Lebih dua dekade lalu, atau sekitar tahun 2002, Hulu Sungai Utara boleh dikatakan salah satu kabupaten kaya di wilayah Banua Lima. Itu sebelum wilayah Balangan memilih berpisah, dengan mendirikan kabupaten sendiri tahun 2003.
Nah di akhir masa puncak kejayaannya, satu mahakarya telah dibangun di HSU untuk menghadirkan pusat perbelanjaan di wilayah Banua Lima. Plaza Amuntai namanya. Buka setiap hari dari jam buka pukul 10.00 Wita sampai malam.
Namun, pada tahun 2019 lalu, nama plaza harus dihapuskan dari sejarah gedung berlantai tiga plus rooftop tersebut. Kini nama yang disematkan menjadi Pasar Modern Amuntai.
Apakah nama tersebut mampu mengembalikan kilau plaza? Ternyata tidak cukup membantu. Bangunan tersebut tampak sepi. Itu terlihat pada Minggu (21/4) tadi. Memang masih ada aktivitasnya. Namun, tidak seperti dulu lagi.
Dulu Plaza Amuntai dilengkapi Air Conditioner (AC) sentral, eskalator atau tangga berjalan, dan kehadiran tenant sejumlah produk nasional. Sebut saja tenant produsen sepatu dan sendal Bata, Bakmi Tebet waralaba yang cukup terkenal di zamannya, termasuk kehadiran California Fried Chicken (CFC) yang tersohor saat itu sebagai kompetitor KFC atau Kentucky Fried Chicken.
Ini menjadi daya tarik bagi warga pada masa itu. Apalagi bagi warga HSU yang mau ke mal harus menempuh jarak ratusan kilometer. Jadi plaza saat itu hadir sebagai oase kehausan warga akan tempat perbelanjaan yang memberikan rasa nyaman.
Pengamat Kota Amuntai, Gazali Rahman juga menegaskan pesona Plaza Amuntai yang kini sudah tidak lagi bersinar bukan karena kehadiran faktor e-commerce atau toko online. Plaza Amuntai atau telah berubah menjadi Pasar Modern Amuntai sudah lebih dulu kehilangan pesonanya.
Menurut Zali, sapaan akrabnya, semakin masifnya kendaraan pribadi juga ikut andil. Warga lebih memilih untuk menikmati mal ke Banjarmasin setiap weekend atau hari libur. “Pengelolaan yang kurang maksimal membuat plaza di Kota Amuntai ditinggalkan. Tak mampu bersaing dengan mal yang memiliki kenyamanan sebagai lokasi belanja dan nongkrong,” ujar tokoh masyarakat Kelurahan Murung Sari ini.
Menurutnya, dinas yang mengelola plaza ini ada baiknya melakukan pembenahan. Minimal memberikan pelayanan yang nyaman bagi pengunjung. Seperti suasana yang sejuk dalam gedung, dan eskalator berfungsi kembali. “Dulu tangga berjalan dan gedung Plaza Amuntai yang dingin menjadi daya jual. Saat ini tidak berfungsi, maka pengunjung semakin menjauh,” ungkapnya.
Gazali menyarankan pengelolaan pasar modern untuk melakukan pembenahan dengan renovasi semua sarana pendukung. Atau mengundang tenant terkenal untuk berinvestasi di plaza tersebut.
“Bioskop salah satu yang cocok masuk ke HSU. Arena bermain anak kekinian juga bisa menjadi daya tarik orang ke pasar modern,” sarannya.
Terkait kehadiran arena biliar, Zali menilai tidak masalah selama patuh akan aturan. “Sah-sah saja ada arena bola sodok. Selama hanya kepentingan permainan dan olahraga. Bukan lainnya,” ingatnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief