Beras merah Paramasan, komoditas lokal Banjar, terbukti mampu menstabilkan lonjakan glukosa darah pada pasien diabetes tipe 2.
Direktur RSUD Ratu Zalecha Martapura, Arief Rachman, memaparkan temuan tersebut dalam Ekspose Hasil Penelitian beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Disdik Banjarbaru Siapkan 12 Sekolah untuk Penginapan 5 Rajab
"Hasil penelitian ini bukan hanya bermanfaat bagi pelayanan kesehatan berbasis evidence, tetapi juga relevan bagi Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian sebagai dasar penguatan kebijakan daerah," ungkapnya saat dikonfirmasi, Jumat (12/12).
Tim peneliti yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter gizi klinis, ahli gizi, dan analis laboratorium menemukan sejumlah fakta penting terkait keunggulan beras merah Paramasan.
Indeks Glikemik Lebih Rendah
Baca Juga: Pemuda Martapura Tewas Dikeroyok dan Ditusuk di Gang Abadi
Indeks glikemik beras merah Paramasan tercatat lebih rendah dibanding beras putih. Konsumsi beras Paramasan membuat waktu puncak glukosa darah pasien diabetes tipe 2 lebih terkontrol, sehingga menekan lonjakan gula darah yang berisiko memperburuk kondisi pasien.
"Kandungan serat tinggi memberikan efek kenyang lebih lama dan menurunkan risiko konsumsi kalori berlebih," jelas Arief.
Berdasarkan uji preferensi, beras Paramasan dianggap lebih pulen dan lembut dibanding beras merah dari daerah lain, sehingga mudah diterima pasien sebagai konsumsi harian.
Baca Juga: Pesta Kembang Api di Banjarbaru Wajib Kantongi Izin Polisi
Aman untuk Diet Rendah Kalori
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan beras Paramasan memiliki kandungan karbohidrat lebih rendah. Hal ini membuatnya aman dikonsumsi penyandang diabetes maupun masyarakat yang menjalankan diet pengurangan kalori.
Tim peneliti menegaskan manfaat besar beras Paramasan hanya dapat optimal bila pemerintah daerah turut memastikan dukungan produksi, distribusi, dan ketersediaannya.
Baca Juga: ISPA Melonjak Drastis di Hulu Sungai Selatan, Tembus 35.404 Kasus
"Potensi pangan lokal ini dinilai strategis bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk mendorong ekonomi petani dan ketahanan pangan daerah," tegas Arief.
Integrasi Kesehatan dan Pertanian
RSUD Ratu Zalecha menegaskan penelitian ini menjadi pijakan awal integrasi sektor kesehatan dan pertanian.
Baca Juga: Akses Masuk Kompleks Sungai Jarak Banjarmasin Terputus Proyek Drainase
Beras merah Paramasan kini dinilai layak menjadi alternatif pangan utama dalam manajemen diet pasien diabetes di Kalimantan Selatan.
Keunggulan beras Paramasan sebelumnya juga mencuri perhatian pada Festival Kuliner Banjar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, akhir September lalu.
"Beras merah dari Jawa biasanya keras. Paramasan lebih pulen dan lembut, mirip beras putih biasa. Itu yang membuatnya istimewa," kata Helda, salah satu peserta asal Paramasan. (*)
Editor : M. Ramli Arisno