Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Begini Proses Produksi Gulali Khas Amuntai yang Terkenal

Arief • Sabtu, 7 Juli 2018 | 16:07 WIB
begini-proses-produksi-gulali-khas-amuntai-yang-terkenal
begini-proses-produksi-gulali-khas-amuntai-yang-terkenal

Gula batu atau gulali merupakan permen tradisional khas Amuntai. Untuk membuatnya, diperlukan keterampilan, kecepatan dan kemampuan menahan panas.


Muhammad Akbar - Pasar Senin


Meski sudah banyak permen dengan aneka rasa dan bentuk beredar di pasaran sekarang. Tapi tak sedikit yang masih menyukai gulali, panganan yang dibuat dari air gula kental dan dibentuk beraneka rupa. Di Amuntai, gulali kebanyakan dibentuk seperti itik, unggas terkenal dari daerah ini, juga ada berbentuk rangkaian bunga.


Peminatnya pun tidak hanya dari HSU, tapi juga warga yang datang dari luar daerah, biasa memburu gulali khas ini, untuk dijadikan suvenir, seserahan untuk acara pernikahan, atau sekedar bernostalgia dengan permen asli gula tanpa pengawet tersebut.


Perajin gulali sendiri tidak banyak, diwarisi secara turun temurun. Salah satunya berada di Kecamatan Amuntai Tengah, Jalan Brigjen Hasan Basri Desa Kembang Kuning.


Satu ekor gulali itik dihargai bervariasi, mulai dari paling kecil Rp5000, sampai dengan ratusan ribu, tergantung kerumitan pesanan.


Acil Ufah diantara perajin yang tetap bertahan dalam bisnis rumahan ini. Ia mengakui, diantara para pembuat gulali di kampung tersebut, masih memiliki hubungan kekerabatan.


Pada Radar Banjarmasin, di tengah kesibukan dia meracik gula, ia mengungkap, untuk membuat gulali itik ini harus fokus. Karena tidak banyak waktu untuk membentuk gula yang dibuat menjadi karamel tersebut.


Bentuk harus jadi saat karamel tersebut masih panas. Jika dingin, maka ia akan mengeras dan tidak bisa dibentuk lagi. "Coba pegang ini, panas tidak?" ujar Acil Ufah.


Penulis pun mencoba memegangnya, ternyata memang masih terasa panas dan itulah yang dirasakan perajin selama produksi.


"Kalau jari melepuh sudah biasa, tapi karena sudah biasa sejak muda, jadi kalau sudah kebal," terangnya.


Sementara itu, Ida menambahkan, bahan-bahan untuk membuat gula batu sangat sederhana, gula murni, perwarna makanan, arang atau kayu bakar.


"Kalau kami memakai kayu bakar, sebab turun temurun memakai kayu," ujarnya, sembari dengan cekatan, dalam waktu beberapa detik, membuat sebuah karamel yang awalnya berbentuk kotak menjadi seekor itik.


Gula batu ini menurut Ida tahan sampai dua minggu, apabila tidak dibuka dari bungkusnya yang terbuat dari plasti. Bahkan hingga sebulan. Namun bila sudah dibuka dari bungkusan, maka harus dihabiskan.


"Biasanya gulali ini menyertai seserahan dalam pernikahan di Amuntai. Atau jadi suvenir saat resepsi. Harapannya biar kehidupan kedua mempelai bisa semanis permen ini," ungkapnya.


Untuk mendapatkan gulali ini, selain bisa datang langsung ke perajin, warga juga bisa membelinya di Pasar Amuntai. (mar/by/bin)

Editor : Arief