Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Komunitas Gembel Keliling Banua Enam: Baca Buku Lebih Nyaman di Kedai Kopi

Arief • Kamis, 13 Juli 2023 | 09:09 WIB
SERIUS: Pengunjung lapak baca gratis di Thusi Koffie x Toko Kopi Darsiati Barabai sedang membaca buku yang dibawakan Komunitas Gembel. | FOTO: JAMALUDDIN/RADAR BANJARMASIN
SERIUS: Pengunjung lapak baca gratis di Thusi Koffie x Toko Kopi Darsiati Barabai sedang membaca buku yang dibawakan Komunitas Gembel. | FOTO: JAMALUDDIN/RADAR BANJARMASIN
Membaca buku tak melulu harus duduk di perpustakaan. Lapak baca keliling di kedai kopi sekarang menjadi konsep yang disukai anak muda.

Oleh: JAMALUDDIN, Barabai


SELASA (11/7) malam, Komunitas Gembel (Gemar Belajar) Banjarmasin buka lapak baca keliling di Thusi Koffie x Toko Kopi Darsiati Barabai di Hulu Sungai Tengah.

Koordinator Komunitas Gembel, Muhammad Khusairi alias Gaga menerangkan, konsep gerakannya sederhana. Bekerja sama dengan berbagai komunitas, penggiat literasi, maupun kedai-kedai kopi di daerah untuk membuka lapak baca.

"Ini gerakan sosial pendidikan untuk meningkatkan budaya literasi di berbagai daerah," katanya kepada Radar Banjarmasin.

Komunitas ini berjumlah lima orang, yakni Gaga, Aditya Pratama, Daus, Bambang, Aditya Rahman.

Dengan mengendarai sepeda motor dan membawa setumpuk buku dalam ransel gunung, mereka berkeliling dari Banjarmasin menuju Banua Enam.

Agenda lapak baca telah dimulai sejak Ahad (9/7/) sore hingga malam di Taman Tugu Pahlawan dan Kamis Coffee di Amuntai, Hulu Sungai Utara.

Kemudian, pada Senin (10/7) sore membuka lapak berikutnya di Taman Tanjung Bersinar Park hingga Vestacoffie di Tabalong.

Tujuan berikutnya adalah Taman Hijau Balangan di Paringin, Selasa (11/7) sore hingga berlanjut ke Barabai pada malam harinya.

"Kami ingin melihat langsung sejauh mana minat baca di tiap daerah dan membuka jejaring gerakan untuk peningkatan literasi," ungkapnya.

Gaga bersyukur banyak yang peduli dengan komunitas mereka. Ia mengaku terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai gerakan.

Di samping itu, komunitasnya juga siap membantu kalau ada komunitas atau perkumpulan yang hendak membuka lapak baca.

"Kenapa kami selalu memilih tempat kedai kopi dan taman? Karena dua tempat inilah yang dekat dengan masyarakat," jelasnya.

Mengutip dari buku Sepasang yang Melawan karya Jazuli Imam, Gaga mengatakan, buku, cinta, dan kopi merupakan satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan.



Betul. Sekarang trennya tempat ngopi adalah tempat paling banyak anak muda bersantai.

"Membaca bukan melulu tentang perpustakaan, tetapi apa yang jadi daya tarik masyarakat. Kalau banyak yang suka melapak, kenapa tidak didorong konsep tersebut," bebernya.

Komunitas Gembel berpesan, pemerintah harus melek atas apa yang menjadi kesukaan anak muda sekarang. Jangan memaksakan program literasi yang jelas-jelas tidak menarik di mata anak muda.

Pemuda asal Barabai, Muhammad Hidayatullah mengaku senang dengan kehadiran komunitas tersebut. Baginya minum kopi sambil baca buku merupakan suatu kenikmatan yang tiada taranya.

"Mestinya di Barabai ada komunitas begini. Karena memang sekarang orang makin jarang ke perpustakaan. Jadi konsep membaca buku di kedai kopi merupakan terobosan bagus," ungkapnya. (gr/fud) Editor : Arief
#Komunitas #Perpustakaan #Literasi