Di Amuntai, pilihan itu mengalir ke satu arah yakni Jalan Bypass Amuntai atau Jalan H. Fakhruddin, ruas lingkar utara sepanjang hampir empat kilometer yang mendadak menjadi magnet ribuan pengunjung.
Sejak pagi hingga menjelang senja, jalan ini tak sekadar dilalui kendaraan. Ia berubah menjadi ruang publik terbuka, tempat keluarga berjalan santai, remaja berfoto, hingga para perantau melepas rindu kampung halaman.
Di kiri-kanan, hamparan rawa terbentang luas, menghadirkan lanskap air yang tenang dan eksotis dan seolah memantulkan suasana yang begitu hangat.
Tidak ada tiket masuk, tidak pula pungutan. Pengunjung datang dan pergi dengan bebas. Yang terdengar justru suara canda, deru kendaraan yang melambat, dan sesekali tawaran dari pedagang kaki lima yang menjajakan aneka kuliner.
Aroma jajanan tradisional berpadu dengan angin rawa, menciptakan pengalaman liburan yang sederhana, tetapi membekas.
“Saya sengaja ke sini karena ramai di media sosial. Ternyata memang indah, apalagi saat sore hari. Anak-anak juga senang karena bisa jalan-jalan tanpa harus jauh,” ujar Nata, salah satu pengunjung di jalan viral tersebut.
Fenomena ini tak luput dari perhatian pemerintah daerah. Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Hulu Sungai Utara, Asikin Noor, mengingatkan agar euforia liburan tetap diiringi tanggung jawab bersama.
“Masyarakat yang datang hendaknya menjaga keamanan, kenyamanan, dan kebersihan di kawasan ini,” ujarnya, Selasa (24/4/2026).
Ia juga menegaskan kepada para pedagang agar tidak mendirikan lapak permanen di tepi jalan. Selain mengganggu ketertiban, hal tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Setelah berjualan, lapak harus dibongkar dan dibawa pulang. Jika diabaikan, tentu akan ada sanksi sesuai Perda ketertiban umum,” tegasnya.
Di tengah hiruk-pikuk libur lebaran, Jalan Bypass Amuntai menghadirkan wajah lain dari perayaan yang tidak mewah, tetapi penuh makna, sebab kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal yang sederhana.
Editor : Sutrisno