alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Friday, 7 October 2022

Ulil Albab

INNALILLAH. Malang nian republik ini. Ditinggal dua cendekiawan sekaligus dalam waktu berdekatan.

Jumat 27 Mei, Buya Ahmad Syafii Maarif wafat. Ahad 18 September, Prof Azyumardi Azra menyusul. Alfatihah….

Lima bulan sebelumnya, ketika Azyumardi dilantik menjadi Ketua Dewan Pers, saya turut berbangga.

Bagi alumni IAIN, beliau memang bukan sosok yang asing. Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Kajiannya tentang sejarah jaringan ulama Timur Tengah dan Melayu, amat sering dikutip.

Selain kepakarannya, ada dua hal yang mengesankan dari Azyumardi. Pertama, ia pernah bertugas di Sekretariat Wakil Presiden dan Staf Khusus Presiden.

Namun, meski pernah masuk lingkaran istana, Azyumardi tak lantas melempem.

Contoh saat tampil ke depan publik untuk mengecam pemecatan 51 pegawai KPK. Azyumardi bahkan mencap UU IKN (Undang-Undang Ibu Kota Negara Baru) sebagai produk oligarki.

Kedua, umumnya orang kritis mudah terjebak dalam sikap pesimis.

Baca Juga :  Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Terdengar sinis. Apa saja dicurigai. Kalau perlu dicibir. Sedangkan Azyumardi berbeda.

Dalam kumpulan kolomnya yang dibukukan, Azyumardi justru memilih judul Indonesia Bertahan (2020).

Bahkan dalam makalah terakhir yang belum sempat dipaparkan di Kajang, Azyumardi menulis tentang masa depan Asia Tenggara.

Beliau yakin, Indonesia dan Malaysia bisa mengambil kesempatan di tengah kemunduran Amerika Serikat dan kebangkitan Tiongkok.

Anda perlu keberanian untuk bisa seoptimis itu!

Sedangkan Buya Syafii Maarif adalah panutan. Teladan di tengah negeri yang tuna adab ini.

Ketua Umum PP Muhammadiyah pada masa pergolakan reformasi itu tidak silau dengan harta dan jabatan. Politik praktis tak bisa menggodanya.

Beliau tinggal di rumah KPR. Ke mana-mana mengayuh sepeda, kalau jauh naik kereta api. Bila sakit mengantre di rumah sakit bersama pasien lain.

Satu hal yang sulit ditiru, Buya tak sungkan untuk menegur sahabat-sahabatnya.

Baca Juga :  Majas, Bukan Poster Seksis

Dalam autobiografinya Titik-Titik Kisar di Perjalananku (2009), Buya dengan enteng mengkritik Cak Nur, Gus Dur, BJ Habibie dan Amien Rais.

Ini bukti bahwa Buya sudah terbebas dari ewuh pekewuh, budaya nggak enak hati yang selama ini mengungkung mental kita.

Buya juga tak ragu untuk berbeda pendapat. Mereka yang tak nyaman mendengar pendapatnya, dengan tega melabelinya sebagi muslim liberal.

Sampai akhir hayat, Buya cemas. Tak lelah ia mengingatkan, umat yang bahlul juga akan memilih pemimpin yang bahlul.

Jadi bagaimana sekarang? Kedua ulil albab ini telah mewariskan banyak buku. Mari dibaca lagi, diresapi.

Faedahnya insyaallah akan mengalir sebagai pahala jariyah mereka.

Dan siapa tahu, dari situ akan muncul barisan cendekiawan muda yang menggantikan peran mereka. Kita berharap, kita menanti. (gr/fud)

INNALILLAH. Malang nian republik ini. Ditinggal dua cendekiawan sekaligus dalam waktu berdekatan.

Jumat 27 Mei, Buya Ahmad Syafii Maarif wafat. Ahad 18 September, Prof Azyumardi Azra menyusul. Alfatihah….

Lima bulan sebelumnya, ketika Azyumardi dilantik menjadi Ketua Dewan Pers, saya turut berbangga.

Bagi alumni IAIN, beliau memang bukan sosok yang asing. Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Kajiannya tentang sejarah jaringan ulama Timur Tengah dan Melayu, amat sering dikutip.

Selain kepakarannya, ada dua hal yang mengesankan dari Azyumardi. Pertama, ia pernah bertugas di Sekretariat Wakil Presiden dan Staf Khusus Presiden.

Namun, meski pernah masuk lingkaran istana, Azyumardi tak lantas melempem.

Contoh saat tampil ke depan publik untuk mengecam pemecatan 51 pegawai KPK. Azyumardi bahkan mencap UU IKN (Undang-Undang Ibu Kota Negara Baru) sebagai produk oligarki.

Kedua, umumnya orang kritis mudah terjebak dalam sikap pesimis.

Baca Juga :  Vigilante

Terdengar sinis. Apa saja dicurigai. Kalau perlu dicibir. Sedangkan Azyumardi berbeda.

Dalam kumpulan kolomnya yang dibukukan, Azyumardi justru memilih judul Indonesia Bertahan (2020).

Bahkan dalam makalah terakhir yang belum sempat dipaparkan di Kajang, Azyumardi menulis tentang masa depan Asia Tenggara.

Beliau yakin, Indonesia dan Malaysia bisa mengambil kesempatan di tengah kemunduran Amerika Serikat dan kebangkitan Tiongkok.

Anda perlu keberanian untuk bisa seoptimis itu!

Sedangkan Buya Syafii Maarif adalah panutan. Teladan di tengah negeri yang tuna adab ini.

Ketua Umum PP Muhammadiyah pada masa pergolakan reformasi itu tidak silau dengan harta dan jabatan. Politik praktis tak bisa menggodanya.

Beliau tinggal di rumah KPR. Ke mana-mana mengayuh sepeda, kalau jauh naik kereta api. Bila sakit mengantre di rumah sakit bersama pasien lain.

Satu hal yang sulit ditiru, Buya tak sungkan untuk menegur sahabat-sahabatnya.

Baca Juga :  Dunia Baru yang Mencemaskan

Dalam autobiografinya Titik-Titik Kisar di Perjalananku (2009), Buya dengan enteng mengkritik Cak Nur, Gus Dur, BJ Habibie dan Amien Rais.

Ini bukti bahwa Buya sudah terbebas dari ewuh pekewuh, budaya nggak enak hati yang selama ini mengungkung mental kita.

Buya juga tak ragu untuk berbeda pendapat. Mereka yang tak nyaman mendengar pendapatnya, dengan tega melabelinya sebagi muslim liberal.

Sampai akhir hayat, Buya cemas. Tak lelah ia mengingatkan, umat yang bahlul juga akan memilih pemimpin yang bahlul.

Jadi bagaimana sekarang? Kedua ulil albab ini telah mewariskan banyak buku. Mari dibaca lagi, diresapi.

Faedahnya insyaallah akan mengalir sebagai pahala jariyah mereka.

Dan siapa tahu, dari situ akan muncul barisan cendekiawan muda yang menggantikan peran mereka. Kita berharap, kita menanti. (gr/fud)

Trending

Berita Terbaru

Guru Teladan Dambaan Peserta Didik

Republik Minus Kepercayaan

PDAM Versus PTAM

Mobil Listrik

/