Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Waduh ! Separuh Pasien Baru HIV di Balangan Merupakan Kelompok LSL Usia Muda

M Dirga • Rabu, 4 Maret 2026 | 13:39 WIB

PENDAMPINGAN: Petugas kesehatan saat memberikan layanan edukasi dan pendampingan bagi warga untuk mendorong kesadaran deteksi dini HIV guna menekan angka penularan di Kabupaten Balangan.
PENDAMPINGAN: Petugas kesehatan saat memberikan layanan edukasi dan pendampingan bagi warga untuk mendorong kesadaran deteksi dini HIV guna menekan angka penularan di Kabupaten Balangan.

PARINGIN - Upaya penanggulangan HIV di Kabupaten Balangan masih menghadapi tantangan serius.

Hingga awal 2026, tren penemuan kasus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama pada kelompok populasi kunci.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, sepanjang 2025 terdapat 13 pasien yang menjalani pengobatan HIV.

Jumlah tersebut mencakup pasien temuan lokal maupun pasien dari luar daerah yang memindahkan pengobatannya ke Balangan.

Dari 13 pasien tersebut, sebanyak tujuh orang atau lebih dari 50 persen berasal dari kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Seluruhnya masih berusia muda dan belum menikah.

Secara akumulatif, kelompok LSL juga mendominasi total kasus HIV di Balangan.

Dari 62 kasus yang tercatat, baik yang masih hidup maupun meninggal dunia, sebanyak 31 orang berasal dari kelompok ini.

Supervisor Program HIV Dinkes Balangan, Graha Eka Satria, menyebut kondisi tersebut mencerminkan masih lemahnya deteksi dini di lapangan.

“Kebanyakan pasien baru terdeteksi saat sudah masuk fase AIDS. Padahal, infeksi sudah berlangsung cukup lama dalam tubuh mereka,” ujarnya, Kamis (26/2).

Ia menjelaskan, petugas kesehatan kerap kesulitan menjangkau komunitas LSL karena sifatnya yang tertutup. Penolakan komunikasi dan keengganan menjalani tes darah menjadi hambatan utama dalam skrining dini.

“Mereka sangat sensitif terhadap orang luar. Jika belum merasa sakit, biasanya menolak pemeriksaan. Padahal, keterlambatan deteksi bisa berakibat fatal,” jelasnya.

Stigma sosial juga membuat kesadaran pemeriksaan sukarela masih rendah. Akibatnya, capaian temuan ODHIV di Balangan belum memenuhi target nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI.

Hingga akhir 2025, realisasi temuan baru mencapai 56 kasus atau sekitar 43 persen dari target 130 orang.

Graha menilai, dominasi usia muda pada kasus LSL menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi dan pendekatan di tingkat akar rumput.

“Yang paling penting adalah membuat mereka mau diperiksa sejak dini. Jika deteksi lebih cepat, kualitas hidup bisa terjaga dan penularan dapat ditekan,” pungkasnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
#hiv #Balangan #lsl