Arif Rahman Hakim adalah pengagum Animal Farm karya George Orwell. Sedikit banyak, novel terbitan tahun 1945 itu pasti mempengaruhinya ketika menulis cerpen 'Tikus Kecil yang Diguyur Hujan'.
Penulis, WAHYU RAMADHAN
KITA sudah sering mendengar analisis banjir dari seorang aktivis lingkungan, seorang wali kota, atau pemukim bantaran sungai.
Tapi bagaimana jadinya bila banjir dilihat dari sudut pandang seekor tikus kecil?
Tokoh utama cerita ini, seekor hewan pengerat yang tidak istimewa, mengeringkan badannya di rumah panggung yang tinggi.
Menguntit obrolan manusia yang mengeluhkan hutan dan gunung yang gunduli. Sungai dangkal meluap. Drainase mampat. Dan air bah melanda malam-malam.
Petualangan membawa tikus itu nyasar ke kamp pengungsi banjir. Di sana nasibnya akan ditentukan.
Apakah dijadikan makanan kucing atau ditenggelamkan saja sampai mampus.
Penasaran dengan ending-nya? Silakan membaca cerpen berjudul 'Tikus Kecil yang Diguyur Hujan'.
Cerpen itu membawa Arif Rahman Hakim menjadi pemenang Aruh Sastra Kalsel 2023.
Di mana Banjarmasin pada 27-29 Oktober kemarin menjadi tuan rumah event sastra terbesar di Banua itu.
Ketua Dewan Kesenian (DK) Banjarmasin, Hajriansyah menceritakan, ada 50 cerpenis yang mengikuti Aruh Sastra kemarin.
"Yang menarik, Arif ini sebenarnya suka menulis cerpen. Tapi baru kali ini ia publikasikan dan menang," ungkap Hajri kepada Radar Banjarmasin, Rabu (27/12) malam.
Ada tiga juri untuk kategori cerpen. Mereka adalah Pratiwi Juliani, Zaidinoor dan Hari Insani Putra.
Bagi Hajri pribadi, cerpen Arif memang layak menang. Selain isu yang kompleks, cerpen itu juga membawa kebaharuan.
"Ia memakai binatang sebagai tokohnya," pujinya.
Mendengar pujian Hajri, si pemilik cerpen yang duduk di samping tampak tersenyum malu.
Kepada penulis, Arif tak menampik, ia memang sudah lama senang menulis cerpen. Persisnya sejak 2013 lalu.
Namun baru tahun ini ia berani mengikuti Aruh Sastra. "Coba-coba saja, karena ada hadiahnya," kelakar lelaki kelahiran Tabalong tahun 1990 itu.
Cerpen 'Tikus Kecil yang Diguyur Hujan' itu ditulisnya pada bulan Ramadan. Rampung dalam sepekan.
Soal ide cerita, ayah satu anak itu mengungkap, terinspirasi oleh banjir besar yang melanda Banjarmasin pada Januari 2021 lalu.
Saat itu, rumahnya yang berada di Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur turut kebanjiran. "Di dalam rumah, air sampai selutut orang dewasa," kenangnya.
Dan kebetulan, tema Aruh Sastra tahun ini berbicara tentang lingkungan.
Lalu, mengapa tokoh utamanya seekor tikus kecil? "Awalnya saya memilih katak, ikan... tapi saya ganti dengan tikus," jawabnya.
Arif menginginkan tokoh utamanya menyimbolkan banyak hal. Dan ia rasa, tikus lah yang paling pas.
"Simbol seperti apa yang saya maksud, biar pembaca yang menilai," tambahnya.
Untuk teknik penulisan, Arif memakai gaya reportase lapangan.
"Kalau manusia, saya rasa biasa. Tikus tidak berbicara, tapi piawai melihat kondisi lapangan," pungkas lulusan S2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja itu.
Sejak 2019, Arif adalah dosen tetap pada Prodi Sosiologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat.
Sebelum dikenal sebagai pemenang Aruh Sastra, Arif lebih dikenal sebagai pegiat literasi.
Bersama sahabat karibnya, ia mendirikan Kampung Buku Banjarmasin di kawasan Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief