Di kalangan masyarakat Kabupaten HSS, istilah yang satu ini tidaklah asing. Ini adalah tradisi turun temurun dalam menyambut Ramadan. Salah satunya, dengan menyembelih ayam atau itik.
Konon, salah satu desa yang melakukan tradisi Mamagang itu, hanya ada di Desa Kayu Abang, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS. Kesanalah Jejak Ramadan di Pelosok Banua edisi kali ini.
Dari Kota Kandangan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten HSS, Desa Kayu Abang berjarak sekitar 12 kilometer. Penulis memilih berangkat ke desa tersebut selepas Ashar.
Salah satu pertimbangan, di pedasaan, sore hari biasa digunakan sebagian warga untuk bersantai. Waktu yang pas untuk melakukan wawancara atau mengulik sebuah kisah. Salah satunya tentang tradisi Mamagang itu.
Pada Jumat (15/4) petang itu, Desa Kayu Abang ramai dengan aktivitas warga. Sejumlah bocah tampak asyik bermain sementara beberapa warga juga nongkrong di depan rumah.
Di Desa Kayu Abang, penulis menemui sejumlah warga yang sedang asyik bersantai. Berbincang di halaman rumah, sembari menunggu waktu berbuka.
"Betul, di sini kami masih melaksanakan yang namanya Mamagang," ucap M Zakaria, warga Desa Kayu Abang di RT 3.
Menurut keterangan Zakaria, tradisi Mamagang yang diiringi dengan menyembelih ayam itu sudah turun temurun dilakukan oleh warga khususnya orang-orang tua terdahulu di desa tersebut.
Hanya saja, lelaki 44 tahun itu mengaku tidak mengetahui makna filosofis dibalik penyembelihan ayam dalam tradisi Mamagang itu."Kami di sini, hanya melakukan kebiasaan yang kami anggap baik, yang pernah dilakukan orang tua terdahulu," ucapnya.
"Yang saya tahu, Mamagang itu istilah dalam menyambut kegembiraan datangnya bulan ramadan. Dan bahwa hari pertama di bulan ramadan itu disebut dengan Mamagang," jelasnya.
Menurut Zakaria, Mamagang hanya dilakukan oleh masing-masing warga. "Jadi, tidak berbarengan. Misalnya, semua warga berkumpul, lalu menyembelih ayam beramai-ramai. Tidak seperti itu," ucapnya.
Di sisi lain, Zakaria juga menjelaskan bahwa sejak dahulu, sebenarnya Desa Kayu Abang adalah desa yang sarat akan cerita-cerita yang mengasyikan.
Hanya saja menurutnya, untuk mencari kisah berikut makna misalnya tentang Mamagang itu, perlu mendengarkannya langsung ke orang-orang tua terdahulu."Tapi sayangnya, sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kebanyakan sudah wafat. Saya pun, hanya dikisahkan dari kakek saya dahulu," tambahnya.
GERBANG DESA: Desa Kayu Abang berada di Kecamatan Angkinang.
Salah satu di antara kisah yang menurutnya tak kalah menarik, adalah tentang penamaan desa itu sendiri. Konon, nama Desa Kayu Abang, menurutnya diambil dari nama satu buah pohon yang berukuran besar berwarna merah."Merahnya, bahkan sampai ke daun-daunnya. Pohon itu hanya tumbuh secara tunggal. Tidak ada pohon serupa itu, di sini," tuturnya.
Ia melanjutkan, ada pun bukti cerita itu, masih ada dan bisa disaksikan hingga kini. Beduk yang berada di masjid Desa Kayu Abang terbuat dari kayu berwarna merah itu. "Dahulu, beduk itu berukuran besar dan cukup panjang. Tapi dipotong jadi dua karena ada yang meminta," ucapnya.
Penasaran, penulis pun mengunjungi masjid di desa tersebut. Namanya, Masjid Al Aqabah. Bentuknya bangunannya tampak modern. Didominasi oleh cat berwarna hijau.
Di situ, penulis bertemu dengan Sabran. Ia adalah kaum atau marbot di masjid tersebut. Kepada penulis, ia membenarkan bahwa bedug itu terbuat dari kayu berwarna merah yang dahulunya pernah tumbuh di Desa Kayu Abang.
Di sisi lain, lelaki 43 tahun itu juga membenarkan bahwa menurut penuturan orang terdahulu, bedug itu bentuknya sangat panjang dan besar."Tapi, kemudian dipotong," ucapnya.
Mengapa bisa dipotong? Dituturkan Sabran, itu lantaran bunyi bedug ketika dipukul bisa terdengar nyaring hingga ke kawasan Nagara di Kabupaten HSS.
Padahal, jarak antara Desa Kayu Abang, hingga ke Nagara yang kini terbagi dalam tiga kecamatan yakni Kecamatan Daha Utara, Barat dan Selatan itu terpaut sejauh puluhan kilometer.
"Dan menurut kisah orang tua terdahulu, potongan bedug masjid ini diminta salah satu panitia masjid di kawasan Nagara itu. Bahkan, masih ada dan dipakai di salah satu masjid di Nagara," tuturnya.
Kembali ke soal Bamagang. Ketika ditanyai penulis tentang hal itu, Sabran membenarkan bahwa Mamagang merupakan bentuk pelafalan tentang hari pertama bulan ramadan.
Hanya saja, menurutnya konotasinya lebih kepada apa yang hendak dimasak atau dihidangkan ketika berbuka."Lauk apa yang disediakan. Lauk apa yang hendak dimasak untuk disantap ketika berbuka," tambahnya.
Seniman sekaligus budayawan di Kabupaten HSS, Aliman Syahrani yang penulis temui menuturkan bahwa Mamagang hanyalah istilah. Tradisi menyembelih ayam pun adalah hal yang wajar dilakukan pada hari pertama Ramadan. Mengingat pada saat hari pertama berbuka puasa, warga tentu menginginkan ada makanan enak yang dihidangkan untuk berbuka.
"Di kawasan pegunungan juga ada istilah Mamagang. Hanya saja tidak ada tradisi khusus. Tapi memang, juga menyediakan lauk istimewa ketika saat berbuka," ucapnya.
Kendati demikian, menurut Aliman, meski hanya sekadar istilah, Mamagang bisa saja menjadi tradisi."Ambil contoh, dilakukan beramai-ramai saat hari pertama bulan ramadan, lalu dinikmati beramai-ramai. Tentu sangat mengasyikkan," jelasnya.
Aliman juga menilai, salah satu pemicu banyaknya tradisi yang tidak diketahui bahkan akhirnya menghilang, lantaran tidak dicatat hingga tidak mendapat perhatian lebih.
"Nah, agar hak itu tidak kemudian hilang, mukai sekarang pihak terkait bisa mendata tradisi apa saja yang ada. Termasuk kalau misalnya ada istilah Mamagang yang diiringi tradisi itu," pungkasnya. (war/by/ran) Editor : Arief