpul menjelaskan tentang tata cara berdoa. Temanya sederhana, ulasannya rinci, bahasanya ringan.

Beberapa tahun kemudian, beliau wafat. Saya sudah di madrasah aliyah. Hari itu, 10 Agustus 2005, awan mendung menggantung.

Baca Juga :  300 Nakes Siaga di 20 Posko Haul Sekumpul

Semua kelas belajar diliburkan. Kepala sekolah mengajak guru dan siswa ke masjid untuk menunaikan salat gaib. Menyembahyangkan jenazah KH Muhammad Zaini Ghani dari kejauhan.

Beberapa kawan menangis. Sedangkan saya terlalu sibuk mengingat-ingat bacaan salat fardu kifayah.

Saya baru ke Sekumpul lagi setelah bekerja menjadi wartawan. Saat mereportase pengalaman ziarah untuk rubrik Ramadan.

Hingga ditugasi memotret haul ke-12 pada April 2017. Dan saya terkesima. Menyaksikan lautan manusia menutupi pertigaan Jalan Ahmad Yani km 39 sampai Sekumpul ujung.

Kalau bukan demi cinta, lantas apa yang bisa mengumpulkan jemaah sebanyak itu? Kalau bukan karena cinta, lalu apa yang bisa menggerakkan para donatur dan relawan?

Tahun ini, setelah pagebluk covid takluk dan pembatasan dicabut, jemaah berharap haul akbar kembali digelar. Umat sudah sangat rindu.

Namun, kabarnya haul di Musala Ar-Raudhah hanya dibuka untuk kalangan terbatas: keluarga, ulama, dan warga Sekumpul.

Baca Juga :  Empat Posko Jemaah Haul Guru Sekumpul di Rute Marabahan-Banjarmasin

Tak perlu bersedih. Kita masih bisa mengikuti haul di tempat lain. Beberapa surau dan majelis taklim menggelar haul kecil-kecilan.

Paling sederhana, seusai salat bisa menghadiahkan Fatihah Empat kepada abah guru.
Penulis yang daif ini berkeyakinan, inti dari haul adalah mengingat-ingat lagi yang telah pergi.

Dalam hal ini, Guru Sekumpul telah mewasiatkan sepuluh pesan. Ketika dibaca-baca lagi, sungguh relevan dengan kondisi terkini.

Menjelang Pemilu 2024, suasana mulai panas. Kita ternyata masih saja mudah dibelah-belah. Terpancing umpatan kadrun, kampret, dan cebong. Kita seolah-olah tak pernah belajar dari pengalaman Pemilu 2019.

Itulah mengapa ajaran Guru Sekumpul patut kembali dibaca dan diingat.

Kata beliau, berbaik sangkalah terhadap sesama muslim. Mudahlah memaafkan kesalahan orang lain. Dan janganlah melayani yang dengki dan adu asah. (*)

AWAL tahun 2000-an, remaja sekuler ini berangkat ke Sekumpul, Martapura.

Oleh: Sjarafoeddin
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

Dari Banjarmasin naik sedan, ikut rombongan bapak-bapak berpakaian serba putih.
Ia diajak marbot dari masjid di madrasah tsanawiyah tempatnya bersekolah.

Dengan sarung yang kedodoran, lipatannya kurang rapi, ia membayangkan bakal duduk di saf paling belakang.

Kenyataannya, ia hanya duduk di teras rumah warga. Menonton pengajian dari televisi yang direlai dari Musala Ar-Raudhah.

Si kaum menjelaskan, kalau datang bakda zuhur, memang mustahil kebagian tempat duduk di dalam kompleks langgar.

Ahad berikutnya, ia dibujuk lagi ke Sekumpul. Tapi ia menolak, lebih memilih bermain bola.
Pembaca, remaja itu adalah saya.

Walaupun cuma sekali, saya masih ingat isi tausiahnya. Guru Sekumpul menjelaskan tentang tata cara berdoa. Temanya sederhana, ulasannya rinci, bahasanya ringan.

Beberapa tahun kemudian, beliau wafat. Saya sudah di madrasah aliyah. Hari itu, 10 Agustus 2005, awan mendung menggantung.

Baca Juga :  300 Nakes Siaga di 20 Posko Haul Sekumpul

Semua kelas belajar diliburkan. Kepala sekolah mengajak guru dan siswa ke masjid untuk menunaikan salat gaib. Menyembahyangkan jenazah KH Muhammad Zaini Ghani dari kejauhan.

Beberapa kawan menangis. Sedangkan saya terlalu sibuk mengingat-ingat bacaan salat fardu kifayah.

Saya baru ke Sekumpul lagi setelah bekerja menjadi wartawan. Saat mereportase pengalaman ziarah untuk rubrik Ramadan.

Hingga ditugasi memotret haul ke-12 pada April 2017. Dan saya terkesima. Menyaksikan lautan manusia menutupi pertigaan Jalan Ahmad Yani km 39 sampai Sekumpul ujung.

Kalau bukan demi cinta, lantas apa yang bisa mengumpulkan jemaah sebanyak itu? Kalau bukan karena cinta, lalu apa yang bisa menggerakkan para donatur dan relawan?

Tahun ini, setelah pagebluk covid takluk dan pembatasan dicabut, jemaah berharap haul akbar kembali digelar. Umat sudah sangat rindu.

Namun, kabarnya haul di Musala Ar-Raudhah hanya dibuka untuk kalangan terbatas: keluarga, ulama, dan warga Sekumpul.

Baca Juga :  Tiga Hari Gratiskan Makanan

Tak perlu bersedih. Kita masih bisa mengikuti haul di tempat lain. Beberapa surau dan majelis taklim menggelar haul kecil-kecilan.

Paling sederhana, seusai salat bisa menghadiahkan Fatihah Empat kepada abah guru.
Penulis yang daif ini berkeyakinan, inti dari haul adalah mengingat-ingat lagi yang telah pergi.

Dalam hal ini, Guru Sekumpul telah mewasiatkan sepuluh pesan. Ketika dibaca-baca lagi, sungguh relevan dengan kondisi terkini.

Menjelang Pemilu 2024, suasana mulai panas. Kita ternyata masih saja mudah dibelah-belah. Terpancing umpatan kadrun, kampret, dan cebong. Kita seolah-olah tak pernah belajar dari pengalaman Pemilu 2019.

Itulah mengapa ajaran Guru Sekumpul patut kembali dibaca dan diingat.

Kata beliau, berbaik sangkalah terhadap sesama muslim. Mudahlah memaafkan kesalahan orang lain. Dan janganlah melayani yang dengki dan adu asah. (*)

Trending

Haul Guru Sekumpul

Dapatkan update terkini berita tentang Haul ke-18 Guru Sekumpul tahun 2023

Menguras Tenaga Penyelenggara Pemilu 2024

Memahami Monolog Mega

Kucing Bukan Hama

Berita Terbaru