alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Jumat, 21 Januari 2022

Tak Lagi Hanya Cairan Hitam

Ketika Banjarbaru Menjelma jadi Kota Kafe

Kota Banjarbaru kini seperti Sentra Kopi di Banua. Nyaris di setiap wilayah Banjarbaru ada kafe. Bagaimana bisnis ini tumbuh subur di Banjarbaru?

****

Wakil Walikota Banjarbaru Wartono yang baru-baru tadi menyuruh dinas untuk mengumpulkan data kafe Banjarbaru menemukan hal yang fantastis. Ada 146 kafe di Banjarbaru. Itu pun kebanyakan hanya di pusat kota saja. “Kalau ditotal, saya yakin jumlahnya lewat 200-an,” katanya.

Sepanjang satu tahun terakhir, jumlah kafe atau coffee shop di Banjarbaru memang bak jamur di musim hujan. Hampir setiap pekan selalu muncul kedai kopi.

Celetukan dan guyonan soal fenomena ini terkadang nongol. Misalnya, label Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan. Bagaimana tidak, dibanding total sekolah di Banjarbaru yang jumlah sekitar 180 an, jumlahnya masih kalah dengan jumlah kafe.

Meroketnya industri kafe di Banjarbaru memang menarik diperhatikan. Rumus supply and demand sepertinya berjalan mulus di ekosistem ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengunjung kafe di Banjarbaru, khususnya di akhir pekan.

Untuk menarik pengunjung, ada banyak konsep yang dibangun oleh para pengelola. Dari tempat nongkrong komunitas, alernatif wadah rapat hingga jadi tempat kerja.

Di Banjarbaru, salah satu kafe yang jadi favorit adalah Setara. Kedai yang ditata dengan desain Skandanavia ini selalu penuh di akhir pekan. Pengunjungnya beragam dari berbagai level dan strata.

Salah satu Owner Setara, M Futtuwah Andryadi bercerita tentang tren ngopi di kafe mulai naik di awal 2021 lalu. Meskipun masih pandemi, antusias masyarakat untuk ke kafe cukup tinggi.

“Kita start Oktober 2020. Sempat was-was karena pas pandemi. Tetapi kita melihat potensi industri kopi di Banjarbaru cukup tinggi, dan bersyukur sampai sekarang tetap ramai,” ujar pria yang akrab disapa Uwah ini.

Industri kopi di Banjarbaru memang bagus. Ini bisa dilihat dari banyaknya kopi kedai yang buka. Hal ini bakal membentuk ekosistem kopi yang ada.

“Kami awalnya hanya jual kopi susu botolan. Saat itu memang lagi tren. Makin kesini ternyata peminatnya banyak. Memang kalau harus diakui, jenis kopi susu yang lebih jadi favorit,” ceritanya.

Setara kini mampu menjual sampai 150 gelas perhari. Total karyawan yang dipekerjakan pun mencapai 17 orang.

Lantas apa yang membuat Uwah dan rekannya memutuskan untuk membuka Coffee Shop di Banjarbaru? Menurutnya, secara garis besar ada dua faktor yang jadi pertimbangan.

Pertama, Banjarbaru dinilainya punya potensi besar untuk industri ini. “Alasan lain karena kita punya pengalaman di bidang ini. Saya sendiri misalnya pernah jadi Barista ketika di Yogya. Akhirnya dengan modal ini, kita kepingin membuat coffee shop yang konsepnya matang dan beda, lahirlah Setara,” ungkapnya.

Baca Juga :  Hudes, Kedai Pertama yang Menjual Kopi Asli Kalsel (Bagian 2)

Dari pandangan Uwah, saat ini tipe customer kafe sudah berubah. Pelanggan ujarnya mulai berwawasan tentang kopi bukan hanya sekadar cairan hitam yang disajikan hangat.”Wawasan pengunjung jadi bertambah, mereka mulai paham jenis-jenis kopi,” tambahnya.

Membuka kedai kopi rupanya tak melulu hanya soal modal besar dan alat yang mahal. Kini, kedai kopi sederhana dan minimalis juga ramai di Banjarbaru. Pasarnya pun rupanya juga banyak.

Agung misalnya, pemilik kedai Wadya Kopi ini hanya membutuhkan modal belasan juta rupiah. Dihias dengan lampu dengan rona kuning, pekarangan rumah disulapnya jadi kedai kopi.

“Dapat ilmunya di internet, beli alatnya di toko online yang terjangkau, lalu belajar dan coba-coba bikin kopi di kedai teman. Akhirnya bisa dan sekarang memberanikan membuka mandiri,” katanya.

Untuk segmentasi pasar, Agung mengakui jika costumernya kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini ujarnya memang sesuai dengan besaran harga yang dipatoknya untuk segelas kopi.

“Ya paling anak-anak sekolah yang sering datang, lalu dari teman juga. Tapi kadang ada juga yang datang dari daerah lain, katanya melihat di media sosial. Alhamdulillah puluhan gelas bisa laku setiap hari,” katanya.

Dari sudut pandang pembeli atau costumer, rupanya coffee shop diklasifikasikan jadi beberapa macam. Baik dari sektor tingkatan harga menu yang disajikan ataupun konsep yang dibangun.

Nindi termasuk yang candu nongkrong di coffee shop. Dalam satu pekan, ia bisa menyambangi tiga kedai. Soal pilihan kopi, ia penyuka kopi susu dengan karakter yang soft dan creamy.

“Iya betul, sepengetahuan saya di Banjarbaru banyak sekali coffee shop. Saya saja sudah puluhan tempat yang didatangi. Kalau saya memilih lebih ke tempatnya, enak atau tidak, keren atau tidak, kalau kopinya bisa nomer dua,” kata mahasiswi ULM ini.

Berbeda dengan Nindi, Deni adalah tipikal penikmat kopi yang mementingkan cita rasa. Bagi Deni, tempat yang bagus, estetik atau instagramable tak menjamin kopinya cocok dengannya.

“Memang kalau soal rasa ini agak relatif ya. Tapi kalau baristanya handal dan coffee shopnya emang niat, pasti cita rasanya juga enak. Kalau saya lebih memilih kopi yang emang enak ketimbang tempatnya,” ujar karyawan swasta ini.

Sementara untuk Rizki, coffee shop favoritnya adalah yang konsep dan kualitas rasanya seimbang. Bahkan katanya, kedai atau kafe yang menyuguhkan tempat untuk menunjang kerja jadi nilai plus.

“Saya suka bekerja di kafe-kafe. Nah di Banjarbaru banyak yang menyediakan konsep seperti ini. Tapi bersyukur sejauh ini selalu nemu kafe yang tempatnya mendukung dan cita rasanya juga enak,” pungkasnya.

Baca Juga :  Bisnis Kafe

Suplai Ratusan Kilo Sebulan

Menjamurnya kafe di Banjarbaru sejalan dengan instrumen ekosistem industri ini. Salah satunya yakni produsen biji kopi atau akrab disapa Beans Roastery.

Kait’s Roastery adalah salah satu yang cukup lama menggeluti industri ini di Banua. Mereka punya biji jenis robusta maupun arabica. Memulai sejak tahun 2018, kini sudah ada puluhan coffee shop yang menjadi langganan mereka.

Menurut salah satu owner Kait’s Roastery, Luthpi Habibi, produsen bertugas menyuplai biji kopi kepada coffee shop sebelum diseduh oleh para Barista. Sehingga, antara coffee shop dan Roastery ujar Habibi tercipta sebuah hubungan bisnis.

“Sekarang sekitar 50 coffee shop ada jadi pelanggan kita, tak hanya di Banjarbaru saja tapi sampai Kalteng hingga Jakarta,” ujarnya kemarin.

Di Kalsel, Roastery ini jumlahnya tak semasif Coffee Shop. Maklum, alat yang diperlukan ujarnya cukup mahal, dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Itu belum termasuk bahan mentah serta SDM-nya.

“Untuk bahan mentah kita variatif, ada yang mengambil dari luar daerah dan ada juga yang mengembangkan biji asli dari Kalsel. Kalau kita mengembangkan dari kebun kopi di wilayah Kait-kait Tanah Laut,” ceritanya.

Meski sudah mampu menyuplai hingga 500 kilogram biji kopi dalam sebulan, Industri ini aku Habibi bukan berarti mudah. Label Roastery lokal cukup sulit menembus pasar lokal. Ada stigma bahwa coffee shop lebih prestise jika mengambil blend di luar.

“Di awal-awal itu menyuplai 30 kilogram perbulan saja sangat sulit. Kita pun juga sampai harus keliling kedai untuk memberikan produk kita, ada juga yang kurang yakin dengan roasting kami saat itu,” katanya.

Fenomena tumbuhnya coffee shop khususnya di Banjarbaru tak ditampik Habibi jadi angin segar bagi bisnisnya. Tak heran, pemesan biji kopi kata Habibi mulai melambung di tahun 2020 lalu.

“Persis seperti yang kami analisa di awal membangun Roastery ini. Kita berkeyakinan industri atau budaya kopi berpotensi tumbuh subur di sini, dan di tahun 2020 itu mulai terasa banyaknya permintaan,” pungkasnya. (rvn/by/ran)

BISNIS WARUNG KOPI DI BANJARBARU

– Banjarbaru mulai dikenal sebagai kota kafe. Di setiap sudut kota, ada kafe dan coffee shop. Otoritas setempat menghitung setidaknya ada 200-an kafe di Banjarbaru.

– Dari banyaknya jumlah kafe, diprediksi jumlah biji kopi yang disuplai mencapai ribuan kilo sebulan.

– Kafe yang dibangun dengan berbagai macam tema dan fungsi. Ada yang untuk nongkrong, istirahat, tempat bermain, ataupun tempat kerja.

Kota Banjarbaru kini seperti Sentra Kopi di Banua. Nyaris di setiap wilayah Banjarbaru ada kafe. Bagaimana bisnis ini tumbuh subur di Banjarbaru?

****

Wakil Walikota Banjarbaru Wartono yang baru-baru tadi menyuruh dinas untuk mengumpulkan data kafe Banjarbaru menemukan hal yang fantastis. Ada 146 kafe di Banjarbaru. Itu pun kebanyakan hanya di pusat kota saja. “Kalau ditotal, saya yakin jumlahnya lewat 200-an,” katanya.

Sepanjang satu tahun terakhir, jumlah kafe atau coffee shop di Banjarbaru memang bak jamur di musim hujan. Hampir setiap pekan selalu muncul kedai kopi.

Celetukan dan guyonan soal fenomena ini terkadang nongol. Misalnya, label Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan. Bagaimana tidak, dibanding total sekolah di Banjarbaru yang jumlah sekitar 180 an, jumlahnya masih kalah dengan jumlah kafe.

Meroketnya industri kafe di Banjarbaru memang menarik diperhatikan. Rumus supply and demand sepertinya berjalan mulus di ekosistem ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengunjung kafe di Banjarbaru, khususnya di akhir pekan.

Untuk menarik pengunjung, ada banyak konsep yang dibangun oleh para pengelola. Dari tempat nongkrong komunitas, alernatif wadah rapat hingga jadi tempat kerja.

Di Banjarbaru, salah satu kafe yang jadi favorit adalah Setara. Kedai yang ditata dengan desain Skandanavia ini selalu penuh di akhir pekan. Pengunjungnya beragam dari berbagai level dan strata.

Salah satu Owner Setara, M Futtuwah Andryadi bercerita tentang tren ngopi di kafe mulai naik di awal 2021 lalu. Meskipun masih pandemi, antusias masyarakat untuk ke kafe cukup tinggi.

“Kita start Oktober 2020. Sempat was-was karena pas pandemi. Tetapi kita melihat potensi industri kopi di Banjarbaru cukup tinggi, dan bersyukur sampai sekarang tetap ramai,” ujar pria yang akrab disapa Uwah ini.

Industri kopi di Banjarbaru memang bagus. Ini bisa dilihat dari banyaknya kopi kedai yang buka. Hal ini bakal membentuk ekosistem kopi yang ada.

“Kami awalnya hanya jual kopi susu botolan. Saat itu memang lagi tren. Makin kesini ternyata peminatnya banyak. Memang kalau harus diakui, jenis kopi susu yang lebih jadi favorit,” ceritanya.

Setara kini mampu menjual sampai 150 gelas perhari. Total karyawan yang dipekerjakan pun mencapai 17 orang.

Lantas apa yang membuat Uwah dan rekannya memutuskan untuk membuka Coffee Shop di Banjarbaru? Menurutnya, secara garis besar ada dua faktor yang jadi pertimbangan.

Pertama, Banjarbaru dinilainya punya potensi besar untuk industri ini. “Alasan lain karena kita punya pengalaman di bidang ini. Saya sendiri misalnya pernah jadi Barista ketika di Yogya. Akhirnya dengan modal ini, kita kepingin membuat coffee shop yang konsepnya matang dan beda, lahirlah Setara,” ungkapnya.

Baca Juga :  Hudes, Kedai Pertama yang Menjual Kopi Asli Kalsel (Bagian 2)

Dari pandangan Uwah, saat ini tipe customer kafe sudah berubah. Pelanggan ujarnya mulai berwawasan tentang kopi bukan hanya sekadar cairan hitam yang disajikan hangat.”Wawasan pengunjung jadi bertambah, mereka mulai paham jenis-jenis kopi,” tambahnya.

Membuka kedai kopi rupanya tak melulu hanya soal modal besar dan alat yang mahal. Kini, kedai kopi sederhana dan minimalis juga ramai di Banjarbaru. Pasarnya pun rupanya juga banyak.

Agung misalnya, pemilik kedai Wadya Kopi ini hanya membutuhkan modal belasan juta rupiah. Dihias dengan lampu dengan rona kuning, pekarangan rumah disulapnya jadi kedai kopi.

“Dapat ilmunya di internet, beli alatnya di toko online yang terjangkau, lalu belajar dan coba-coba bikin kopi di kedai teman. Akhirnya bisa dan sekarang memberanikan membuka mandiri,” katanya.

Untuk segmentasi pasar, Agung mengakui jika costumernya kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini ujarnya memang sesuai dengan besaran harga yang dipatoknya untuk segelas kopi.

“Ya paling anak-anak sekolah yang sering datang, lalu dari teman juga. Tapi kadang ada juga yang datang dari daerah lain, katanya melihat di media sosial. Alhamdulillah puluhan gelas bisa laku setiap hari,” katanya.

Dari sudut pandang pembeli atau costumer, rupanya coffee shop diklasifikasikan jadi beberapa macam. Baik dari sektor tingkatan harga menu yang disajikan ataupun konsep yang dibangun.

Nindi termasuk yang candu nongkrong di coffee shop. Dalam satu pekan, ia bisa menyambangi tiga kedai. Soal pilihan kopi, ia penyuka kopi susu dengan karakter yang soft dan creamy.

“Iya betul, sepengetahuan saya di Banjarbaru banyak sekali coffee shop. Saya saja sudah puluhan tempat yang didatangi. Kalau saya memilih lebih ke tempatnya, enak atau tidak, keren atau tidak, kalau kopinya bisa nomer dua,” kata mahasiswi ULM ini.

Berbeda dengan Nindi, Deni adalah tipikal penikmat kopi yang mementingkan cita rasa. Bagi Deni, tempat yang bagus, estetik atau instagramable tak menjamin kopinya cocok dengannya.

“Memang kalau soal rasa ini agak relatif ya. Tapi kalau baristanya handal dan coffee shopnya emang niat, pasti cita rasanya juga enak. Kalau saya lebih memilih kopi yang emang enak ketimbang tempatnya,” ujar karyawan swasta ini.

Sementara untuk Rizki, coffee shop favoritnya adalah yang konsep dan kualitas rasanya seimbang. Bahkan katanya, kedai atau kafe yang menyuguhkan tempat untuk menunjang kerja jadi nilai plus.

“Saya suka bekerja di kafe-kafe. Nah di Banjarbaru banyak yang menyediakan konsep seperti ini. Tapi bersyukur sejauh ini selalu nemu kafe yang tempatnya mendukung dan cita rasanya juga enak,” pungkasnya.

Baca Juga :  Bisnis Kafe

Suplai Ratusan Kilo Sebulan

Menjamurnya kafe di Banjarbaru sejalan dengan instrumen ekosistem industri ini. Salah satunya yakni produsen biji kopi atau akrab disapa Beans Roastery.

Kait’s Roastery adalah salah satu yang cukup lama menggeluti industri ini di Banua. Mereka punya biji jenis robusta maupun arabica. Memulai sejak tahun 2018, kini sudah ada puluhan coffee shop yang menjadi langganan mereka.

Menurut salah satu owner Kait’s Roastery, Luthpi Habibi, produsen bertugas menyuplai biji kopi kepada coffee shop sebelum diseduh oleh para Barista. Sehingga, antara coffee shop dan Roastery ujar Habibi tercipta sebuah hubungan bisnis.

“Sekarang sekitar 50 coffee shop ada jadi pelanggan kita, tak hanya di Banjarbaru saja tapi sampai Kalteng hingga Jakarta,” ujarnya kemarin.

Di Kalsel, Roastery ini jumlahnya tak semasif Coffee Shop. Maklum, alat yang diperlukan ujarnya cukup mahal, dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Itu belum termasuk bahan mentah serta SDM-nya.

“Untuk bahan mentah kita variatif, ada yang mengambil dari luar daerah dan ada juga yang mengembangkan biji asli dari Kalsel. Kalau kita mengembangkan dari kebun kopi di wilayah Kait-kait Tanah Laut,” ceritanya.

Meski sudah mampu menyuplai hingga 500 kilogram biji kopi dalam sebulan, Industri ini aku Habibi bukan berarti mudah. Label Roastery lokal cukup sulit menembus pasar lokal. Ada stigma bahwa coffee shop lebih prestise jika mengambil blend di luar.

“Di awal-awal itu menyuplai 30 kilogram perbulan saja sangat sulit. Kita pun juga sampai harus keliling kedai untuk memberikan produk kita, ada juga yang kurang yakin dengan roasting kami saat itu,” katanya.

Fenomena tumbuhnya coffee shop khususnya di Banjarbaru tak ditampik Habibi jadi angin segar bagi bisnisnya. Tak heran, pemesan biji kopi kata Habibi mulai melambung di tahun 2020 lalu.

“Persis seperti yang kami analisa di awal membangun Roastery ini. Kita berkeyakinan industri atau budaya kopi berpotensi tumbuh subur di sini, dan di tahun 2020 itu mulai terasa banyaknya permintaan,” pungkasnya. (rvn/by/ran)

BISNIS WARUNG KOPI DI BANJARBARU

– Banjarbaru mulai dikenal sebagai kota kafe. Di setiap sudut kota, ada kafe dan coffee shop. Otoritas setempat menghitung setidaknya ada 200-an kafe di Banjarbaru.

– Dari banyaknya jumlah kafe, diprediksi jumlah biji kopi yang disuplai mencapai ribuan kilo sebulan.

– Kafe yang dibangun dengan berbagai macam tema dan fungsi. Ada yang untuk nongkrong, istirahat, tempat bermain, ataupun tempat kerja.

Artikel sebelumnyaUtamakan Peran Jadi Istri dan Ibu
Artikel berikutnyaBisnis Kafe

Most Read

Artikel Terbaru