Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Stop Normalisasi Perilaku Boti, Dikhawatirkan Bisa Memicu Berkembangnya Gay

Zulvan Rahmatan • Senin, 9 Maret 2026 | 11:51 WIB

Photo
Photo

Istilah boti belakangan makin sering muncul di media sosial hingga diperbincangkan di tongkrongan. Memperdebatkan perilaku laki-laki yang sangat feminim atau kemayu.

        *****

Di Banjarmasin sendiri, topik ini lagi ramai diperdebatkan. Banyak yang mulai bersuara dan mengajak masyarakat, terutama anak muda, untuk tidak menormalisasi perilaku tersebut.

Sebagian orang menilai fenomena ini bukan sekadar soal gaya atau ekspresi diri. Ada kekhawatiran bahwa perilaku tersebut memicu berkembangnya gay alias penyuka lelaki sesama jenis.

Isu ini juga sering dikaitkan dengan kesehatan. Data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan menunjukkan kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL) menyumbang sekitar 26 persen kasus HIV/AIDS hingga 2025. Di Banjarmasin juga termasuk daerah dengan angka tertinggi di Kalsel.

Di tengah perdebatan itu, muncul seorang konten kreator lokal bernama Amat Kazhoang yang cukup vokal di media sosial. Lewat akun Instagramnya, ia kerap menyuarakan kampanye “stop normalisasi boti”. Kontennya yang penuh teriakan dan sindiran sering viral dan memancing diskusi di kalangan netizen.

Baginya, perilaku tersebut tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar atau sebagai takdir sejak lahir. Ia juga menilai penerimaan yang berlebihan dari masyarakat bisa membuat fenomena ini makin berkembang.

Kontennya pun mendapat banyak respons. Ada yang setuju. Ada juga yang memilih bersikap lebih netral.

Mahasiswi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB, Nurul Kamilah mengaku belum pernah berteman dekat dengan seseorang yang dianggap boti. Jika bertemu, ia memilih bersikap biasa saja. “Boti tetap manusia juga. Tapi kalau perilakunya terlalu genit atau berlebihan, jujur rasanya agak risih,” ujarnya.

Menurut Nurul, fenomena ini sering dianggap lucu-lucuan di media sosial. Padahal, jika terus dijadikan konten hiburan, lama-lama masyarakat bisa terbiasa, dan tanpa sadar menganggapnya normal.

Ia mendukung adanya kampanye untuk tidak menormalisasi perilaku tersebut. Menurutnya, langkah itu penting sebelum fenomenanya semakin luas.

“Kalau dibiarkan, nanti bisa jadi contoh (buruk, red) buat generasi berikutnya,” kata cewek berusia 18 tahun tersebut.

Pendapat serupa disampaikan M Irfan Noor Rahman. Ia menilai fenomena boti cukup meresahkan dan bertentangan dengan nilai yang diyakininya.

“Terlahir berbeda mungkin ada. Tapi kalau sengaja mengubah diri dari kodratnya, itu yang saya tolak,” tegas cowok 24 tahun itu.

Ia berharap pemerintah tidak membiarkan fenomena tersebut berkembang tanpa kontrol. Menurutnya, perlu ada sikap tegas agar tidak semakin dianggap wajar.

Selain itu, Irfan menilai keluarga punya peran paling penting dalam membentuk karakter anak sejak awal. “Lingkungan keluarga itu fondasi. Dari situ nilai dan perilaku dibentuk,” jelas karyawan swasta ini.

Mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Adelia Nisrina punya pandangan yang sedikit berbeda. Ia mengaku memiliki teman yang dianggap boti, dan tetap memperlakukannya sebagai teman biasa. Namun, ia juga tidak sepenuhnya nyaman jika perilaku tersebut terlalu ditunjukkan di ruang publik. “Selama tidak mengganggu, sebenarnya tidak masalah. Tapi kalau sudah berlebihan, kadang juga diingatkan,” kata cewek 21 tahun ini.

Adelia tetap mendukung narasi agar perilaku tersebut tidak dinormalisasi di masyarakat. Baginya, penerimaan sebagai teman tidak berarti harus menyetujui semua perilakunya. “Sebagai teman pasti ada rasa sedih juga melihat ulahnya,” ungkap mahasiswi jurus Akuntansi tersebut.

Ia menekankan pentingnya pengawasan dari keluarga, serta edukasi dari pemerintah melalui pendidikan dan sosialisasi. “Keluarga tempat pertama anak belajar nilai. Pemerintah bisa memperkuat lewat pendidikan dan pembinaan,” tutupnya.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#ZPEAK UP #kalimantan selatan #LGBT di Kalsel #kota banjarmasin #Pemuda di Kalsel #Problem Sosial di Kalsel