Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengunjungi Pengayuan, Kampung yang Warganya Hidup dari Kayu Galam

Arief • Senin, 16 Juli 2018 | 12:00 WIB
mengunjungi-pengayuan-kampung-yang-warganya-hidup-dari-kayu-galam
mengunjungi-pengayuan-kampung-yang-warganya-hidup-dari-kayu-galam

Di sisi kanan kiri Jln A Yani Km 26 Liang Anggang arah Pelaihari, banyak tumpukan dan olahan kayu galam berbagai ukuran dan fungsi, mulai dari kayu bakar, tiang, hingga jerajak untuk menguruk lahan gambut. Sampai-sampai, kawasan sepanjang jalan tersebut dijuluki Pengayuan.


Ahmad Mubarak, Banjarbaru


Pengayuan sebenarnya masuk wilayah RT 3, RW 2, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru. Sebagian besar warganya memiliki usaha terkait kayu galam. Ada yang memiliki galangan (tempat pengolahan kayu) galam, penjual sampai buruh pengupas galam.


Namun satu profesi terkait galam yang sudah tidak lagi ditekuni warga setempat, yakni mencari kayu galam di hutan. Pasalnya, hutan galam di wilayah Kelurahan Landasan Ulin Timur sudah habis dibabat selama bertahun-tahun.  Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Banjarbaru pada 2001 mendata, pohon galam (Melaleuca leucadendra) yang tersisa di wilayah tersebut sebanyak 12.000 batang.


Hal itu diakui oleh Zailani (60), saat ditemui di galangan tempatnya bekerja. Diantara sejumlah pekerja, dia lah yang paling tua. Namun terlihat masih tangkas mengupas kulit galam dengan alat seadanya, parang pendek yang hulunya cuma diikat karet dan tali rafia.


“Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saya masih mencari kayu galam, hasilnya lumayan. Cukup untuk sehari-hari dan menyekolahkan tiga orang anak sampai SMA,” ujar pria yang rambutnya telah memutih ini.


Lantas, darimana kayu galam yang masih banyak dijual di galangan? Ternyata kayu-kayu itu didatangkan dari Kapuas, Kalimantan Tengah.


Lima tahun terakhir, ia tidak punya pilihan, beralih menjadi seorang pengupas galam. Pendapatannya jauh berkurang, hingga anaknya yang paling bungsu hanya bisa lulus SMP.


Sehari-hari bergelut dengan galam, tangan Zailani terlihat membiru, terkena getah galam. Sesekali ia pun terbatuk-batuk saat debu kulit galam berterbangan saat dikupas.


Untuk satu galam berukuran besar sepanjang 3,8 meter yang biasa digunakan untuk tiang, setiap batang ia mendapat upah Rp1000. Sedangkan untuk galam ukuran sedang untuk kasau, sepanjang 3,8 meter, diberi upah Rp500.


Zailani mengungkapkan, dengan fisiknya yang sudah melemah, ia hanya bisa mengupas galam tiang sebanyak 40 batang, dari pukul 08.00 Wita sampai pukul 16.00 Wita. Artinya dalam satu hari ia mendapat upah Rp40.000. "Itu cukup untuk keperluan sehari-hari saja," terangnya.


Belum lagi, jika kayu galam di galangan lagi kosong, tidak ada kiriman dari Kapuas, berarti ia dan teman-teman harus libur, artinya tidak ada pendapatan. "Bila kayu habis, terpaksa tidak kerja," tandasnya. (by/bin)

Editor : Arief