alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Jumat, 21 Januari 2022

Dari Pameran Lukisan di Taman Budaya: Berjuang Demi Perupa Muda

Bagi Nanang Muhammad Yusran, pameran tunggalnya bertajuk Titik Nadir menjadi sebuah pembuktian. Bahwa di usianya yang sudah tak lagi muda, bukanlah halangan untuk berkarya.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Sebanyak 26 lukisan berbagai aliran dipamerkan di Bengkel Lukis Sholihin. Dari yang abstrak hingga realis.

Dari yang menampilkan potret wajah seseorang, hingga ragam aktivitas masyarakat. Baik yang dibuat sejak tahun 80-an hingga 2000-an.

Karya lelaki yang akrab disapa M Yus, bisa disaksikan sejak tanggal 9 hingga 19 Januari mendatang di Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basri, Banjarmasin Utara.

Seperti tajuk yang diangkatnya, ke semua lukisan itu menyiratkan perjalanan M Yus dalam berkarya. Sedari tahun 1965 hingga 2021.

Kepada Radar Banjarmasin, M Yus mengungkap, titik nadir yang dimaksudnya titik terendah pada usianya yang kini menginjak 76 tahun.

Namun, juga titik yang baginya masih panas-panasnya untuk membuat karya.

Pameran di Bengkel Lukis Sholihin, Taman Budaya Kalsel ini dibuka sejak kemarin (9/1) sampai 19 Januari

Ambil contoh, pada karya potret yang memuat wajahnya sendiri. Yang berada di atas bebatuan. Karya itu dijudulinya “Muncul dari Batu”.

Lukisan itu menyiratkan makna bahwa seseorang tidak selalu terbentuk secara mudah. Tapi, juga dibentuk dari situasi yang keras. Maksudnya setiap yang namanya perjuangan tidaklah mudah.

“Sebagai perupa, perlu memiliki semangat baja agar bisa terus berkarya, hingga sampai suatu nanti, mungkin bakal merasa jenuh,” jelasnya.

Ya, secara khusus, pameran ini adalah harapan M Yus agar bisa menjadi penyemangat perupa muda. Bahwa berjuang di dunia lukis itu memerlukan stamina panjang.

“Kalau tekadnya kuat, perupa akan terus berkarya meski terkadang hidupnya memprihatinkan. Saya berjuang seperti ini bukan untuk diri sendiri, tapi untuk perupa muda,” tambahnya.

Baca Juga :  Sempat Vakum Karena Pandemi, Siap Gebrak lagi Pencinta Musik Rock

Lebih jauh, dari seluruh karya yang ditampilkan, pameran kali ini menurutnya juga sebagai pembuktian apakah ke depan ia masih bisa berkarya lagi atau menemukan sesuatu yang baru lagi.

Maklum, usianya sudah menginjak 76 tahun. Rambut dan janggutnya pun sudah sepenuhnya memutih.

“Saya juga tidak tahu, berapa sisa umur saya,” ucapnya kemudian terkekeh.

Kendati demikian, pria kelahiran Barabai, 19 September 1945 itu juga berpesan bahwa jangan pernah ada rasa sombong meski pun sudah melahirkan banyak karya.

“Karya seni berupa lukisan ini memang buatan manusia. Tapi jangan lupa bahwa menjadi manusia diciptakan oleh Tuhan. Kita ini hanya sebagai ‘alat’ saja,” tutupnya.

Terpisah, salah seorang pengunjung pameran, Rizky A Setiawan, mengaku salut dengan karya yang ditampilkan. Bukan tanpa alasan, di usia yang tidak lagi muda, M Yus terus berkarya.

“Betul apa yang disampaikan guru saya, bagi perupa, karya adalah jiwanya. Ini jadi pelecut semangat bagi kami untuk terus berkarya, dan jangan hanya ikut atau acara pameran kolektif saja, tapi juga pameran tunggal,” pungkasnya.

M Yus sudah 51 kali berpameran, dua di antaranya dalam format pameran tunggal.

Kapan Punya Galeri Seni

Pameran yang dihelat di Bengkel Lukis Sholihin itu merupakan pameran tunggal kedua M Yus.
Pameran pertama dihelat 2016 silam di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.

Kepada Radar Banjarmasin, M Yus menyatakan, perhatian pemerintah terhadap seniman masih sangat kurang.

“Bentuk penghargaannya seperti apa? Mudah sekali. Buatkan sebuah gedung yang diberi nama galeri,” ujarnya.

Baca Juga :  Pameran Lukisan Sepi Pembeli, Ibnu Memaklumi

“Saya menilai, pemerintah bisa dikatakan menghargai, menghormati dan peduli terhadap seniman apabila ia menyediakan sebuah galeri agar seniman bisa menampilkan karyanya,” tegasnya.

Dia berani berkata seperti itu, karena sejauh menggeluti dunia seni rupa, ia tak pernah melihat ada perhatian yang berarti dari pemko atau pemprov.

Padahal, sudah ada beberapa perupa yang mengharumkan nama Banua di luar Kalimantan. Potensinya juga besar. Baik dari generasi pelukis tua, maupun pelukis mudanya.

“Ambil contoh, pameran lukisan. Selalu di sini (Bengkel Lukis Sholihin). Di sini sebenarnya kurang pas,” jelasnya.

“Berpameran kan tidak mudah. Perlu banyak biaya. Dan yang paling diinginkan seniman adalah tempat khusus. Sehebat apapun seorang pelukis, bila ia tidak berpameran, orang-orang tidak akan pernah tahu,” lanjutnya.

“Saya berharap, pemerintah bisa lebih peduli,” tutup M Yus.

Terpisah, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi membuka pameran pun berjanji akan membicarakan usulan galeri itu kepada Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

“Sebagai permulaan, akan ada ramah tamah bersama para seniman. Ini apresiasi dan agar terbangun kolaborasi,” janjinya.

Dia amat menyadari kritik yang disampaikan para perupa. “Sebenarnya pamerannya bagus, tapi tempatnya sangat tidak layak. Saya tidak bermaksud menghina, tidak,” akunya.

“Tapi alangkah baiknya memang ada pembangunan galeri seni. Sebagai tempat wirausaha profesional juga,” tekannya.

“Insyaallah sebelum 19 Januari ada pertemuan resmi. Saya sudah menyampaikan soal ini kepada wali kota. Semoga ada perkembangan nyata seusai pertemuan itu,” pungkas Doyo. (war/at/fud)

Bagi Nanang Muhammad Yusran, pameran tunggalnya bertajuk Titik Nadir menjadi sebuah pembuktian. Bahwa di usianya yang sudah tak lagi muda, bukanlah halangan untuk berkarya.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Sebanyak 26 lukisan berbagai aliran dipamerkan di Bengkel Lukis Sholihin. Dari yang abstrak hingga realis.

Dari yang menampilkan potret wajah seseorang, hingga ragam aktivitas masyarakat. Baik yang dibuat sejak tahun 80-an hingga 2000-an.

Karya lelaki yang akrab disapa M Yus, bisa disaksikan sejak tanggal 9 hingga 19 Januari mendatang di Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basri, Banjarmasin Utara.

Seperti tajuk yang diangkatnya, ke semua lukisan itu menyiratkan perjalanan M Yus dalam berkarya. Sedari tahun 1965 hingga 2021.

Kepada Radar Banjarmasin, M Yus mengungkap, titik nadir yang dimaksudnya titik terendah pada usianya yang kini menginjak 76 tahun.

Namun, juga titik yang baginya masih panas-panasnya untuk membuat karya.

Pameran di Bengkel Lukis Sholihin, Taman Budaya Kalsel ini dibuka sejak kemarin (9/1) sampai 19 Januari

Ambil contoh, pada karya potret yang memuat wajahnya sendiri. Yang berada di atas bebatuan. Karya itu dijudulinya “Muncul dari Batu”.

Lukisan itu menyiratkan makna bahwa seseorang tidak selalu terbentuk secara mudah. Tapi, juga dibentuk dari situasi yang keras. Maksudnya setiap yang namanya perjuangan tidaklah mudah.

“Sebagai perupa, perlu memiliki semangat baja agar bisa terus berkarya, hingga sampai suatu nanti, mungkin bakal merasa jenuh,” jelasnya.

Ya, secara khusus, pameran ini adalah harapan M Yus agar bisa menjadi penyemangat perupa muda. Bahwa berjuang di dunia lukis itu memerlukan stamina panjang.

“Kalau tekadnya kuat, perupa akan terus berkarya meski terkadang hidupnya memprihatinkan. Saya berjuang seperti ini bukan untuk diri sendiri, tapi untuk perupa muda,” tambahnya.

Baca Juga :  Sempat Vakum Karena Pandemi, Siap Gebrak lagi Pencinta Musik Rock

Lebih jauh, dari seluruh karya yang ditampilkan, pameran kali ini menurutnya juga sebagai pembuktian apakah ke depan ia masih bisa berkarya lagi atau menemukan sesuatu yang baru lagi.

Maklum, usianya sudah menginjak 76 tahun. Rambut dan janggutnya pun sudah sepenuhnya memutih.

“Saya juga tidak tahu, berapa sisa umur saya,” ucapnya kemudian terkekeh.

Kendati demikian, pria kelahiran Barabai, 19 September 1945 itu juga berpesan bahwa jangan pernah ada rasa sombong meski pun sudah melahirkan banyak karya.

“Karya seni berupa lukisan ini memang buatan manusia. Tapi jangan lupa bahwa menjadi manusia diciptakan oleh Tuhan. Kita ini hanya sebagai ‘alat’ saja,” tutupnya.

Terpisah, salah seorang pengunjung pameran, Rizky A Setiawan, mengaku salut dengan karya yang ditampilkan. Bukan tanpa alasan, di usia yang tidak lagi muda, M Yus terus berkarya.

“Betul apa yang disampaikan guru saya, bagi perupa, karya adalah jiwanya. Ini jadi pelecut semangat bagi kami untuk terus berkarya, dan jangan hanya ikut atau acara pameran kolektif saja, tapi juga pameran tunggal,” pungkasnya.

M Yus sudah 51 kali berpameran, dua di antaranya dalam format pameran tunggal.

Kapan Punya Galeri Seni

Pameran yang dihelat di Bengkel Lukis Sholihin itu merupakan pameran tunggal kedua M Yus.
Pameran pertama dihelat 2016 silam di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.

Kepada Radar Banjarmasin, M Yus menyatakan, perhatian pemerintah terhadap seniman masih sangat kurang.

“Bentuk penghargaannya seperti apa? Mudah sekali. Buatkan sebuah gedung yang diberi nama galeri,” ujarnya.

Baca Juga :  Dari Pemutaran Film Ibnu-Silah: Contoh Sukses Pasangan Antipacaran

“Saya menilai, pemerintah bisa dikatakan menghargai, menghormati dan peduli terhadap seniman apabila ia menyediakan sebuah galeri agar seniman bisa menampilkan karyanya,” tegasnya.

Dia berani berkata seperti itu, karena sejauh menggeluti dunia seni rupa, ia tak pernah melihat ada perhatian yang berarti dari pemko atau pemprov.

Padahal, sudah ada beberapa perupa yang mengharumkan nama Banua di luar Kalimantan. Potensinya juga besar. Baik dari generasi pelukis tua, maupun pelukis mudanya.

“Ambil contoh, pameran lukisan. Selalu di sini (Bengkel Lukis Sholihin). Di sini sebenarnya kurang pas,” jelasnya.

“Berpameran kan tidak mudah. Perlu banyak biaya. Dan yang paling diinginkan seniman adalah tempat khusus. Sehebat apapun seorang pelukis, bila ia tidak berpameran, orang-orang tidak akan pernah tahu,” lanjutnya.

“Saya berharap, pemerintah bisa lebih peduli,” tutup M Yus.

Terpisah, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi membuka pameran pun berjanji akan membicarakan usulan galeri itu kepada Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

“Sebagai permulaan, akan ada ramah tamah bersama para seniman. Ini apresiasi dan agar terbangun kolaborasi,” janjinya.

Dia amat menyadari kritik yang disampaikan para perupa. “Sebenarnya pamerannya bagus, tapi tempatnya sangat tidak layak. Saya tidak bermaksud menghina, tidak,” akunya.

“Tapi alangkah baiknya memang ada pembangunan galeri seni. Sebagai tempat wirausaha profesional juga,” tekannya.

“Insyaallah sebelum 19 Januari ada pertemuan resmi. Saya sudah menyampaikan soal ini kepada wali kota. Semoga ada perkembangan nyata seusai pertemuan itu,” pungkas Doyo. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru