alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Jumat, 21 Januari 2022

Emak-Emak Mulai Menjerit, Minyak Goreng Sampai Cabe Rawit Meroket

BANJARBARU – Sejumlah harga bahan pokok penting (Bapokting) meroket di pasaran termasuk di Banjarbaru. Bahkan, seperti Minyak Goreng dan Cabai Rawit kenaikan ada yang mencapai 100 persen.

Dari sejumlah pantauan, harga minyak goreng kemasan yang semula dijual di kisaran 11-13 ribu rupiah perliter kini melonjak mencapai Rp22 ribu. Harga ini mayoritas terjadi di seluruh pedagang bapokting di pasar.

Tak hanya minyak goreng yang naik sangat banyak. Bapokting lain semisal gula pasir, telur, cabai rawit serta ayam ras juga ikut melambung. Bahkan, cabai juga mengalami kenaikan sangat tinggi.

Baca dulu: La Nina Bikin Minyak Goreng Mahal

Misalnya dari sejumlah harga yang dijual pedagang, untuk gula pasir ada mengalami kenaikan sekitar 2000-3000 rupiah perkilonya. Sementara untuk cabai rawit dari yang semula normalnya 60 ribu rupiah perkilo kini nyaris dua kali lipatnya.

“Kalau seperti gula, ayam ras itu naiknya 2000-3000 rupiah. Nah cabai (rawit) dan minyak goreng ini yang melambung sekali, kita terpaksa menjual hampir dua kali lipatnya,” ujar Ibnu pedagang Sembako di Pasar Bauntung Banjarbaru.

Ibnu sendiri mengaku cukup heran kenapa ada kenaikan yang signifikan. Ia pun khawatir kalau kenaikan ini berdampak dengan daya beli masyarakat. Terlebih katanya kondisi pasar saat ini juga masih tergolong belum ramai.

“Kita berharap agar tidak ada lagi kenaikan harga ini. Semoga pemerintah bisa menormalkan kembali harga ini, kalaupun naik jangan sampai tinggi sekali,” harapnya.

Baca Juga :  CSR Kurang, ASN Diminta Menyumbang

Tak hanya dikeluhkan pedagang, pembeli atau konsumen juga menjerit khususnya para ibu-ibu ataupun mereka yang punya usaha warung maupun rumah makan.

Nida misalnya, warga Karang Anyar 1 ini mengaku kaget dengan kenaikan harga Minyak Goreng yang sangat melambung. Ia pun mengaku terpaksa berhemat menggunakan minyak goreng untuk keperluan makan rumah tangganya.

“Naiknya kebangetan ya menurut saya, dua kali lipat perliternya. Kalau begini terus ya sulit, apalagi kalau seperti kita pendapatan pas pandemi seperti ini juga turun naik,” gerutunya.

Selain Nida, Fatia yang juga punya usaha rumah makan mengaku harus memutar otak mengakali kenaikan minyak goreng dan cabai rawit. Sebab, dua bapokting ini katanya sangat vital dalam menu jualannya.

“Kalau saya naikkan harga menu makanannya takut pembeli kabur sedangkan kalau tetap dengan harga yang ada saya malah nombok. Jadi mau tak mau saya harus menyesuaikan porsinya,” katanya.

Baik Nida atau Fatia meminta agar pemerintah bisa menyikapi kondisi ini. Sebab bagi mereka jika
dibiarkan akan sangat terasa terhadap usaha ataupun kehidupan sehari-hari.

“Ya di pemerintahan kan orangnya pintar-pintar, harusnya adalah solusi atau caranya, atau ada subsidi gitu biar masyarakat tak menjerit dan jadi korbannya,” wakil Nida.

Baca dulu: La Nina Bikin Minyak Goreng Mahal

Sementara secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Banjarbaru, Abdul Basid tak menampik ada kenaikan ini. Disebutnya, kenaikan ini bersifat nasional, tak hanya di Banjarbaru atau Kalsel saja.

Baca Juga :  La Nina Bikin Minyak Goreng Mahal

“Ini fenomena yang terjadi secara nasional, tidak hanya di daerah kita saja. Untuk di Banjarbaru kenaikannya juga kurang lebih sama saja dengan daerah lain, termasuk item-itemnya yang naik,” konfirmasinya kemarin.

Untuk langkah atau sikap yang diambil, Basid mengklim pihaknya terus melakukan pemantauan harga di pasaran. Khususnya di dua pasar besar seperti Pasar Bauntung dan Pasar Ulin Raya.

“Sekarang kita juga fokus untuk memastikan ketersediaan stok bapokting ini, jangan sampai terjadi kelangkaan. Untuk sekarang stok kita aman, tapi memang kenaikan ini bersifat menyeluruh,” katanya.

Lantas apa sebetulnya pemicu kenaikan harga ini? Basid menjawab jika dari informasi yang ia terima, kenaikan ini dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari faktor alam atau cuaca hingga kenaikan harga bahan baku di level nasional maupun internasional.

“Karena kita di Banjarbaru ini kan sifatnya menunggu distribusi dari luar daerah atau pulau, misal dari Jawa atau Sulawesi. Kita ketahui juga semisal minyak itu bahwa minyak sawit dunia kan juga sedang naik,” katanya.

Hari ini ( 14/1) Disdag Banjarbaru kata Basid bersama dengan Disdag dari seluruh kab/kota di Kalsel akan menggelar rapat koordinasi di Disdag Provinsi Kalsel untuk menyikapi kenaikan ini.

“Nanti kalau sudah ada hasilnya dan bagaimana arah kebijakanya akan saya informasikan lagi,” tuntasnya menjawab. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Sejumlah harga bahan pokok penting (Bapokting) meroket di pasaran termasuk di Banjarbaru. Bahkan, seperti Minyak Goreng dan Cabai Rawit kenaikan ada yang mencapai 100 persen.

Dari sejumlah pantauan, harga minyak goreng kemasan yang semula dijual di kisaran 11-13 ribu rupiah perliter kini melonjak mencapai Rp22 ribu. Harga ini mayoritas terjadi di seluruh pedagang bapokting di pasar.

Tak hanya minyak goreng yang naik sangat banyak. Bapokting lain semisal gula pasir, telur, cabai rawit serta ayam ras juga ikut melambung. Bahkan, cabai juga mengalami kenaikan sangat tinggi.

Baca dulu: La Nina Bikin Minyak Goreng Mahal

Misalnya dari sejumlah harga yang dijual pedagang, untuk gula pasir ada mengalami kenaikan sekitar 2000-3000 rupiah perkilonya. Sementara untuk cabai rawit dari yang semula normalnya 60 ribu rupiah perkilo kini nyaris dua kali lipatnya.

“Kalau seperti gula, ayam ras itu naiknya 2000-3000 rupiah. Nah cabai (rawit) dan minyak goreng ini yang melambung sekali, kita terpaksa menjual hampir dua kali lipatnya,” ujar Ibnu pedagang Sembako di Pasar Bauntung Banjarbaru.

Ibnu sendiri mengaku cukup heran kenapa ada kenaikan yang signifikan. Ia pun khawatir kalau kenaikan ini berdampak dengan daya beli masyarakat. Terlebih katanya kondisi pasar saat ini juga masih tergolong belum ramai.

“Kita berharap agar tidak ada lagi kenaikan harga ini. Semoga pemerintah bisa menormalkan kembali harga ini, kalaupun naik jangan sampai tinggi sekali,” harapnya.

Baca Juga :  La Nina Bikin Minyak Goreng Mahal

Tak hanya dikeluhkan pedagang, pembeli atau konsumen juga menjerit khususnya para ibu-ibu ataupun mereka yang punya usaha warung maupun rumah makan.

Nida misalnya, warga Karang Anyar 1 ini mengaku kaget dengan kenaikan harga Minyak Goreng yang sangat melambung. Ia pun mengaku terpaksa berhemat menggunakan minyak goreng untuk keperluan makan rumah tangganya.

“Naiknya kebangetan ya menurut saya, dua kali lipat perliternya. Kalau begini terus ya sulit, apalagi kalau seperti kita pendapatan pas pandemi seperti ini juga turun naik,” gerutunya.

Selain Nida, Fatia yang juga punya usaha rumah makan mengaku harus memutar otak mengakali kenaikan minyak goreng dan cabai rawit. Sebab, dua bapokting ini katanya sangat vital dalam menu jualannya.

“Kalau saya naikkan harga menu makanannya takut pembeli kabur sedangkan kalau tetap dengan harga yang ada saya malah nombok. Jadi mau tak mau saya harus menyesuaikan porsinya,” katanya.

Baik Nida atau Fatia meminta agar pemerintah bisa menyikapi kondisi ini. Sebab bagi mereka jika
dibiarkan akan sangat terasa terhadap usaha ataupun kehidupan sehari-hari.

“Ya di pemerintahan kan orangnya pintar-pintar, harusnya adalah solusi atau caranya, atau ada subsidi gitu biar masyarakat tak menjerit dan jadi korbannya,” wakil Nida.

Baca dulu: La Nina Bikin Minyak Goreng Mahal

Sementara secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Banjarbaru, Abdul Basid tak menampik ada kenaikan ini. Disebutnya, kenaikan ini bersifat nasional, tak hanya di Banjarbaru atau Kalsel saja.

Baca Juga :  CSR Kurang, ASN Diminta Menyumbang

“Ini fenomena yang terjadi secara nasional, tidak hanya di daerah kita saja. Untuk di Banjarbaru kenaikannya juga kurang lebih sama saja dengan daerah lain, termasuk item-itemnya yang naik,” konfirmasinya kemarin.

Untuk langkah atau sikap yang diambil, Basid mengklim pihaknya terus melakukan pemantauan harga di pasaran. Khususnya di dua pasar besar seperti Pasar Bauntung dan Pasar Ulin Raya.

“Sekarang kita juga fokus untuk memastikan ketersediaan stok bapokting ini, jangan sampai terjadi kelangkaan. Untuk sekarang stok kita aman, tapi memang kenaikan ini bersifat menyeluruh,” katanya.

Lantas apa sebetulnya pemicu kenaikan harga ini? Basid menjawab jika dari informasi yang ia terima, kenaikan ini dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari faktor alam atau cuaca hingga kenaikan harga bahan baku di level nasional maupun internasional.

“Karena kita di Banjarbaru ini kan sifatnya menunggu distribusi dari luar daerah atau pulau, misal dari Jawa atau Sulawesi. Kita ketahui juga semisal minyak itu bahwa minyak sawit dunia kan juga sedang naik,” katanya.

Hari ini ( 14/1) Disdag Banjarbaru kata Basid bersama dengan Disdag dari seluruh kab/kota di Kalsel akan menggelar rapat koordinasi di Disdag Provinsi Kalsel untuk menyikapi kenaikan ini.

“Nanti kalau sudah ada hasilnya dan bagaimana arah kebijakanya akan saya informasikan lagi,” tuntasnya menjawab. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru