Pagi di Pasar Bauntung Banjarbaru selalu dimulai dengan aroma khas. Campuran bau tanah basah, amis ikan, dan bawang merah yang menyengat.
*****
Di salah satu sudut Pasar Bauntung, seorang lelaki tua tampak sibuk membuka ikatan karung. Tangannya cekatan, meski usia tak lagi muda. Namanya Suprapto, 68 tahun, pedagang bawang yang telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di pasar.
Tak banyak yang tahu, sebelum berjualan di Pasar Bauntung, Suprapto memulai perjalanannya sejak era 1980-an. Tahun 1984 menjadi titik awal. Saat itu, ia masih berdagang di Pasar Banjarbaru di Kemuning.
Usianya telah menginjak 40-an tahun ketika pertama kali menekuni dunia perdagangan secara serius. “Sudah lama berjualan. Dari tahun 1984,” ujarnya pelan, seolah menghitung kembali usia yang telah dihabiskan di balik lapak sederhana
Perdagangan bukan pilihan yang datang sekali jadi. Saat ditemui Radar Banjarmasin di lapaknya, ia bercerita sebelum menemukan ritme sebagai pedagang bawang, Suprapto sudah berganti-ganti usaha.
Sayur-mayur pernah ia jajakan. Rokok, makanan ringan, hingga aneka kebutuhan harian pun sempat mengisi lapaknya. Bahkan, cabai pernah menjadi andalan, meski hanya bertahan sementara. “Sudah lima kali ganti usaha,” katanya.
Setiap kali gagal, ia mencoba bangkit dengan dagangan lain. Baginya, pasar adalah ruang belajar. Ia membaca perilaku pembeli, merasakan naik-turunnya harga, dan memahami kerasnya persaingan antar pedagang.
Hingga akhirnya, bawang menjadi pilihannya. Komoditas ini memang berisiko tinggi, tetapi perputaran uangnya cepat. Namun risiko itu datang dengan harga mahal.
Bangun Rumah Bertingkat di Jawa
Sekali belanja, Suprapto biasa mengambil setengah ton bawang di distributor. Angkanya tak kecil. Modal yang harus disiapkan mencapai Rp24 juta.
Itu baru untuk membeli barang, belum termasuk ongkos angkut, tenaga bongkar muat, dan biaya operasional lainnya. “Modal Rp24 juta lebih. Hasil belum tentu segitu,” ujar Suprapto.
Harga bawang sangat fluktuatif. Saat naik, keuntungan bisa terasa. Namun ketika harga anjlok, kerugian datang tanpa ampun. “Kalau turun bisa Rp10 ribu per kilo. Sekali turun, bisa habis modal,” katanya.
Dalam kondisi stabil, Suprapto hanya mengambil untung tipis. Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per sepuluh kilogram. Baginya, yang penting dagangan terus berputar dan modal tetap hidup.
Meski untung tak selalu besar, ketekunan selama puluhan tahun membuahkan hasil. Dari lapak sederhana di pasar, Suprapto mampu membangun rumah bertingkat di Jawa. Anak-anaknya tumbuh dan menempuh kehidupan yang lebih baik.
“Bangun rumah itu juga pelan-pelan. Lima tahun baru bisa naik tingkat,” katanya. Semua dilakukan sedikit demi sedikit, mengikuti kemampuan.
Penghasilannya pun tak menentu. Dalam sebulan, dari bawang saja, pendapatan kotor bisa mencapai Rp6 juta hingga Rp7 juta. Di luar itu, ia juga memiliki beberapa kendaraan yang digunakan untuk keperluan belanja dan distribusi barang.
Pandemi Sempat Menghabiskan Segalanya
Pukulan berat dialami Suprapto saat pandemi Covid-19. Pasar sepi, daya beli turun, dan perputaran uang nyaris berhenti.
Ia menyebut masa itu sebagai titik terendah sepanjang hidupnya berdagang. “Kena Covid itu habis-habisan. Bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga ekonomi. Dagangan tak laku, sementara utang menumpuk," katanya.
Saat pandemi, pasar yang dulu ramai berubah lengang. Suara tawar-menawar nyaris tak terdengar. Bagi Suprapto, bertahan saja sudah menjadi kemenangan.
Tak ada rumus khusus untuk bangkit. Suprapto hanya berpegang pada satu hal: keyakinan. Ia kembali berdagang perlahan, menyesuaikan jumlah belanja, dan menjaga agar modal tetap berputar.
“Yang penting yakin,” katanya singkat. Ia percaya, rezeki tak selalu datang dalam bentuk uang semata. Kesehatan, kesempatan, dan ketenangan hati juga bagian dari rezeki.
Di sela proses bangkit itu, Suprapto sempat menunaikan ibadah umrah. Sebuah perjalanan spiritual yang ia yakini menjadi penguat batin setelah masa sulit.
Menjadi pedagang pasar bukan tanpa stigma. Suprapto mengaku kerap dipandang sebelah mata. Ada yang mencibir, meremehkan profesinya, bahkan menganggap pedagang tak punya masa depan.
“Dulu di kampung, jualan sayur saja sering dipandang remeh,” katanya. Namun ia memilih tak larut dalam penilaian orang lain. Baginya, kerja keras lebih penting daripada gengsi.
“Pedagang itu ya begitu. Rezeki masing-masing,” ujarnya mantap.
Kini, di usia 68 tahun, Suprapto masih berdiri di Pasar Bauntung Banjarbaru. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu, tetapi semangatnya tetap sama. Ia masih menata bawang, melayani pembeli, dan menjaga lapak yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief