32.1 C
Banjarmasin
Sunday, 5 February 2023

Pengecer Koran Masih Optimis, Yang Bikin Tidak Laku Hanya Hujan

Selama beritanya menarik dan perwajahannya apik, maka selama itu pula koran akan terus dicari dan dibeli.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

ITU keluar dari mulut Ahmad Rifani. Pemilik salah satu kios koran dan majalah di Jalan Hasanuddin HM. Tak jauh dari kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe.

Bertahun-tahun lalu, di sana berdiri belasan kios pengecer koran. Namun kini hanya tersisa tiga. Dua diisi, satu kosong.

Mana yang lain? Rifani menjawab, mereka sudah gulung tikar.

Ada yang dirobohkan, berganti dengan warung makan. “Sebelumnya ada empat kios. Tapi satu kios roboh diterpa angin kencang,” ujarnya sembari menunjuk kios di sebelah kanannya.

“Sebenarnya si pemiliknya mau memperbaiki. Tapi katanya belum ada dana,” tambahnya.

“Sedangkan kios di sebelah kiri, pemiliknya lagi libur,” tambahnya.

Senin (23/1) siang, laki-laki 41 tahun itu sedang duduk santai di atas kursi plastik. Menunggu pembeli, ia memainkan gawainya. Baru berdiri ketika ada pengendara yang berhenti di depan kios.

Baca Juga :  Kue Kiriman Kapolresta

“Ada Jawa Pos?” tanya si pengendara.

Sayang, koran yang dicari sudah tak ada. Dia kemudian beralih ke koran lain.

“Jawa Pos itu banyak yang nyari. Laku. Beritanya bagus-bagus,” tutur Rifani.

“Tapi ketika pandemi, sudah tak sampai sini lagi distribusinya,” tambahnya.

Diceritakannya, sebelum covid, penjualan koran dan majalah masih ramai. Bahkan pengecer berani mengambil stok banyak.

“Ketika pandemi, semuanya surut. Sulit mencari pembeli. Tak ada yang berani keluar rumah. Orang-orang beralih membaca berita di gawai,” ujarnya.

Rifani sudah berdagang koran sejak tahun 2012. Meneruskan usaha sang ayah.

Pagi hari, ia mengantar koran dari rumah ke rumah dan juga perkantoran. Kelar itu, baru ia membuka kiosnya sampai petang. “Kalau dulu memang sampai malam hari,” ujarnya.
Bukan hanya koran dan majalah, Rifani juga menjual buku agama, teka-teki silang, kalender dan poster.

Kembali ke soal penjualan koran. Bila tak laku, biasanya diretur ke agen atau dijual kiloan. “Tapi saya mengambil sedikit saja. Masing-masing media saya batasi 15 eksemplar,” ujarnya.

Baca Juga :  Informasi, Industri dan Konvergensi Media

Laku? Ia mengangguk. “Selama beritanya berkualitas dan tampilannya ciamik, pasti laku,” tekannya.

“Contoh Radar Banjarmasin. Hampir tiap hari ludes. Kalau pun ada sisa, paling tiga eksemplar,” ungkapnya.

Penulis tersenyum. Ada nada optimistis di kios tersebut.

“Yang membuat tak laku cuma hujan. Kalau hujan, siapa yang mau mampir ke sini,” ujarnya tergelak.

Kios lainnya milik Mutia. Perempuan 33 tahun itu baru dua tahun menekuni usaha ini. Meneruskan orang tuanya.

Mutia sepakat, penjualan sangat tergantung dari berita yang disajikan medianya. “Kalau bagus pasti habis,” tegasnya.

Walaupun, sulit menyangkal disrupsi media dotcom yang menggerus tiras media cetak.
Sama dengan Rifani, Mutia juga membatasi stoknya. Sebab kalau tak laku, terpaksa dijual kiloan. Satu kilogram Rp17 ribu.

Di sebelah lapak korannya, ada kios lain. Tempat Mutia menjual minuman dingin, makanan ringan, dan bensin eceran. “Ini usaha sampingan saya,” pungkasnya tersenyum. (gr/fud)

Selama beritanya menarik dan perwajahannya apik, maka selama itu pula koran akan terus dicari dan dibeli.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

ITU keluar dari mulut Ahmad Rifani. Pemilik salah satu kios koran dan majalah di Jalan Hasanuddin HM. Tak jauh dari kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe.

Bertahun-tahun lalu, di sana berdiri belasan kios pengecer koran. Namun kini hanya tersisa tiga. Dua diisi, satu kosong.

Mana yang lain? Rifani menjawab, mereka sudah gulung tikar.

Ada yang dirobohkan, berganti dengan warung makan. “Sebelumnya ada empat kios. Tapi satu kios roboh diterpa angin kencang,” ujarnya sembari menunjuk kios di sebelah kanannya.

“Sebenarnya si pemiliknya mau memperbaiki. Tapi katanya belum ada dana,” tambahnya.

“Sedangkan kios di sebelah kiri, pemiliknya lagi libur,” tambahnya.

Senin (23/1) siang, laki-laki 41 tahun itu sedang duduk santai di atas kursi plastik. Menunggu pembeli, ia memainkan gawainya. Baru berdiri ketika ada pengendara yang berhenti di depan kios.

Baca Juga :  Kue Kiriman Kapolresta

“Ada Jawa Pos?” tanya si pengendara.

Sayang, koran yang dicari sudah tak ada. Dia kemudian beralih ke koran lain.

“Jawa Pos itu banyak yang nyari. Laku. Beritanya bagus-bagus,” tutur Rifani.

“Tapi ketika pandemi, sudah tak sampai sini lagi distribusinya,” tambahnya.

Diceritakannya, sebelum covid, penjualan koran dan majalah masih ramai. Bahkan pengecer berani mengambil stok banyak.

“Ketika pandemi, semuanya surut. Sulit mencari pembeli. Tak ada yang berani keluar rumah. Orang-orang beralih membaca berita di gawai,” ujarnya.

Rifani sudah berdagang koran sejak tahun 2012. Meneruskan usaha sang ayah.

Pagi hari, ia mengantar koran dari rumah ke rumah dan juga perkantoran. Kelar itu, baru ia membuka kiosnya sampai petang. “Kalau dulu memang sampai malam hari,” ujarnya.
Bukan hanya koran dan majalah, Rifani juga menjual buku agama, teka-teki silang, kalender dan poster.

Kembali ke soal penjualan koran. Bila tak laku, biasanya diretur ke agen atau dijual kiloan. “Tapi saya mengambil sedikit saja. Masing-masing media saya batasi 15 eksemplar,” ujarnya.

Baca Juga :  Bertabur Doa dan Keberkahan

Laku? Ia mengangguk. “Selama beritanya berkualitas dan tampilannya ciamik, pasti laku,” tekannya.

“Contoh Radar Banjarmasin. Hampir tiap hari ludes. Kalau pun ada sisa, paling tiga eksemplar,” ungkapnya.

Penulis tersenyum. Ada nada optimistis di kios tersebut.

“Yang membuat tak laku cuma hujan. Kalau hujan, siapa yang mau mampir ke sini,” ujarnya tergelak.

Kios lainnya milik Mutia. Perempuan 33 tahun itu baru dua tahun menekuni usaha ini. Meneruskan orang tuanya.

Mutia sepakat, penjualan sangat tergantung dari berita yang disajikan medianya. “Kalau bagus pasti habis,” tegasnya.

Walaupun, sulit menyangkal disrupsi media dotcom yang menggerus tiras media cetak.
Sama dengan Rifani, Mutia juga membatasi stoknya. Sebab kalau tak laku, terpaksa dijual kiloan. Satu kilogram Rp17 ribu.

Di sebelah lapak korannya, ada kios lain. Tempat Mutia menjual minuman dingin, makanan ringan, dan bensin eceran. “Ini usaha sampingan saya,” pungkasnya tersenyum. (gr/fud)

Informasi, Industri dan Konvergensi Media

Dulunya Tanpa Masin

Trending

Haul Guru Sekumpul

Dapatkan update terkini berita tentang Haul ke-18 Guru Sekumpul tahun 2023

Berita Terbaru