Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

17 Tahun, Anggun Sudah Jadi PSK Online, Orang Tua Tak Tahu

Muhammad Helmi • Senin, 23 Desember 2019 | 13:05 WIB
Foto ilustrasi (jawapos.com)
Foto ilustrasi (jawapos.com)

Sebentar lagi Anggun merayakan ulang tahun ke-17. Dalam doanya, ia ingin dibebaskan dari pekerjaan hina ini.


-- Oleh: NOORHIDAYAT, Banjarmasin --


HANYA mengenakan daster tidur tipis berwarna merah muda, Anggun menerobos dinginnya udara Banjarmasin, Rabu (18/12) jam dua dini hari.


Cewek belia itu keluar dari sebuah hotel kelas melati di kawasan Banjarmasin Tengah. Dia sudah nongkrong di penginapan itu sejak jam empat sore.


Tujuannya adalah kos, Anggun tampak mengantuk dan merindukan kasurnya. Di sepeda motornya tergantung tas jinjing berisi pakaian ganti.


Di halaman parkir hotel, ketika penulis menyapa, ia menjawab dengan ramah. "Kenapa? Ulun handak bulik (saya mau pulang)," ujarnya.


Rambut Anggun disemir pirang. Kulitnya putih dan pucat. Tubuhnya montok. Samar-samar tercium aroma parfum yang segar. "Habis stay tadi, kakak mau BO?" tambahnya tanpa ragu.


Hotel ini tersohor sebagai lokasi mangkal PSK online. PSK yang menjajakan diri lewat aplikasi. Mereka punya kode-kode khusus. Stay artinya mangkal menunggu di kamar hotel. Sedangkan BO (booking order) artinya sudah dipesan.


Ketika ditanya tarif, Anggun mematok angka Rp500 ribu. Tapi setelah nego-nego, ia bersedia memberi diskon Rp200 ribu.


Setelah harga disepakati, baru penulis menjelaskan maksud wawancara. Wajah Anggun berubah ketakutan. Tapi setelah dibujuk dengan susah payah, ia bersedia diajak ngobrol. Asalkan tak dipotret, apalagi identitasnya dikorankan.


Kami kemudian berkendara beriringan. Di balik taman Siring Nol Kilometer di Jalan Sudirman, seberang kantor gubernur lama, kami duduk santai.


Setelah basa-basi, pertanyaan pertama kepada Anggun adalah berapa usianya. "Masih 16 tahun, beberapa hari lagi saya ulang tahun ke-17," kata perempuan kelahiran Balikpapan itu.


Pertanyaan kedua adalah mengapa. Awalnya, Anggun tergagap, tampak malu menceritakan kehidupannya. Kisahnya klasik, akibat terjerumus pergaulan yang liar.


Saat duduk di kelas IX SMP di Banjarmasin, ia pacaran. Bersama si cinta monyet, Anggun diajak pesta miras. Sebelumnya ia memang sudah rajin mabuk-mabukan.


Dalam keadaan teler berat, ia berhubungan seks dengan pacarnya. Sempat setahun lamanya berpacaran. Pacaranya lebih tua tiga tahun.


"Kalau lagi pengen, ia mencari saya. Setelah puas, disuruh pulang. Saya sadar cuma jadi tempat pelampiasan," kisahnya.


Masuk SMA, Anggun curhat dengan seorang teman. Tak disangka, bukan simpati, ia malah menerima cacian dan dijauhi. Tapi teman itu pula yang belakangan menawarkan sejumlah uang untuk menemani seorang pria hidung belang.


"Saya tolak. Tapi pas kepepet butuh duit, saya coba. Ternyata begitu gampangnya mendapatkan uang Rp500 ribu hanya dalam waktu 15 menit," akunya.


Terlanjur basah, Anggun pun menceburkan diri. Berjalan mulus karena Anggun tinggal sendirian di Banjarmasin. Ibunya sudah pulang ke Kalimantan Timur setahun yang silam.


"Kata mama, ayah punya banyak istri. Mama sendiri istri nomor tiga. Saya sendiri tak pernah tahu di mana bapak berada. Terakhir melihatnya pas umur sembilan tahun," kisahnya.


Dalam kenangan yang samar-samar itu, orang tuanya masih bersama. Keduanya kemudian memutuskan untuk berpisah. Dan Anggun mengikuti sang ibu.


Sampai sekarang, Anggun masih ketakutan. Jika ibunya mengetahui ia ternyata putus sekolah. Apalagi sampai terbongkar ia melacur.


Anggun mengaku hanya bekerja seorang diri. Tak ada preman atau muncikari yang melindungi. Mengandalkan aplikasi belaka. Lalu, bagaimana caranya memesan kamar tanpa KTP?


"Sudah kenal baik sama resepsionisnya. Jadi tak perlu pakai tanda pengenal kalau mau membuka kamar," bebernya.


Dalam sehari, ia memperoleh Rp1 juta. Itu pendapatan kotor sebelum dipotong uang sewa kamar. Terkadang, ada saja klien yang royal memberikan tip. Uang itu kemudian dihabiskan untuk bayar makan, pakaian, bayar kos, dan hiburan malam.


Ditanya adakah syarat khusus dalam servisnya, Anggun mengangguk. Dia menolak permintaan seks anal. Berapapun uang yang ditawarkan klien.


"Mau pakai kondom atau enggak, terserah. Saya punya obat anti hamil. Tapi masih takut sama penyakit kelamin. Makanya rutin periksa ke klinik," ujarnya.


Beragam klien sudah pernah dilayani. Dari yang sopan hingga yang kasar. "Yang kasar kalau ngamar dalam kondisi mabuk. Itulah susahnya lewat online. Enggak bisa tatap muka dulu. Pas di hotel baru ketahuan orangnya bagaimana," tambahnya.


Tapi Anggun beruntung, selalu lolos dari razia Satpol PP. Kalau ada razia, ia akan mematikan lampu dan AC, lalu mengurung diri dalam diam. Trik yang sederhana sekali.


Dari nada bicara, Anggun tampak menikmati pekerjaannya, tapi hati kecilnya juga jengah. Anggun menyimpan harapan untuk keluar dari dunia gelap tersebut. "Semoga ada jalan untuk berhenti. Doakan saya, kak," pintanya.


Dia sering iri dengan gadis seusianya yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. "Seharusnya saya masih belajar. Tidur teratur setelah mengejarkan PR. Agar besok tak telat masuk kelas. Bukan bekerja pada malam hari," ujarnya masygul.


Anggun juga khawatir dengan masa depannya. Sebagai perempuan, ia ingin menjadi istri dan ibu. "Saya takut tak bisa menikah. Karena tak ada yang mau melamar setelah mengetahui siapa saya," tambahnya.


Dia kemudian coba menghibur diri. Berpegangan pada sesuatu. "Bahwa seburuk apapun orangnya, pasti sudah ada jodohnya," tutupnya lirih. (hid/fud/ema)

Editor : Muhammad Helmi