30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 5 February 2023

Pengawasan Kasus PMK Masih Dilanjutkan di Banjarmasin

BANJARMASIN – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sepenuhnya mengalami penurunan. Penyebaran PMK sempat terjadi sejak April hingga September 2022. Kondisi itu meluas ke 24 provinsi dari 38 provinsi di Indonesia. Total kasus kumulatif dalam kurun waktu tersebut, berjumlah sebanyak 517.213 hewan ternak.

Di Provinsi Kalsel, khusus di Banjarmasin, PMK juga sempat ditemukan di tahun 2022 lalu. Hal itu diungkapkan Kabid Peternakan di Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, drh Teuku Inayatsyah. “Pernah ada,” ujarnya, tanpa merincikan berapa banyak hewan ternak yang terpapar ketika ditemui di kantornya, belum lama tadi.

Menurut Inayatsyah, ternak yang terpapar masih bisa mendapatkan perawatan dari dokter hewan selama beberapa hari. Sebelum akhirnya dilakukan pemotongan alias layak dikonsumsi. “Jadi, penyebaran tidak sampai ke mana-mana. Karena itu memang tupoksi kami, untuk menyediakan daging,” tambahnya.

Baca Juga :  Kasus Sapi Sakit Menyebar, Sapi di Desa Bumi Jaya Di-Lockdown

Inayatsyah menegaskan di Banjarmasin tak ada perkembangan kasus PMK lagi. Itu terhitung sejak bulan November 2022 lalu hingga bulan Januari 2023 ini. Sapi yang masuk ke Banjarmasin, misalnya dari Pulau Jawa, kebetulan sudah bervaksin di daerah asalnya. “Apalagi dilakukan pemeriksaan selama tiga hari alias karantina mandiri, sebelum masuk ke Banjarmasin,” tekannya.

Ketika tiba di Banjarmasin, khususnya di Rumah Potong Hewan (RPH), dilanjutkan lagi dengan observasi selama sepekan atau dua pekan. “Sesudah itu, baru pelaku usaha bisa melakukan penyembelihan. Dengan demikian, kami meyakini Kota Banjarmasin tak terkontaminasi PMK sapi dari luar,” tekannya.

Namun, Inayatsyah menyatakan pengawasan terhadap PMK tetap berlanjut. Pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel.

Baca Juga :  Harga Daging Terus Melejit, TPID Kalsel Monitoring Harga Bahan Pokok

Lantas bagaimana dengan pasokan daging di Banjarmasin? Ia bilang bervariatif. Berkisar sebanyak 15 hingga 25 ekor sapi per hari. “Karena ada kasus PMK, dan sapi-sapi luar itu sulit masuk, tentu berkurang pasokannya. Tapi, kita di sini cukup terbantu dengan adanya daging beku yang masuk dari luar,” pungkasnya.(war/az/dye)

BANJARMASIN – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sepenuhnya mengalami penurunan. Penyebaran PMK sempat terjadi sejak April hingga September 2022. Kondisi itu meluas ke 24 provinsi dari 38 provinsi di Indonesia. Total kasus kumulatif dalam kurun waktu tersebut, berjumlah sebanyak 517.213 hewan ternak.

Di Provinsi Kalsel, khusus di Banjarmasin, PMK juga sempat ditemukan di tahun 2022 lalu. Hal itu diungkapkan Kabid Peternakan di Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, drh Teuku Inayatsyah. “Pernah ada,” ujarnya, tanpa merincikan berapa banyak hewan ternak yang terpapar ketika ditemui di kantornya, belum lama tadi.

Menurut Inayatsyah, ternak yang terpapar masih bisa mendapatkan perawatan dari dokter hewan selama beberapa hari. Sebelum akhirnya dilakukan pemotongan alias layak dikonsumsi. “Jadi, penyebaran tidak sampai ke mana-mana. Karena itu memang tupoksi kami, untuk menyediakan daging,” tambahnya.

Baca Juga :  Harga Daging Terus Melejit, TPID Kalsel Monitoring Harga Bahan Pokok

Inayatsyah menegaskan di Banjarmasin tak ada perkembangan kasus PMK lagi. Itu terhitung sejak bulan November 2022 lalu hingga bulan Januari 2023 ini. Sapi yang masuk ke Banjarmasin, misalnya dari Pulau Jawa, kebetulan sudah bervaksin di daerah asalnya. “Apalagi dilakukan pemeriksaan selama tiga hari alias karantina mandiri, sebelum masuk ke Banjarmasin,” tekannya.

Ketika tiba di Banjarmasin, khususnya di Rumah Potong Hewan (RPH), dilanjutkan lagi dengan observasi selama sepekan atau dua pekan. “Sesudah itu, baru pelaku usaha bisa melakukan penyembelihan. Dengan demikian, kami meyakini Kota Banjarmasin tak terkontaminasi PMK sapi dari luar,” tekannya.

Namun, Inayatsyah menyatakan pengawasan terhadap PMK tetap berlanjut. Pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel.

Baca Juga :  Kalsel Andalkan 4 Program Penyangga Pangan IKN

Lantas bagaimana dengan pasokan daging di Banjarmasin? Ia bilang bervariatif. Berkisar sebanyak 15 hingga 25 ekor sapi per hari. “Karena ada kasus PMK, dan sapi-sapi luar itu sulit masuk, tentu berkurang pasokannya. Tapi, kita di sini cukup terbantu dengan adanya daging beku yang masuk dari luar,” pungkasnya.(war/az/dye)

Trending

Haul Guru Sekumpul

Dapatkan update terkini berita tentang Haul ke-18 Guru Sekumpul tahun 2023

Berita Terbaru