Dari balik jeruji besi, harapan narapidana perlahan disemai melalui keterampilan sederhana yakni mencangkok tanaman.
****
Di sudut Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banjarbaru, suasana tampak berbeda.
Di bawah terik matahari yang hangat, dua warga binaan tampak telaten mencangkok tananaman. Mereka mengupas kulit batang pepaya, menyiapkan media tanam, lalu membalutnya dengan plastik.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pembinaan Kemandirian Bidang Pertanian yang digagas Lapas Banjarbaru.
Kepala Lapas Kelas IIB Banjarbaru, I Made Supartana, turun langsung membekali para warga binaan dengan keterampilan mencangkok pepaya, salah satu komoditas yang dinilai mudah dibudidayakan serta memiliki nilai ekonomi.
“Pembinaan kemandirian ini kami rancang agar warga binaan memiliki bekal keterampilan praktis. Teknik cangkok pepaya relatif mudah, bisa diterapkan di rumah, dan hasilnya bernilai jual. Harapannya, mereka siap mandiri setelah bebas nanti,” ujar I Made Supartana.
Pelatihan dilakukan secara praktik langsung. Setiap tahapan dijelaskan secara detail, mulai dari pemilihan batang yang tepat, pengupasan kulit, penyiapan media tanam, hingga proses pembungkusan dan pembalutan untuk menjaga kelembapan.
Metode ini dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar menguasai keterampilan.
Bagi Agus Santoso, salah satu warga binaan peserta pelatihan, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah mengenal teknik cangkok tanaman.
“Awalnya saya kira sulit, ternyata bisa dipelajari. Pelatihan ini membuka wawasan kami. Insyaallah nanti bisa kami praktikkan lagi di luar, bahkan jadi peluang usaha,” tutur Agus dengan raut optimistis.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief