alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 7 October 2022

Obat Merah

MUNTAB, tapi tidak nanap. Semua mafhum harga pertalite, solar dan pertamax bakal dinaikkan.

Berminggu-minggu disuguhi teka teki, pertanyaannya tinggal berapa dan kapan.

Bedanya, jika dahulu dimulai tengah malam pukul 00.00, sekarang pukul 14.30. Sore akhir pekan, ketika pekerja sedang libur dan menikmati tidur siang.

Kali ini juga tak ada demo-demoan. Maklum, kampus sedang sibuk dengan orientasi mahasiswa baru. Tak sempat berunjuk rasa.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Dalam pengumumannya dari istana, presiden memilih diksi “pilihan terakhir”. Seolah kalau belanja subsidi dibiarkan jebol, negara bakal gawat. Padahal masih ada pilihan lain untuk berhemat.

Misalnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyarankan agar dana pensiun seumur hidup anggota DPR dan MPR dihapuskan.

Toh mereka politisi. Bukan pegawai negeri. Jadi buat apa pembayar pajak menanggung biaya hidup mereka sampai mati.
Eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga bersedia melepas dana pensiun mantan menteri.

Baca Juga :  Banjarmasin dan Banjarbaru Belum Memasuki Masa Penggunaan QR Code MyPertamina

Susi bahkan mengusulkan agar instansi dan komisi yang pekerjaannya tidak jelas dibubarkan saja. Sementara yang kurang penting dilebur dengan lembaga lain.
Tentu saya tak bermaksud mencatut nama Bu Sri dan Bu Susi untuk menguatkan kolom ini. Tak adil mengingat posisi keduanya adalah pendukung pencabutan subsidi.

Masih soal ngirit, kalau pengin ekstrem, sekalian saja anggaran perjalanan dinas pejabat dipangkas. Uang saku dikurangi. Akomodasi hotel berbintang digeser ke hotel kelas melati.

Pertanyaannya bukan bisa atau tidak, tapi mau atau emoh. Lagian, jika niatnya adalah menghemat kuota BBM, mengapa selama berbulan-bulan antrean truk yang mengular di SPBU tak diurai?

Menyangkut pengucuran bantuan langsung tunai (BLT) dan subsidi upah sebagai solusi, patut disangsikan. Pertama, nominalnya hanya cukup untuk mengganjal perut. Durasinya juga cuma sebentar.

Baca Juga :  Heboh di Banjarbaru Aksi Vandalisme Simbol Anarko BBM

Dibanding dampak inflasinya, BLT ibarat obat merah yang diusapkan kepada korban yang baru digebuki orang sekampung. Kedua, penyaluran BLT kerap meleset. Ada saja orang miskin yang tercecer dari data penerima. Sementara yang mampu dijatah.

Ini bisa memicu gesekan lintas tetangga, antara yang kebagian dan tidak kebagian. Dan ketiga, mengacu pengalaman selama pandemi kemarin, dana bansos rawan ditilap.

Untung masyarakat sudah terlatih menghadapi mahalnya minyak goreng, cabai, bawang merah, telur ayam dan tarif air leding. Kesabaran masyarakat kita sudah teruji. (gr/fud)

MUNTAB, tapi tidak nanap. Semua mafhum harga pertalite, solar dan pertamax bakal dinaikkan.

Berminggu-minggu disuguhi teka teki, pertanyaannya tinggal berapa dan kapan.

Bedanya, jika dahulu dimulai tengah malam pukul 00.00, sekarang pukul 14.30. Sore akhir pekan, ketika pekerja sedang libur dan menikmati tidur siang.

Kali ini juga tak ada demo-demoan. Maklum, kampus sedang sibuk dengan orientasi mahasiswa baru. Tak sempat berunjuk rasa.

Dori-Tortadas-Fave-Hotel-Radar-Banjarmasin

Dalam pengumumannya dari istana, presiden memilih diksi “pilihan terakhir”. Seolah kalau belanja subsidi dibiarkan jebol, negara bakal gawat. Padahal masih ada pilihan lain untuk berhemat.

Misalnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyarankan agar dana pensiun seumur hidup anggota DPR dan MPR dihapuskan.

Toh mereka politisi. Bukan pegawai negeri. Jadi buat apa pembayar pajak menanggung biaya hidup mereka sampai mati.
Eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga bersedia melepas dana pensiun mantan menteri.

Baca Juga :  Tidak Semua Pekerja Dapat Bantuan Subsidi Upah, Simak Ketentuannya Disini

Susi bahkan mengusulkan agar instansi dan komisi yang pekerjaannya tidak jelas dibubarkan saja. Sementara yang kurang penting dilebur dengan lembaga lain.
Tentu saya tak bermaksud mencatut nama Bu Sri dan Bu Susi untuk menguatkan kolom ini. Tak adil mengingat posisi keduanya adalah pendukung pencabutan subsidi.

Masih soal ngirit, kalau pengin ekstrem, sekalian saja anggaran perjalanan dinas pejabat dipangkas. Uang saku dikurangi. Akomodasi hotel berbintang digeser ke hotel kelas melati.

Pertanyaannya bukan bisa atau tidak, tapi mau atau emoh. Lagian, jika niatnya adalah menghemat kuota BBM, mengapa selama berbulan-bulan antrean truk yang mengular di SPBU tak diurai?

Menyangkut pengucuran bantuan langsung tunai (BLT) dan subsidi upah sebagai solusi, patut disangsikan. Pertama, nominalnya hanya cukup untuk mengganjal perut. Durasinya juga cuma sebentar.

Baca Juga :  Banyak Warga Gagal Registrasi My Pertamina, Dianggap Terlalu Menyulitkan

Dibanding dampak inflasinya, BLT ibarat obat merah yang diusapkan kepada korban yang baru digebuki orang sekampung. Kedua, penyaluran BLT kerap meleset. Ada saja orang miskin yang tercecer dari data penerima. Sementara yang mampu dijatah.

Ini bisa memicu gesekan lintas tetangga, antara yang kebagian dan tidak kebagian. Dan ketiga, mengacu pengalaman selama pandemi kemarin, dana bansos rawan ditilap.

Untung masyarakat sudah terlatih menghadapi mahalnya minyak goreng, cabai, bawang merah, telur ayam dan tarif air leding. Kesabaran masyarakat kita sudah teruji. (gr/fud)

Trending

Berita Terbaru

Guru Teladan Dambaan Peserta Didik

Republik Minus Kepercayaan

PDAM Versus PTAM

Ulil Albab

/