alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Jumat, 21 Januari 2022

Bisnis Kafe

SEORANG teman yang berniat membangun bisnis di Banjarbaru bertanya kepada saya tentang prospek kafe di masa depan. “Apakah menjamurnya kafe sekarang hanya sebuah fenomena musiman?”

Sebagai pebisnis dengan modal terbatas, saya memahami dia tak ingin berjudi dengan tren. Dia ingin berinvestasi pada bisnis jangka panjang. Kafe, memang bisnis yang menggiurkan, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa ini bukanlah sebuah latah budaya sesaat? Seperti misalnya hape blackberry, tanaman janda bolong, atau es kepal milo?

Saya tidak ingin memberi jawaban pasti, yang mungkin bakal membuatnya menyesal kelak. Meski hampir setahun ini saya melihat kafe-kafe menjamur cepat, saya masih tak bisa meraba seberapa solid budaya kopi ini sudah dibentuk di Banjarbaru.

Hanya dari pengamatan saya –itupun hanya di tempat saya bekerja, Chess and Poet Banjarbaru– Banjarbaru sudah melewati level di mana kafe hanya dinikmati sebagai tempat nongkrong dan kumpul-kumpul. Banjarbaru sedang menyambut budaya kafe modern.

Baca Juga :  Ketika Banjarbaru Menjelma jadi Kota Kafe

Budaya kafe modern terikat erat dengan industri kopi. Alih-alih menghadirkan kafe sebagai tempat diskusi lintas status sosial yang biasanya kita kenal pada kedai kopi zaman dulu–sekarang kehadiran kafe menarik orang berdasarkan jenis kopi dan selera yang mereka layani.

Ini berarti model bisnis umum telah beralih dari sebuah kedai berbasis komunitas menjadi berbasis komoditas. Orang-orang ke kafe bukan hanya untuk berkumpul, tetapijuga untuk mendapatkan citarasa kopi yang nikmat.

Kecenderungan ini telah membantu merevitalisasi industri kopi secara keseluruhan. Kafe-kafe hadir bukan hanya menawarkan tempat-tempat yang cozy dan asik, tetapi juga mengkampanyekan biji-biji kopi berkualitas dengan mesin-mesin espresso mengkilap yang berharga ratusan juta.

Memang tak semua kafe bisa memiliki mesin kopi mahal. Tapi metode dan cara meracik kopi yang nikmat selalu ditemukan oleh para penyintas yang kreatif. Ini memungkinkan kafe-kafe dengan modal cekak bisa bersaing dengan para kapitalis raksasa.

Baca Juga :  Tentang yang Pergi

Di kesemuanya, dengan beragamnya pilihan dan permintaan kopi berkualitas tinggi, saya agak yakin bisnis kopi masih akan bertahan setidaknya dalam lima tahun ke depan. Untuk jujur, ini adalah bisnis yang tumbuh sejalan dengan gaya hidup modern. Hanya jika kota berhenti menjadi modern, barulah bisnis kafe bakal meredup.

Tentu ada pengecualian. Mungkin bisnis kafe tidak akan jenuh dalam waktu dekat, hanya saja keseimbangan antara permintaan dan penawaran akan semakin jomplang jika budaya kafe tidak meluas ke luar kota, mencari orang-orang dengan nilai dan minat yang sama.

Teman saya yang lain punya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan ini: “jangan sampai di Banjarbaru ini lebih banyak kafe daripada yang minum kopi.”()

***

Ditulis oleh Randu Alamsyah, Redaktur Hal 1 Radar Banjarmasin

SEORANG teman yang berniat membangun bisnis di Banjarbaru bertanya kepada saya tentang prospek kafe di masa depan. “Apakah menjamurnya kafe sekarang hanya sebuah fenomena musiman?”

Sebagai pebisnis dengan modal terbatas, saya memahami dia tak ingin berjudi dengan tren. Dia ingin berinvestasi pada bisnis jangka panjang. Kafe, memang bisnis yang menggiurkan, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa ini bukanlah sebuah latah budaya sesaat? Seperti misalnya hape blackberry, tanaman janda bolong, atau es kepal milo?

Saya tidak ingin memberi jawaban pasti, yang mungkin bakal membuatnya menyesal kelak. Meski hampir setahun ini saya melihat kafe-kafe menjamur cepat, saya masih tak bisa meraba seberapa solid budaya kopi ini sudah dibentuk di Banjarbaru.

Hanya dari pengamatan saya –itupun hanya di tempat saya bekerja, Chess and Poet Banjarbaru– Banjarbaru sudah melewati level di mana kafe hanya dinikmati sebagai tempat nongkrong dan kumpul-kumpul. Banjarbaru sedang menyambut budaya kafe modern.

Baca Juga :  Ketika Banjarbaru Menjelma jadi Kota Kafe

Budaya kafe modern terikat erat dengan industri kopi. Alih-alih menghadirkan kafe sebagai tempat diskusi lintas status sosial yang biasanya kita kenal pada kedai kopi zaman dulu–sekarang kehadiran kafe menarik orang berdasarkan jenis kopi dan selera yang mereka layani.

Ini berarti model bisnis umum telah beralih dari sebuah kedai berbasis komunitas menjadi berbasis komoditas. Orang-orang ke kafe bukan hanya untuk berkumpul, tetapijuga untuk mendapatkan citarasa kopi yang nikmat.

Kecenderungan ini telah membantu merevitalisasi industri kopi secara keseluruhan. Kafe-kafe hadir bukan hanya menawarkan tempat-tempat yang cozy dan asik, tetapi juga mengkampanyekan biji-biji kopi berkualitas dengan mesin-mesin espresso mengkilap yang berharga ratusan juta.

Memang tak semua kafe bisa memiliki mesin kopi mahal. Tapi metode dan cara meracik kopi yang nikmat selalu ditemukan oleh para penyintas yang kreatif. Ini memungkinkan kafe-kafe dengan modal cekak bisa bersaing dengan para kapitalis raksasa.

Baca Juga :  Tentang yang Pergi

Di kesemuanya, dengan beragamnya pilihan dan permintaan kopi berkualitas tinggi, saya agak yakin bisnis kopi masih akan bertahan setidaknya dalam lima tahun ke depan. Untuk jujur, ini adalah bisnis yang tumbuh sejalan dengan gaya hidup modern. Hanya jika kota berhenti menjadi modern, barulah bisnis kafe bakal meredup.

Tentu ada pengecualian. Mungkin bisnis kafe tidak akan jenuh dalam waktu dekat, hanya saja keseimbangan antara permintaan dan penawaran akan semakin jomplang jika budaya kafe tidak meluas ke luar kota, mencari orang-orang dengan nilai dan minat yang sama.

Teman saya yang lain punya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan ini: “jangan sampai di Banjarbaru ini lebih banyak kafe daripada yang minum kopi.”()

***

Ditulis oleh Randu Alamsyah, Redaktur Hal 1 Radar Banjarmasin

Most Read

Artikel Terbaru

Dunia Baru yang Mencemaskan

Tombol Hapus

Digeprek

Sekepal Aspal