Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel penuh dengan penonton, Rabu (28/12) malam itu. Mereka mengisi ratusan kursi yang tersedia.
Baru saja dimulai, ruangan sudah tampak semarak. Orkestra lagu Banjar yang dibawakan 23 personel itulah yang membangunkan keadaan. Enam lagu Banjar dinyanyikan. Tiga di antaranya lagu berjudul Pasar Tungging, Badindang Riang, hingga lagu berjudul Manampi Baras. Semua lagu yang dibawakan diaransemen ulang. Dinyanyikan dua mahasiswi nan anggun. Kedua mahasiswi itu tampak dibalut kemeja sasirangan perpaduan kelir merah dan hitam.
Selesai kah sudah pertunjukan seni itu? Belum. Ini paket lengkap. Masih ada penampilan seni tari dan japin carita di situ. Di seni tari berusaha mengenalkan kearifan lokal.
Semuanya, mengusung tema yang sama. Permainan. Sebagian di antaranya, tarian yang berjudul Loncat Bambu dan Bapainan Tampurung. Tarian ini diisi empat orang perempuan.
Masing-masing memegang tongkat berbahan bambu. Tarian Ini menceritakan tentang anak-anak yang mencoba mengusir rasa bosan. Mereka lalu mencari permainan. Melihat bambu yang tidak terpakai, muncul lah ide untuk bermain loncat bambu. Dua anak menggerakkan bambu, dan dua anak lainnya meloncat. Kaki si peloncat tak boleh mengenai bambu yang bergerak dengan cepat. Permainan ini sungguh melatih konsentrasi.
Selain tarian loncat bambu, ada pula tarian berjudul Bapainan Tampurung. Juga diisi empat penari. Tiga di antaranya laki-laki. Tampurung dibuat dari batok kelapa yang dibelah dua. Di tengah-tengah, dilubangi dan dimasukkan tali. Tampak mengasyikkan ketika tampurung juga dijadikan layaknya alas kaki. Lalu, juga bisa dijadikan alat komunikasi. Salah satu batok ada yang berbicara. Di ujung tali batok lainnya mendengarkan di telinga
Penonton yang menyaksikan pertunjukan, tak sedikit yang berdecak kagum. Andi Arsya adalah salah satunya. "Gerakannya indah sekali. Memadukan permainan dengan tarian, itu tentu cukup sulit," ungkapnya, ketika dibincangi Radar Banjarmasin, Rabu (28/12) malam itu.
Di penghujung acara, tampil japin carita. Gelaran teater tradisional Kalsel. Judul dan dialognya berbahasa Banjar. Kisahnya sungguh mengocok perut. Gelak tawa kerap terdengar. Di sisi lain, para aktor juga tak segan membawa penonton ke dalam dialog yang dibawakan.
Sederhananya, ada komunikasi yang terjalin. Antara sang aktor dan penonton. Namun, gelak tawa itu tidak sampai ke penghujung kisah. Penampilan teater yang berjudul Luka Di Hati Tabawa (Terbawa, red) Mati itu justru mengangkat kisah berujung pilu.
Diceritakan, seorang pemuda dan seorang gadis diketahui saling mencintai. Sayang, kisah asmara keduanya terganjal restu orang tua si gadis. Belakangan, si gadis justru dijodohkan dengan pemuda lain. Kesal dengan hal itu, sang pemuda pun berniat menculik gadis pujaan hatinya. Sayangnya, ia justru tak sengaja membunuhnya. Hingga upaya itu dipergoki sang ayah gadis itu. Pemuda itu lantas dipukuli hingga meregang nyawa.
Itulah sejumlah penampilan yang dibawakan Himpunan Mahasiswa Program Pendidikan Seni Tari, STKIP PGRI Banjarmasin, malam itu. Pertunjukan itu dinamai Dance Music and Theatre (Damster Art) 2022. Ada satu tema besar yang diangkat. Kembali ke Panggung.
Ketua Pelaksana Kegiatan Damster Art 2022, Nia Jesica menjelaskan gelaran ini adalah upaya mengembalikan seni pertunjukan sebagai media pertemuan antara karya seni dan apresiatornya. "Setelah selama beberapa tahun terakhir lantaran pandemi, seni pertunjukan mengalami peralihan media penyajiannya," jelasnya.
"Kita ketahui, sebelumnya digelar dalam tampilan virtual. Kami merasa, ada terjadi perubahan komunikasi, emosi, antara apresiator dengan pelaku seninya," tekannya.
Dengan mengembalikan pertunjukan pada ruang semestinya, menurutnya akan mengembalikan pula esensi kekuatan seni pertunjukan. "Komunikasi emosional antara karya seni dan apresiatornya pun bisa berjalan secara optimal," tekannya.
Perempuan kuliah di semester V progam pendidikan seni tari itu juga menegaskan bahwa penampilan yang digelar malam itu bukanlah penampilan terakhir. Masih ada penampilan selanjutnya di tahun 2023 mendatang. Tentu dengan ide, konsep, dan persiapan yang lebih matang lagi. "Semoga seni pertunjukan di Banua kita bisa lebih maju lagi," tuntasnya.(war/az/dye) Editor : Arief