alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Jumat, 21 Januari 2022

Pameran Lukisan Sepi Pembeli, Ibnu Memaklumi

BANJARMASIN – Menjual lukisan di Kota Banjarmasin memang susah. Hampir sepekan sejak dibukanya pameran tunggal, lukisan karya Nanang Muhammad Yusran di Bengkel Lukis Sholihin, tak kunjung menemukan pembeli.

“Belum, belum ada yang membeli,” ungkap perupa yang akrab disapa M Yus itu, kemarin (13/1).

“Sebenarnya yang tertarik banyak. Tapi, yang menyatakan langsung untuk mengambil belum ada,” tambah pria 76 tahun itu.

Tapi ia tak terkejut. Sejak dulu, lukisan bukan barang laku di sini. Salah satu faktor adalah masyarakat yang religius. “Banyak yang masih memahami melukis makhluk hidup itu terlarang. Saya bisa memakluminya,” tuturnya.

Persoalan lain, lantaran lukisan dianggap sebuah karya seni yang mahal. Maka banyak yang gentar menawarnya. “Pelukis tentu menaruh harga tinggi. Sesuai dengan jerih payahnya,” tukasnya.

“Tapi, perlu diperhatikan, mahal bagi warga kita, belum tentu mahal bagi warga daerah lain. Bisa jadi karya saya murah sekali di daerah lain. Jadi, semuanya saya pikir ada tempatnya,” tekannya.

Baca Juga :  Dari Pemutaran Film Ibnu-Silah: Contoh Sukses Pasangan Antipacaran

Sisi lain, kemarin petang, pameran di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry itu dikunjungi Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Lantas, apakah ada lukisan yang dibelinya? Ibnu mengaku ada lukisan yang membuatnya tertarik untuk memiliki.

“Yang realis ada, yang abstrak ada. Nanti pada saatnya akan saya sampaikan. Karena yang lain kan ingin melihat juga. Nanti malah ditulis sold out,” ucapnya lantas tertawa.

“Yang membuat saya tertarik, Pak Nanang merekam imajinasi dan potret suasana dengan sangat baik. Beliau juga menggambarkan zamannya dengan baik. Misalkan lukisan yang berjudul Melinggang itu,” ungkapnya.

Lantas apakah ada apresiasi lain? Ibnu menjawab, pemko sudah rutin memberikan penghargaan kepada pelaku seni budaya.

“Ada 10 orang dari semua cabang seni. Bergantian. Tidak hanya seniman yang masih hidup, juga yang sudah wafat bisa diberikan penghargaan,” tambahnya.

Baca Juga :  Dari Pameran Lukisan di Taman Budaya: Berjuang Demi Perupa Muda

Disinggung terkait usulan pembangunan gedung kesenian sendiri atau galeri, Ibnu tampak masih pikir-pikir. Padahal ia pernah mengemukakannya pada tahun 2017 lalu.

Alasannya, masih pandemi covid. “Segala sesuatu yang sudah direncanakan menjadi tak fokus lagi. Semua dialihkan ke penanganan pandemi,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurut Ibnu, tahun ini setidaknya akan ada pembangunan panggung pertunjukan.
“Lokasinya tak jauh dari rumah anno (Siring Pierre Tendean. Jadi nanti bisa diisi untuk pertunjukan apapun. Wayang Kulit misalnya,” jelasnya.

Selama tak ada galeri, ia menyilakan perupa menggunakan Rumah Anno 1925 di samping Menara Pandang untuk tempat berpameran. Atau memakai lantai dua Menara Pandang.

“Jadi, silakan jadwalkan kalau mau dipakai. Paling tidak, itu dulu yang bisa kami lakukan,” pungkasnya. (war/at/fud)

BANJARMASIN – Menjual lukisan di Kota Banjarmasin memang susah. Hampir sepekan sejak dibukanya pameran tunggal, lukisan karya Nanang Muhammad Yusran di Bengkel Lukis Sholihin, tak kunjung menemukan pembeli.

“Belum, belum ada yang membeli,” ungkap perupa yang akrab disapa M Yus itu, kemarin (13/1).

“Sebenarnya yang tertarik banyak. Tapi, yang menyatakan langsung untuk mengambil belum ada,” tambah pria 76 tahun itu.

Tapi ia tak terkejut. Sejak dulu, lukisan bukan barang laku di sini. Salah satu faktor adalah masyarakat yang religius. “Banyak yang masih memahami melukis makhluk hidup itu terlarang. Saya bisa memakluminya,” tuturnya.

Persoalan lain, lantaran lukisan dianggap sebuah karya seni yang mahal. Maka banyak yang gentar menawarnya. “Pelukis tentu menaruh harga tinggi. Sesuai dengan jerih payahnya,” tukasnya.

“Tapi, perlu diperhatikan, mahal bagi warga kita, belum tentu mahal bagi warga daerah lain. Bisa jadi karya saya murah sekali di daerah lain. Jadi, semuanya saya pikir ada tempatnya,” tekannya.

Baca Juga :  Sempat Vakum Karena Pandemi, Siap Gebrak lagi Pencinta Musik Rock

Sisi lain, kemarin petang, pameran di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry itu dikunjungi Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Lantas, apakah ada lukisan yang dibelinya? Ibnu mengaku ada lukisan yang membuatnya tertarik untuk memiliki.

“Yang realis ada, yang abstrak ada. Nanti pada saatnya akan saya sampaikan. Karena yang lain kan ingin melihat juga. Nanti malah ditulis sold out,” ucapnya lantas tertawa.

“Yang membuat saya tertarik, Pak Nanang merekam imajinasi dan potret suasana dengan sangat baik. Beliau juga menggambarkan zamannya dengan baik. Misalkan lukisan yang berjudul Melinggang itu,” ungkapnya.

Lantas apakah ada apresiasi lain? Ibnu menjawab, pemko sudah rutin memberikan penghargaan kepada pelaku seni budaya.

“Ada 10 orang dari semua cabang seni. Bergantian. Tidak hanya seniman yang masih hidup, juga yang sudah wafat bisa diberikan penghargaan,” tambahnya.

Baca Juga :  Dari Pameran Lukisan di Taman Budaya: Berjuang Demi Perupa Muda

Disinggung terkait usulan pembangunan gedung kesenian sendiri atau galeri, Ibnu tampak masih pikir-pikir. Padahal ia pernah mengemukakannya pada tahun 2017 lalu.

Alasannya, masih pandemi covid. “Segala sesuatu yang sudah direncanakan menjadi tak fokus lagi. Semua dialihkan ke penanganan pandemi,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurut Ibnu, tahun ini setidaknya akan ada pembangunan panggung pertunjukan.
“Lokasinya tak jauh dari rumah anno (Siring Pierre Tendean. Jadi nanti bisa diisi untuk pertunjukan apapun. Wayang Kulit misalnya,” jelasnya.

Selama tak ada galeri, ia menyilakan perupa menggunakan Rumah Anno 1925 di samping Menara Pandang untuk tempat berpameran. Atau memakai lantai dua Menara Pandang.

“Jadi, silakan jadwalkan kalau mau dipakai. Paling tidak, itu dulu yang bisa kami lakukan,” pungkasnya. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru